Akuarium Rania

Muhammad Sapril
Chapter #33

Diet Hambar

Bulan kedua di Dinas Kominfo, aku menyadari satu kebenaran yang mengerikan tentang diriku sendiri: kedamaian ternyata sangat membosankan.

Kehidupanku di bawah komando Bu Ratna berjalan dengan ritme yang terlalu sehat. Masuk jam delapan pagi, fokus mengolah database sektoral, istirahat jam dua belas, dan pulang tepat waktu jam empat sore. Tidak ada drama. Tidak ada pesan WhatsApp rahasia di tengah malam. Tidak ada tatapan penuh arti di lorong kantor.

Bu Ratna adalah atasan yang adil dan efisien. Dia tidak butuh divalidasi, tidak butuh dipuja, dan karenanya, dia tidak meninggalkan ruang bagiku untuk bermanuver mencari perhatian. Aku murni dinilai dari seberapa bersih coding dan visualisasi data yang kubuat.

Secara logika, ini adalah surga bagi seorang ASN. Tapi secara emosional, sistem sarafku sedang kelaparan. Aku sakau.

"Lo tuh pucat banget tau nggak, Ra? Kayak kurang darah," komentar Dian suatu siang saat kami bertiga---aku, Dian, dan Widya---makan siang di pujasera dekat kantor Bupati.

"Gue sehat, Di. Cuma kurang tidur aja," elakku sambil mengaduk es jeruk.

Aku teringat dihari kedua ku di Kominfo. Dua orang perempuan datang ke ruangan satu dari BKD, satu lagi psikolog rekanan pemda. Psikolog, bukan psikiater. Mereka mendapat tugas memastikan kesehatan mentalku baik-baik saja setelah mengalami kondisi 'kekerasan psikis' di lingkungan kerja.

Apa yang mereka lakukan? Hanya menginterogasiku dengan beberapa lembar formulir isian pertanyaan. Seperti, "Apakah Saudari merasa lingkungan kerja sudah aman? Apakah ada trauma?" Seriously?

Jelaslah gue jawab sombong, "Saya baik-baik saja, siap bekerja profesional." waktu itu, aku merasa sehat. Sangat sehat. Jiwa dan raga. Tapi orang lain ternyata punya pandangan berbeda.

"Kurang tidur apa kurang tantangan?" tembak Widya dengan keterusterangannya yang khas. "Denger ya, Ra. Lo itu lagi masa recovery. Tubuh lo lagi detoks dari racun Bappeda. Makanya lo butuh nutrisi yang normal-normal aja."

Widya mencondongkan tubuhnya ke depan. "Reza masih sering nanyain lo ke gue. Dia baik, Ra. Seiman, seumuran, PNS juga. Mapan, masa depan jelas. Lo kasih dia kesempatan napa, sih? Belajar hidup normal."

Aku menatap es batu di gelasku yang perlahan mencair. Hidup normal.

Mungkin Widya benar. Mungkin aku hanya butuh rutinitas orang pacaran pada umumnya untuk menambal lubang yang ditinggalkan Zarimuddin.

Maka, akhir pekan itu, aku membiarkan diriku membalas pesan Reza. Aku mengiyakan ajakannya untuk menonton bioskop dan makan malam.

Sabtu malam, Reza menjemputku di kosan dengan motor v-ixion miliknya. Dia memakai kemeja flanel kotak-kotak yang rapi, wangi parfum supermarket yang segar, dan membawa helm ganda. Senyumnya sumringah, memancarkan antusiasme seorang pria baik-baik yang akhirnya berhasil mengajak jalan perempuan yang ia sukai sejak lama.

Kami menonton film superhero Marvel terbaru. Di dalam bioskop, Reza membelikan popcorn karamel ukuran besar dan tertawa terbahak-bahak melihat adegan aksi komedi di layar. Sesekali ia menoleh ke arahku, memastikan aku ikut menikmati filmnya.

Aku tersenyum membalasnya. Tapi di dalam kepalaku, layarnya mati.

Pikiranku melayang ke obrolan jam dua pagi via Zoom berbulan-bulan yang lalu. Ke diskusi tentang Stoikisme dan Marcus Aurelius. Ke tegangan yang mencekik saat Zarimuddin menatapku dan berkata, "Kamu adalah perpanjangan jiwa saya."

Dibandingkan dengan adrenalin murni itu, lelucon Reza tentang CGI film Marvel terasa sangat... dangkal.

Setelah bioskop, kami makan di warung bakso pinggir jalan favoritnya.

"Tadi lucu banget pas adegan si villain-nya kepentok tameng sendiri," kata Reza sambil menuangkan sambal ke mangkuknya. "Kamu suka nggak filmnya, Nia?"

Lihat selengkapnya