Akuarium Rania

Muhammad Sapril
Chapter #34

Kurir Candu dan Titik Ledak

Dimas Aryasatya adalah definisi dari apa yang orang-orang sebut sebagai Green Flag berjalan.

Dia matang, tenang, dan cara kerjanya sangat terstruktur. Tidak butuh waktu lama sejak diskusi kami di kantin hari itu untuk membuat kami dekat. Dimas menghargaiku sebagai seorang analis. Kencan kami tidak dihabiskan dengan menonton film pahlawan super atau makan bakso pinggir jalan seperti saat bersama Reza. Kami menghabiskannya di kedai kopi sunyi, membedah blueprint portal Satu Data, mendiskusikan kelemahan birokrasi, dan berbagi referensi buku.

Secara logika, Dimas adalah pasangan yang sempurna. Dia adalah versi sehat dari apa yang kutemukan pada Zarimuddin.

Namun, ada satu masalah besar: Dimas terlalu sehat.

Hubungan kami berjalan tanpa riak. Dia tidak pernah membatalkan janji secara mendadak. Dia selalu mengabariku. Dia tidak punya istri yang harus disembunyikan, dan tidak ada ancaman karier yang mengintai di balik kedekatan kami. Semuanya aman. Stabil.

Dan bagi sistem sarafku yang sudah terbiasa menelan kekacauan dan ketegangan dosis tinggi dari Zarimuddin, kestabilan Dimas terasa seperti... kematian.

Memasuki bulan kedua kedekatan kami, aku mulai sakau. Aku gelisah. Aku butuh pertengkaran. Aku butuh ketegangan. Karena tanpa rasa takut kehilangan, aku merasa tidak sedang hidup.

Maka, aku mulai merakit kekacauan buatan.

Aku tiba-tiba membalas pesannya dengan sangat dingin tanpa alasan. Aku membatalkan janji makan malam di menit-menit terakhir hanya dengan alasan "lagi moody". Aku bahkan sengaja mengunggah lagu-lagu patah hati di Instagram Story, hanya untuk memancing reaksinya.

Dimas, yang sama sekali tidak tahu sejarah gelapku di Bappeda, mengambil kesimpulan yang salah. Dia mengira aku belum move on dari Reza. Dia mengira aku menyesal telah mencampakkan pria baik-baik itu.

Namun, ada satu momen di mana aku tiba-tiba menjadi pacar yang paling penuh perhatian di dunia. Yaitu, ketika Dimas membawa kabar dari gedung lamaku.

"Tadi siang aku ada rapat koordinasi teknis di Bappeda," kata Dimas suatu sore, saat kami sedang makan di sebuah restoran seafood.

Tanganku yang sedang memegang garpu seketika berhenti. Mataku, yang sejak tadi menatap piring dengan malas, mendadak berbinar. Urat nadiku yang mati rasa kembali berdenyut keras.

"Oh ya?" tanyaku, mencondongkan tubuh ke depan, tak bisa menyembunyikan antusiasme. "Sama siapa aja? Bahas apa?"

"Bahas integrasi server. Pak Zarimuddin yang memimpin," jawab Dimas sambil tersenyum, senang melihatku tiba-tiba bersemangat. "Gila ya, konsep Pak Zar itu. Beliau memang visioner. Jarang ada pejabat daerah yang paham tata kelola data se-komprehensif beliau. Sayang aja birokrasi kita lambat ngejarnya."

Aku menelan ludah, lidahku mengecap rasa manis yang memabukkan dari nama itu. "Beliau bilang apa aja? Kelihatan sehat?"

"Sehat, tapi agak kurusan sih kelihatannya. Tadi beliau nanya detail banget soal skema API kita..."

Dan begitulah polanya terbentuk.

Dimas mengira aku antusias dengan obrolan "kerjaan" dan "intelektual". Dia merasa kami sangat terkoneksi. Padahal realitanya sangat menjijikkan: aku sedang mengisap darah dari cerita Dimas. Aku menggunakan pria baik ini sebagai kurir pribadiku untuk mendapatkan suplai candu tentang Zarimuddin tanpa perlu terlihat mencari tahu.

Aku adalah parasit, dan Dimas adalah inangku.

Lihat selengkapnya