Akuarium Rania

Muhammad Sapril
Chapter #35

Remuk yang Lembut

Keesokan paginya, aku menyeret kakiku masuk ke gedung Kominfo seperti mayat hidup. Semalaman aku tidak tidur. Ucapan Dimas di dalam mobil itu terus bergema di kepalaku, menelanjangiku hingga ke lapis terdalam.

Kamu sakit, Nia. Jangan libatkan orang sehat di dalam penyakitmu.

Saat aku melewati area kubikel Bidang Aplikasi Informatika, aku melihat Dimas sedang berdiri di dekat mesin fotokopi. Mata kami bertemu sesaat. Pria itu tidak membuang muka dengan marah, tidak juga menyapa. Dia menatapku dengan ekspresi datar yang kosong, lalu kembali fokus pada kertas-kertasnya.

Tatapan itu membunuhku. Itu adalah tatapan orang sehat yang sedang menghindari pasien karantina. Sekilas ingatan tentang suatu malam bersama Dimas menohokku ketika mengantarku pulang ke kos. Malam itu Hujan turun deras, menghantam kaca depan mobil HR-V milik Dimas. Mesin menyala, tapi mobil itu terparkir diam di depan pagar kosanku. Suasana di dalam kabin terasa tebal. Aku baru saja membatalkan janji liburan akhir pekan kami yang lain dengan alasan "ingin sendirian di kamar", namun Dimas tidak langsung marah. Pria ini terlalu sehat, terlalu sabar.

Ia mematikan musik di head unit, lalu mencondongkan tubuhnya ke arahku. Tangannya yang hangat menyusuri rahangku, lalu perlahan membelai tengkukku yang berbalut hijab. Napasnya yang berbau peppermint memburu saat ia mendekatkan wajahnya.

Aku memejamkan mata. Tubuhku bereaksi. Tentu saja bereaksi. Daging dan darahku menuntut pelepasan, dan Dimas dengan segala stabilitas mentalnya adalah medium stress-relief yang sangat fungsional. Aku melepaskan desahan pelan saat bibir kami bertemu, sebuah kompensasi mekanis palsu untuk menyuap ego maskulin pria di hadapanku ini. Aku butuh pelepasan fisik ini sekadar agar aku bisa tidur nyenyak malam ini.

Tapi di balik mataku yang terpejam, aku tidak sedang berada di mobil ini. Jiwaku melakukan disosiasi yang brutal.

Sentuhan Dimas di pinggangku terasa hambar, karena otakku sedang memutar ulang percakapan jam dua pagi bersama Zarimuddin. Saat Dimas membisikkan namaku, telingaku justru mendengar bariton Zarimuddin yang sedang membedah filosofi Marcus Aurelius. Aku mengeksploitasi tubuh Dimas. Pria malang ini mengira ia sedang menyentuh hatiku, padahal aku hanya meminjamkan dagingku.

Kedaulatan eksistensiku, seluruh intelektualitas dan hasratku yang paling gelap, sudah kuserahkan sepenuhnya pada pria paruh baya yang bahkan tidak pernah menyentuh ujung jariku. Dimas hanyalah ruang uji coba yang memvalidasi bahwa aku memang sudah rusak dan tidak bisa lagi berfungsi di ekosistem manusia normal.

Dimas menarik wajahnya perlahan. Ia menatapku, dan dari jarak sedekat ini, aku tahu dia bisa melihat kekosongan di mataku. Kesabarannya akhirnya habis.

"Aku capek, Nia," suara Dimas berat, memendam frustrasi yang tertahan berbulan-bulan. Tangan kanannya mundur dan mencengkeram setir. "Kamu ada di sini fisiknya, tapi pikiranmu ke mana?"... Lalu kejadian semalam.

Aku duduk di mejaku dengan kepala berdenyut hebat. Layar monitor memancarkan cahaya biru yang menyilaukan mata. Aku baru saja akan membuka database ketika interkom di mejaku berbunyi.

"Rania. Ke ruangan saya sekarang."

Suara Bu Ratna. Berat, serak, dan tanpa basa-basi.

Aku menarik napas panjang. Aku tahu penampilanku hari ini berantakan. Kantung mataku menghitam, wajahku pucat tanpa riasan, dan hijabku pasti terlihat tidak serapi biasanya. Bu Ratna, sang Iron Lady yang menuntut kesempurnaan, pasti akan menghabisiku pagi ini karena membawa masalah personal ke ruang kerja.

Aku mengetuk pintu ruangannya dan melangkah masuk.

Bu Ratna sedang berdiri di dekat jendela, menyeduh teh chamomile dari teko kaca kecilnya. Dia tidak langsung berbalik.

"Tutup pintunya, Rania," titahnya pelan.

Aku memutar kenop pintu. Bunyi klik pelan terdengar.

Bu Ratna berbalik. Dia membawa dua cangkir teh hangat. Satu diletakkannya di mejanya sendiri, dan satu lagi di dorongnya ke seberang meja, tepat di depanku.

Aku mengerutkan kening. Teh?

"Duduk," katanya. Nada suaranya tidak tajam seperti biasanya. Ada kelembutan aneh yang justru membuatku semakin waspada.

Aku duduk kaku di kursi tamu.

Bu Ratna menatapku lekat-lekat dari balik kacamata bingkai tegasnya. Dia tidak melihat laporanku. Dia melihat wajahku. Matanya yang biasa berfungsi seperti mesin X-Ray pendeteksi kebohongan itu, kini meredup, menyiratkan pemahaman yang dalam.

Lihat selengkapnya