Akuarium Rania

Muhammad Sapril
Chapter #36

Ruang Bedah Pikiran

Sudah seminggu berlalu sejak Dimas mengusirku dari mobilnya di tengah hujan.

Suasana di Dinas Kominfo terasa mencekik. Dimas memang tidak memindahkan mejanya ke lantai lain, tetapi dinding tak kasat mata yang ia bangun di sekelilingnya terasa lebih tebal dari partisi beton mana pun. Dia bersikap sopan, mekanis, dan sama sekali tidak bisa ditembus.

Jumat sore itu, setelah apel mingguan, aku menyudutkannya di dekat pantry yang kosong. Aku sudah menyiapkan wajah penyesalan terbaikku. Mataku sedikit berkaca-kaca, suaraku lembut dan bergetar. Kombinasi persis yang biasanya membuat Zarimuddin atau Reza bertekuk lutut.

"Dimas, bisa kita bicara sebentar?" tanyaku, menunduk menatap sepatuku. "Aku cuma mau minta maaf. Secara pantas. Kondisiku benar-benar sedang kacau kemarin, dan aku melampiaskannya padamu. Aku rindu diskusi kita. Bisakah kita... mencoba memperbaiki ini?"

Dimas selesai membilas mugnya. Ia menoleh padaku. Tidak ada kemarahan di matanya, tapi sama sekali tidak ada kehangatan juga.

"Aku menghargai permintaan maafmu, Nia," kata Dimas, suaranya sedatar mesin. "Aku memaafkanmu."

Secercah harapan menyala di dadaku. "Jadi kita bisa-"

"Tapi ketenangan pikiranku jauh lebih penting daripada memperbaiki sesuatu yang dibangun di atas kebohongan," potong Dimas dengan elegan, namun tegas. Ia mengeringkan tangannya dengan tisu. "Kamu analis yang brilian, Rania. Tapi kamu belum siap untuk hubungan yang nyata. Mari kita jaga ini tetap profesional murni. Sampai jumpa di rapat koordinasi."

Dimas melangkah pergi, meninggalkanku berdiri sendirian di dekat wastafel. Orang ini, perfect. Tidak ada kata lain yang lebih cocok untuknya. Well, at least aku sudah mencoba, dan gagal.

Rasanya seperti sebuah tamparan. Tamparan yang bersih dan telak. Air mataku, postur rapuhku---tak satu pun berhasil pada pria yang benar-benar menghargai martabatnya sendiri. Aku tidak bisa memanipulasinya. Dan penolakan itulah yang akhirnya mendorongku untuk menghubungi nomor di kartu nama yang diberikan Bu Ratna.


Klinik Psikologi Larasati terletak di sebuah ruko dua lantai yang tenang di pinggiran Tanjungpandan, jauh dari pusat pemerintahan. Ruang tunggunya ber-AC sejuk, beraroma peppermint yang samar, dan memutar instrumen piano klasik dengan volume rendah.

Ini adalah tempat persembunyian yang sempurna. Tidak ada logo pemda, tidak ada rekan kerja yang mungkin memergokiku. Aku membayar penuh dengan uangku sendiri demi anonimitas absolut.

Saat namaku dipanggil, aku melangkah masuk ke dalam ruang praktik.

Di sana, duduk seorang wanita di awal usia empat puluhan. Rambut hitamnya yang sebahu dibiarkan tergerai tanpa jilbab. la mengenakan blus warna earth-tone yang sederhana namun memancarkan otoritas. Tidak ada senyum berlebihan atau sapaan keibuan ala Bu Ratna. Tatapannya tenang, menguliti, dan tajam.

"Silakan duduk, Rania. Saya Laras," sapanya sambil menunjuk sofa single yang nyaman di seberang mejanya.

Lihat selengkapnya