Empat bulan kemudian.
Linimasa penyembuhan tidak pernah berupa garis lurus. Melainkan sebuah spiral yang berantakan dan menyiksa.
Selama empat bulan terakhir, badai yang mengelilingi Zarimuddin telah mencapai titik akhir secara hukum. Gosip di grup WhatsApp instansi membenarkannya: pengadilan agama telah meresmikan perceraiannya. Tika telah mengambil alih rumah itu secara de jure dan pindah ke Jakarta. Dian dan Widya mengonfirmasi fakta ini pada jam makan bareng kami pada suatu Rabu.
Namun, Zarimuddin masih tinggal di sana. Bukan karena Tika masih memiliki setetes belas kasihan pada mantan suaminya, melainkan karena Sari. Gadis remaja itu bersikeras menolak ikut ibunya, memilih untuk menjaga ayahnya yang hancur.
Tika, yang selalu penuh perhitungan namun tetap seorang ibu yang setia, tidak tega membayangkan putrinya tinggal di rumah kontrakan yang sempit hanya demi mengakomodasi harga diri Zarimuddin yang remuk. Jadi, ia diizinkan tinggal---sesosok hantu menyedihkan yang menghantui rumah yang tak lagi dimilikinya, ditemani hanya oleh anak perempuannya yang masih duduk di bangku SMP.
Aku menutupi mulutku dengan sebelah tangan, memproyeksikan raut wajah terkejut dan prihatin yang sangat meyakinkan. "Ya ampun... kasihan anak-anaknya, Di. Pasti mereka syok banget."
"Makanya! Hancur lebur itu reputasi Sang Singa Podium," timpal Widya menggeleng-geleng.
Aku menunduk, mengaduk kuah soto di mangkukku. Di luar, aku adalah mantan staf yang menyesali nasib malang mantan atasannya. Namun di dalam tempurung kepalaku, mesin kalkulasi itu bersorak merayakan sebuah kemenangan.
Tika melakukan tugasnya dengan sangat brilian. Wanita angkuh itu sedang menguras habis aset, harga diri, dan kewarasan Zarimuddin. Mereka sedang menghancurkan satu sama lain dari dalam, dan aku tidak perlu mengotori tanganku sedikit pun. Aku hanya perlu duduk manis, membiarkan insting gosip Dian menjadi kurir candu gratisanku.
Namun, informasi saja tidak cukup untuk menyembuhkan sistem sarafku yang rusak. Pada sesi konseling keduaku di Klinik Larasati, aku mencoba mencari pembenaran rasional.
"Saya dan Zarimuddin tidak pernah melakukan kontak fisik, Mbak," kataku defensif pada Mbak Laras. "Sedangkan Dimas dan Reza adalah laki-laki baik. Tapi bersama mereka, tubuh saya menolak. Saya merasa hambar. Bukankah itu bukti bahwa saya dan Zarimuddin terhubung secara intelektual? Bahwa kami adalah twin flames?"
Mbak Laras menghentikan ketukan pulpennya. Wanita berblus earth-tone itu menatapku dengan sorot mata seorang ahli bedah yang siap melakukan sayatan terdalam.
"Kamu selalu berlindung di balik ketiadaan seks fisik dengan Zarimuddin sebagai bukti kesucianmu, Nia," kata Mbak Laras dingin. "Tapi saya harus membedah ini sampai ke akar. I need to know... did you even masturbate? Entah sendiri, atau... menggunakan tubuh pacarmu yang sehat itu?"
Darahku seolah tersedot habis dari wajah. Napasku tertahan.
"Mbak..." suaraku bergetar.
"Jawab, Nia," potong Mbak Laras tanpa intonasi menghakimi. Hanya menuntut fakta.
Aku menunduk, meremas tanganku sendiri hingga buku-buku jariku terasa sakit. "Tubuh saya merespons Dimas secara mekanis, Mbak. Tapi otak saya... saat Dimas menyentuh saya... otak saya membedah argumen Zarimuddin."
Mbak Laras mengangguk pelan. Di atas meja, ia menarik selembar kertas kosong dan sebuah spidol hitam. Ia menggambar sebuah grafik yang melonjak liar lalu anjlok tajam.
"Biar saya luruskan anatomi otakmu. Orgasme fisik---kepuasan selangkangan murni---itu dikendalikan oleh Oksitosin dan Endorfin. Itu pelepasan tegangan biologis dasar," jelas Mbak Laras. Ia mengetuk puncak grafik liarnya. "Tapi kamu mengeksploitasi sapioseksualitas menjadi racun yang mematikan. Kamu tidak mencari Oksitosin dari Zarimuddin. Kamu mencari Dopamin---ledakan kepuasan saat egomu divalidasi oleh otaknya. Dan kamu mencari Kortisol---hormon stres tingkat tinggi saat dia mengabaikanmu."
Suara Mbak Laras merendah menjadi bisikan yang menelanjangi nuraniku. "Kamu menjadikan tubuh Dimas sekadar alat stress-relief biologis untuk membuang Endorfin, sementara otakmu mengalami orgasme intelektual memikirkan laki-laki lain. Kamu tidak menyerahkan selaput daramu pada Zarimuddin, Nia. Kamu menyerahkan kedaulatan otakmu. Itu adalah perselingkuhan dan disosiasi seksual yang paling brutal."
"Kamu bukan mencari cinta," vonis Mbak Laras telak. "Kamu kecanduan kortisol. Sistem sarafmu rusak. Kamu adalah pecandu."
Mbak Laras mengira diagnosis itu akan menghancurkanku. Aku memang terisak, menutup mulut dengan tanganku. Tapi di balik telapak tanganku yang basah, sebuah pemahaman yang melegakan mulai mekar.
Kecanduan kortisol. Dopamine hit. Pecandu.