Akuarium Rania

Muhammad Sapril
Chapter #39

Penerimaan Radikal

Sesi terakhirku bersama Mbak Laras terasa berbeda dari sesi sebelumnya. Tidak ada lagi tisu yang basah oleh air mata, tidak ada lagi perdebatan teori psikologi untuk menutupi harga diri, dan tidak ada lagi suara isakan yang tertahan di tenggorokan.

Ruangan ber-AC itu terasa sangat tenang. Aku duduk di sofa single dengan punggung tegak, napas yang teratur, dan pikiran yang sedingin lantai keramik.

"Kamu terlihat... sangat jernih hari ini, Nia," kata Mbak Laras, membuka buku catatannya di atas pangkuan.

"Saya merasa jernih, Mbak," jawabku pelan.

Aku menatap cangkir teh chamomile di atas meja yang belum kusentuh. "Proses perceraiannya sudah masuk ke tahap akhir di pengadilan agama. Dia sudah resmi kehilangan rumahnya, statusnya kini menumpang bersama anaknya."

Mbak Laras tidak menghentikan gerakan pulpennya, tapi matanya menatapku dengan kewaspadaan seorang profesional. "Lalu?"

"Lalu... dia menghubungi saya lagi. Mengajak bertemu," kataku, membiarkan kalimat itu menggantung di udara. "Dan saya mengiyakan."

Mbak Laras meletakkan pulpennya. Ia menatapku lurus-lurus.

"Setelah semua grafik yang kita bedah, setelah kamu menyadari bahwa kamu hanya dijadikan panggung untuk menambal egonya yang hancur... kamu memilih untuk kembali padanya?"

Pertanyaan Mbak Laras tidak mengandung nada menghakimi, melainkan nada memverifikasi sebuah kesadaran.

"Ya," jawabku mantap, tanpa sedikit pun keraguan di mataku. "Saya sudah mencoba memakan menu sehat, Mbak. Saya sudah mencoba bersama laki-laki baik seperti Reza atau Dimas. Tapi tubuh saya menolaknya. Sistem saraf saya menganggap kedamaian itu sebagai sebuah ancaman."

Aku mencondongkan tubuhku ke depan, membiarkan Mbak Laras melihat langsung ke dalam jiwaku yang sudah tidak bisa diselamatkan.

"Mbak Laras," panggilku lirih. "Apakah salah kalau saya memilih untuk bersama dia, walaupun saya tahu persis kami berdua cacat?"

Hening turun memenuhi ruangan itu. Suara instrumen piano klasik yang diputar pelan dari speaker di sudut ruangan terasa seperti detak jarum jam yang menghitung mundur sisa kewarasanku.

Mbak Laras menatapku lama. Ia menghela napas panjang, sebuah senyum tipis dan sedih terukir di sudut bibirnya.

"Tugas saya di ruangan ini bukan untuk menghakimi moralmu, Nia," kata Mbak Laras dengan kelembutan yang menyayat hati. "Tugas saya adalah memastikan bahwa saat kamu membuka pintu itu dan keluar, kamu mengambil keputusan dengan mata terbuka, sadar sepenuhnya akan konsekuensinya."

Mbak Laras menunjuk dadaku.

"Kalau kamu menikah dengan dia nanti, kamu harus ingat satu hal: kamu tidak sedang menikahi seorang penyelamat atau pahlawan. Kamu sedang menikahi pasien lain." Suara Mbak Laras menebal, memberikan penekanan di setiap kata. "Kamu siap menjadi perawat seumur hidup untuk ego laki-laki yang terluka? Kamu siap melihat boroknya setiap hari dan tidak lari?"

Aku terdiam. Di dalam kepalaku, terbayang wajah Zarimuddin yang kelelahan, bayangan pengecutnya saat ia bersembunyi di balik kata "melindungiku", dan keangkuhannya yang sebenarnya menutupi rasa takut. Ya, pria itu sakit parah. Sama sepertiku.

Aku mengangguk mantap.

"Setidaknya," kataku dengan suara yang sangat tenang dan dingin, "lukanya sama dengan luka saya."

Mbak Laras menatapku selama beberapa detik, memastikan bahwa tidak ada lagi ilusi romantisme di mataku. Yang ada hanyalah keputusasaan yang diterima dengan lapang dada. Penerimaan yang radikal.

Perlahan, psikolog itu menutup buku catatannya dengan bunyi bluk pelan. Ia menutup pena di tangannya.

"Sesi kita selesai, Rania," kata Mbak Laras lembut. "Saya doakan kamu menemukan kedamaian, dengan cara apa pun yang kamu pilih."

Mbak Laras tidak menyelamatkanku, karena ia tahu, aku tidak ingin diselamatkan. Ia hanya menjadi saksi yang etis atas caraku memilih jalan kehancuranku sendiri. Dan untuk itu, aku sangat berterima kasih padanya.

Aku bangkit berdiri, menyalami Mbak Laras untuk terakhir kalinya, lalu berjalan keluar dari ruang praktik itu.

Udara sore Tanjung Pandan langsung menerpa wajahku begitu aku mendorong pintu kaca klinik ke luar. Sinar matahari keemasan membuat bayanganku memanjang di atas paving blok halaman parkir.

Di seberang jalan, terparkir sebuah SUV putih yang sangat kukenal.

Kaca jendelanya sedikit terbuka. Di kursi kemudi, duduk Zarimuddin. Wajahnya terlihat jauh lebih tua dari beberapa bulan lalu. Guratan lelah mencetak jelas di bawah matanya. Pria itu kini telah kehilangan keluarganya, kehilangan reputasinya sebagai birokrat tanpa cela, dan kehilangan kemewahan hidupnya yang lama. Ia hanyalah seorang duda yang memegang sisa-sisa jabatannya.

Ia menatapku dari seberang jalan. Tidak ada senyum kemenangan di wajahnya. Tidak ada binar romantis ala pangeran yang menjemput tuan putrinya.

Aku tidak berlari kegirangan menemuinya. Aku tidak melompat girang layaknya perempuan yang sedang dimabuk asmara.

Lihat selengkapnya