Akuarium Rania

Muhammad Sapril
Chapter #40

Mimpi Buruk Orwellian

Bau amis ikan ketarap mentah menguar di udara jam empat pagi, menabrak hawa dingin yang berhembus dari celah ventilasi dapur.

Aku menahan napas, berusaha keras menekan rasa mual yang bergejolak di perutku. Sebagai perempuan yang tumbuh besar di Jawa, lidah dan hidungku tidak pernah terbiasa dengan tajamnya aroma ikan laut. Namun tanganku tetap bergerak, mengulek kunyit, lengkuas, dan kemiri hingga halus. Warna kuning pekatnya menodai ujung-ujung kuku dan jari tanganku, noda yang tidak akan hilang meski dicuci dengan sabun berkali-kali.

Zarimuddin memiliki rapat paripurna penting dengan DPRD hari ini. Dan seperti yang selalu ia katakan belakangan ini, ia butuh Gangan---sup ikan kuah kuning khas Belitung kesukaannya---untuk "menjernihkan otaknya sebelum berdebat".

Kenapa tidak menggunakan blender untuk mengulek bumbunya? Pernah. Di awal-awal belajar masak gangan, aku ngotot menggunakan blender untuk menghaluskan kunyit, lengkuas, kemiri, bawang, sahang dan bumbu lain. Hasilnya, selama seminggu ganganku jadi topik kritik setiap kali duduk di meja makan. "Untuk makanan lain aku tidak peduli, Sayang. Tapi Gangan, selama tanganmu masih sanggup mengulek, please gunakan itu. Rasanya jauh lebih nikmat." Bujuknya. Padahal di lidahku sama saja; asam, getir dan pedas!

Dulu, saat aku masih menjadi analis mudanya yang naif, aku pernah meremehkan Tika. Aku menertawakan Tika di dalam hati saat wanita itu datang membawa rantang ke kantor demi "menjaga nutrisi" suaminya. Waktu itu aku berpikir, betapa menyedihkannya seorang perempuan cerdas yang mereduksi dirinya menjadi sekadar penyedia makanan. Aku merasa superior karena aku memberinya ide dan gagasan, bukan masakan.

Namun pagi ini, saat aku memasukkan potongan kepala ikan yang berbau amis itu ke dalam panci mendidih, aku menelan ludah yang terasa sangat pahit.

Tika tidak pernah menyedihkan. Wanita itu hanya sedang melakukan serah terima inventaris. Dia meletakkan rantang itu agar aku melihat beban yang harus kupikul jika aku mengambil posisinya. Dan dengan bodohnya, aku mengambil beban itu dengan bangga.

Panci bergolak. Aku mematikan kompor, menyeka keringat di dahi, lalu bersiap untuk mandi. Hari ini bukan hanya hari yang penting bagi Zarimuddin. Ini adalah hari Jumat pertamaku menghadiri pertemuan bulanan.


Enam bulan yang lalu, kami menikah di KUA secara sederhana.

Zarimuddin sudah resmi bercerai sejak setahun lalu. Tidak ada resepsi megah. Tidak ada gaun desainer. Hanya kebaya putih sederhana, saksi dari pihak keluarga, dan sebuah janji di atas kertas. Mbak Laras benar. Itu bukan pernikahan dua kekasih yang dimabuk asmara. Itu adalah kesepakatan dua orang pesakitan.

Namun, yang paling kuingat dari hari itu bukanlah ucapan ijab kabul Zarimuddin. Melainkan tatapan dari sudut ruangan.

Sari, anak perempuan Zarimuddin yang kini tinggal bersama kami, berdiri di sana dalam balutan gaun pastel. Gadis remaja itu tidak menangis. Ia tidak marah. Ia menatapku dengan mata yang sangat familier. Mata ibunya. Dingin, penuh perhitungan, dan menyiratkan sebuah pesan tanpa suara: 'Aku tahu kau bukan pemenang di sini. Kau hanyalah orang yang menggantikan ibuku menjaga lilin.'

Tatapan itu adalah hantu yang kini tinggal seatap denganku.


Pukul sembilan pagi, aku melangkah masuk ke aula pertemuan.

Aku merapikan kerah seragam batik oranye bermotif seragam kebesaran Dharma Wanita Persatuan yang membalut tubuhku. Warnanya terlalu mencolok, kainnya sedikit panas, persis sama dengan seragam yang dulu kulihat dipakai Tika di foto Instagram-nya.

Suasana ruangan dipenuhi oleh wangi parfum ibu-ibu pejabat, gemerincing perhiasan emas, dan tawa basa-basi.

Lihat selengkapnya