CHAPTER 1
KALENDER 1998
Lambang Negara Garuda Pancasila di atas ruang kelas sekolah terpatri gagah dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika berarti berbeda–beda etnis, agama atau kepercayaan, budaya dan bahasa tapi tetap satu semangat kesatuan dan persatuan bangsa. Melting pot interaksi berbagai etnis membentuk mozaik kebudayaan yang beragam. Semboyan ini juga mencerminkan kehidupan berbangsa yang tentram, damai, adil, makmur “Gemah ripah loh jinawi” kondisi daerah yang sangat subur dan “Toto tentrem kerto raharjo” yang menggambarkan wilayah yang tertib dan sejahtera. Apakah negara Indonesia memang seperti utopia?
Aku duduk di bangku kayu yang terus aku mainkan karena tinggi kakinya tidak simetris, dibarisan pertama memandang teman sebangkuku yang bernama Sriyani devi. Sri menulis tugas mata pelajaran dari kepala sekolah dengan kapur dipapan tulis, dia sering ditunjuk menulis karena tulisannya yang rapi, sedangkan aku dan ketua kelas bagian mengumpulkan tugas. Pak Tres, wali kelas kami sudah sebulan tidak mengajar di sekolah karena sakit, dimana ada penyumbatan pembuluh darah dikepalanya, jadi kewajiban murid mengumpulkan tugas-tugas yang biasa ditaruh di ruang guru sambil menunggu tanda pulang sekolah.
Pukul 12.00 lonceng nyaring berbunyi, dua anak laki–laki bengis dari kelas mulai beraksi, mereka adalah Mulyana dan Hansen, Mul yang suka dengan musik dangdut melakukan Klotekan menabuh bangku dengan tangannya, bernyanyi lagu andalannya dari Rhoma Irama, “Malam ini malam terakhir bagi kita untuk mencurahkan rasa rindu didada, esok aku akan pergi lama kembali …”
Sedangkan Hans menghapus papan tulis dengan tangan dan menempelkan tangannya yang penuh dengan serbuk kapur ke pipi teman perempuan dikelas sampai gaduh. Kadang mereka juga melakukan Sleding menjegal kaki temannya yang berjalan pulang dilorong kelas sampai jatuh terjungkal.
“Yosi,” aku menoleh, Sri merangkulku dari belakang, “Ayo sesuk ngajak bocah–bocah sambang Pak Tres.” 1
“Iyo ngomongo Hansen.”2 Sesekali aku mengamati burung berwarna hitam yang sedari pagi wira-wiri melintas di atas ruang guru. Sangat menarik, tingkah laku burung–burung itu seperti sebuah tanda kematian yang mungkin akan datang, bagaimana mereka tahu?
Pukul 07.00 ketua kelas kami Hansen, ya, meskipun nakal Hans ditunjuk sebagai ketua kelasnya. Kebetulan dia anak kepala desa jadi semua orang, termasuk guru disekolah menghormati bapaknya, meskipun juga memiliki banyak skandal dikehidupan keluarganya. Hans punya suara lantang, ini memudahkan untuk mengatur dan menertibkan kondisi teman-temannya. Dia mulai memimpin membaca doa sebelum kegiatan belajar dikelas, kemudian kami menunggu tugas dari kepala sekolah untuk dikerjakan.
Setengah jam kemudian yang ditunggu masuk dan mengucapkan salam.
“Harap tenang anak–anak, Innalilahiwainailahirojiun telah berpulang guru kita, wali kelas 6 Pak Sutresno pada Rabu, 9 september 1998 pukul 03.15 dini hari. Mohon ketua kelas mengkoordinir teman–temannya.”
Kepala sekolah kembali ke ruangan berkumpul dengan para guru untuk pergi takziah. Seperti kehidupan, kematian merupakan hal baik, karena apapun yang ditakdirkan Tuhan adalah kebaikan.
Pak Tres suka nembang dikelas waktu mengajar, tembang andalannya yaitu Bapak pucung yang menceritakan tentang gambaran dari hubungan antara pekerja dan pengusaha atau rakyat dan pemimpin dikehidupan masyarakat, bahwa pengusaha atau pemimpin yang punya posisi tinggi dianggap bisa berperilaku adil dan bijaksana. Ironisnya, semakin tinggi jabatan penguasa semakin tinggi keserakahan yang diperbuatnya, bahkan menindas para pekerja, buruh ataupun rakyat. Melalui tembang Bapak pucung inilah Pak Tres melakukan protes atas apa yang terjadi di sekitar kampung kami. Selain itu beliau memperkenalkan kepada muridnya peran wayang sebagai ikon peradaban bangsa yang juga merupakan refleksi dari jiwa manusia atas perilaku, bahkan karma dari pikiran, perkataan dan perbuatannya.al
Jam kosong, tidak ada pelajaran, kami dipulangkan lebih awal. Padahal Sri berniat merencanakan untuk menjenguk Pak Tres tapi Tuhan mendahului rencananya. Beberapa dari kami tidak langsung pulang, tapi berkumpul, Anna semangat bercerita, “Eh Pak kebon wingi di kethoki Pak Tres nang kantor.”3
“Koe jare sopo Ndo?” 4 tanya teman yang lain
“Aku krungu Pak bon ngomong nang ruang guru pas aku lewat.”5
Anna adalah teman yang paling mencolok dikelas, kami memanggilnya Londo karena dia berperawakan Indo-Belanda tapi tetap berbahasa dan berlogat Jawa medok seperti teman yang lain. Lebih tepatnya neneknya pernah ada main dengan kompeni, itu yang dikatakan orang dikampung bahwa nenek Anna pernah jadi Nyai atau simpanan kompeni. Kompeni adalah cara kami menyebut orang Belanda, Compaignie yang berarti kongsi dagang perusahaan hindia timur atau Vereenigde Oostindie Compaignie (VOC). Belanda sendiri kata serapan dari Blonde, orang Jawa umumnya tidak bisa berkata Blonde, akhirnya menjadi Londo. Ada yang bilang Belanda dari kata Holland atau Holanda, apapun namanya yang menjajah Nusantara adalah bangsa Netherland.
Kami masih membahas penampakan di sekolah, sampai Mulyana yang dari tadi mendengar cerita, lewat didepan teman-temannya dan mengetuk satu per satu kepala kami dengan penggaris plastik, "Ayo buyar-buyar, wong Londo wes ngadoh." 6
“Ono sing cedak, Londo ireng.” 7 Mul marah dan mengejarku, aku sering sekali memanggilnya seperti itu dan diikuti oleh teman-teman yang lain.
Sekolah kami memang terkenal angker, kata simbah dulu tanahnya bekas makam Belanda dan kuburan massal anggota PKI. Bahkan beberapa rumah di sebelah sekolah kosong tidak berpenghuni, konon salah satu hunian ada pemiliknya yang gantung diri karena hutang. Ada juga yang bilang sekitar daerah rumah itu banyak ditanami kepala kerbau untuk tumbal, jadi banyak terjadi kecelakaan di belokan jalan utama.
Selain itu bangunan Sekolah sudah banyak yang rapuh, tembok dan esbes ambrol, catnya terkelupas di sana-sini. Beberapa ruang tidak terpakai dan tidak ada kamar mandi yang layak, ada satu jamban dari kayu yang bau busuknya menguap, karena tumpukan feses dari tahun ke tahun. Kami jarang menggunakan jamban itu kecuali terpaksa, kalau ingin buang air kecil atau besar kami menahannya sampai pulang ke rumah, karena rumah kami dekat dengan sekolah. Jadi tidak heran jika sering ada fenomena teman yang kebobolan di celana.
Ketika musim hujan, sekolah sering mengalami kebanjiran karena atapnya bocor, dinding yang retak telah merembes, juga kondisi jalan raya yang lebih tinggi dari area sekolah, air dan tanah bisa masuk keruang–ruang kelas. Kami harus bekerja bakti membersihkan lantai dan mengepel ruang kelas sebelum kegiatan belajar-mengajar.
Didepan teras rumah, aku berkumpul bersama si mbah dan sepupuku Noe. Kami lebih senang bercerita atau mendengarkan radio daripada menonton televisi, dengan tidur di atas Kloso, tikar yang terbuat dari daun pandan ketika cuaca malam hari cerah. Aku bisa melihat bulan dengan jelas, salah satu ciptaan Tuhan yang luar biasa indah dari milliaran benda yang ada di langit. Memandang bulan bisa menstabilkan perasaan dan membuat tidur malamku lebih berkualitas.
Aku terus memandangi guratan-guratan didalam inti bulan yang bentuknya hampir bulat sempurna, membentuk sebuah bayangan dan memunculkan gambaran tokoh wayang didalamnya, aku jadi teringat pelajaran di kelas. Kata Pak Tres wayang bukan sekedar benda dan pertunjukan menghibur namun ada banyak karakter jiwa serta pesan dari leluhur yang disampaikan sebagai pembelajaran. Pada wayang ada tontonan, tatanan dan tuntunan, semua saling terkait dan merefleksi dalam kehidupan manusia di masa lampau, masa sekarang ataupun masa yang akan datang.
Aku bertanya kepada simbah tentang beberapa tokoh wayang yang sering dibuat contoh Pak Tres di sekolah.
“Simbah ngertos Punakawan mboten?” 8
“Yo ngerti nduk, wayang sing parase ora sempurno tapi tingkahe dadi guyon lan dadi panutan. Punakawan iku artine konco sing pinter, dadi penerang, pengamatane teliti lan wawasane yo akeh.” 9
“Biyen ono istilahe tanggap ing sasmita lan impad pasanging grahita.”10 Simbah menceritakan perawakan dan watak masing-masing kharakter Punakawan yang terdiri dari 4 tokoh, antara lain SEMAR mempunyai ciri khas berupa kuncung putih di kepala sebagai simbol dari pikiran, gagasan yang jernih atau cipta. Selain itu Semar juga digambarkan memiliki badan bulat dan gemuk, mata berair, tangan kanan menunjuk, tangan kiri mengepal dan kaki yang pendek karena melambangkan karsa, kehendak atau niat luhur.
GARENG memiliki mata juling, tangannya bengkok dan berkaki pincang. Penggambaran cacat fisik ini menyimbolkan sebuah rasa kewaspadaan, ketelitian dan kehati-hatian. Gareng juga melambangkan pikiran, rasio, nalar yang bersifat penuh toleransi, suka menolong atau, “Sifat sepi ing pamrih rame ing gawe,” artinya rajin bekerja dan jauh dari watak aji mumpung (Tidak memanfaatkan orang lain demi keuntungannya sendiri).
Sedangkan PETRUK memiliki badan tinggi, kepala besar, bahu lebar, mata terbuka, telinga besar, mulut tertawa, dada lebar, tangan dan kakinya panjang. Penggambaran fisik serba berlebih melambangkan rasa atau perasaan yang bermakna suka menolong dan memberi kasih sayang terhadap sesama.
Tokoh terakhir BAGONG yang disebut Wewayanganing atau bayangan dari Semar. Bagong memiliki badan bulat, mata mleleng, mulut dower dan tangan yang megar. Penggambaran fisik Bagong ini menggambarkan hati yang selalu bahagia, dinamis dan optimis, melambangkan karya atau usaha, perilaku dan perbuatan. Jika keempat tokoh digabung akan menjadi Rasa, Karsa, Cipta dan Karya disebut dengan kebudayaan. Penjelasan simbah membuatku tertarik mendalami ke-empat kharakter Punakawan. Aku membayangkan wujud mereka, bayangannya masuk kedalam kepalaku, berputar–putar. Aku mengacaukan lamunanku, mengingat kejadian lain disekolah tentang arwah orang mati.
"Mbah arwah niku pripun arahe yen kapundut?"11 Sepupuku Noe mewartakan al-kitabnya.
“Yen wonge bener tempate nang surga firdaus, yen wonge ora bener tempate nang hades." 12 Dunia Hades adalah tempat tinggal roh orang mati yang suram dan berkabut.
Simbah berkomentar, "Arwah iku yen mati nang alam kubur, yen ngetoki wong iku jenengi demit kurang gawean."13 Noe tertawa, meskipun menurutku tidak lucu.
Kami menikmati hembusan angin malam. Sekilas terdengar sayup suara dari radio tetangga yang tertutup rumpun bambu. Pohon bambu berjejer menutupi rumah kami dengan rumah tetangga lainya. Jika tertiup angin suaranya lirih karena daun–daun dan batang bambunya terus bergesekan. Kembali memfokuskan suara itu, seksama mendengarkan liriknya. Lagu ini mengisahkan penderitaan yang dialami rakyat pribumi dikarenakan penjajahan Jepang kala itu, mereka menerapkan kebijakan kerja paksa atau Romusha, perampasan hasil pertanian, perlakuan rasial, hingga genosida di Kalimantan Barat. Kelaparan membuat mereka mengonsumsi apa saja yang tersisa ditanahnya yang terjajah, seperti daun genjer yang seharusnya hanya bisa dibuat makanan ternak.
Pemerintah orde baru pernah mencekal lagu yang mengandung stigma komunis, mungkin ini akhir dari orde baru dan sudah tidak ada lagi anggota PKI setelah operasi Trisula, jadi warga sudah tidak takut memutar radionya dengan kencang. PKI pernah menjadi partai terbesar di Indonesia, sampai akhirnya bubar karena peristiwa G30S, kebiadabannya membunuh enam jenderal dan satu perwira. Ada pula kekejaman lain seperti penjarahan, pembakaran, penangkapan dan menembak orang yang dianggap menjadi musuh mereka, kebanyakan dari korban pembantain adalah para alim ulama, santri, pejabat pemerintah dan tokoh penting yang tidak terhitung jumlahnya.
“Sekolahane Yosi niku nopo leres kuburane PKI mbah?” 14 Mata berkantong itu mengingat kejadian waktu itu.
“Simbah biyen eruh truk-truk lewat embong gede tengah wengi, mung nginceng ora wani mriksani langsung. Mayite wong PKI di lebokno dudukan lemah ukurane kurang luweh 4x4 meter jerone paling 5 meteran, kunu sek rumbuk suket di gawe angon wedus.”15
“Iku anggotane PKI dewe sing nduduki lemah gawe warga sing nolak gabung, ndelalah wayahe Pak Soeharto anggotane PKI dienteki, akhire koyok istilahe pepatah ngunu iku sopo sing nduduki lemah, bakal kekubur dewe."16
“Ora usah wedi, awak dewe iku podo wonge, podo bakal matine, yo podo–podo ciptaane gusti Allah. Sing penting ojo lali ibadah e lan ati-ati karo wolak walik e dunyo.”17 Sebenarnya aku tidak takut, hanya penasaran dengan nasib orang setelah mati, apalagi dengan kematian yang tidak wajar sebanyak itu.
Dalam rangka membalas dendam anggota dan simpatisan PKI sampai ke akarnya, diakhir tahun 1965 hingga awal 1966 diperkirakan ada puluhan ribu orang hilang, ditangkap dan di bantai. Beberapa dari mereka ditahan, disiksa, diperkosa atau mendapatkan kekerasan seksual, kerja paksa dan dibunuh tanpa ada proses hukum atau tanpa langkah verifikasi terlebih dahulu oleh satuan tentara Indonesia dan milisi sipil anti komunis.
Operasi militer itu telah menjadi balas dendam pribadi dan kelompok, akibatnya banyak orang tidak berdosa menjadi korban. Tidak hanya itu, keluarga korban mengalami diskriminasi atas tuduhan sebagai keluarga anggota PKI, mereka kehilangan pekerjaan, tidak melanjutkan pendidikan dan dikucilkan dari lingkungan. Terlepas kesadisan yang dilakukan PKI terhadap warga, pembalasan dendam yang brutal merupakan pelanggaran HAM berat, kejahatan dibalas dengan kejahatan, hal ini tidak diajarkan disekolah tapi tetap akan berkembang dari media massa, dari mulut para aktivis dan dari cerita keluarga korban dan saksi–saksi pada masa itu.
“Yen Londo kaleh Jepang pripun mbah, wonten tipake teng mriki?” 18
“Londo karo Nipon iku wes ora iso dibantah, tipake nganti nang jerone dodo. Wong urip digawe keset nganti atusan taun.” 19 Sebenarnya penjajahan Belanda tidak sampai ratusan tahun, orasi presiden Soekarno yang bertujuan membakar semangat rakyat dalam melawan tindak penjajahan di Nusantara-lah yang membuat seolah masa jajahan lama. Sepanjang tahun itu VOC melakukan perdagangan, baru puluhan tahun terakhir secara bertahap menduduki serta menguasai satu–persatu wilayah Nusantara.
Masih mendengarkan kelanjutan lagu yang diputar dalam radio, bersamaan dengan suara jangkrik berderik dikebun rumah, yang menurut kepercayaan melambangkan keberuntungan, kekayaan dan kemakmuran. Jangkrik itu muncul sejak awal musim hujan, mereka berada ditanah dan pergi keluar jika mencari makan. Jangkrik jantan akan menimbulkan suara bising ketika menarik perhatian si betina atau sebagai tanda bahaya. Suara bising berasal dari selaput disisi perutnya yang terus bergerak atau gesekan sepasang sayapnya yang disebut Stridulasi.
Aku dan Noe sering menangkap jangkrik yang masuk ke dalam rumah lewat jendela dan pintu-pintu yang terbuka karena mereka tertarik dengan cahaya dan panas dari lampu. Kami membuatkannya kandang dari bambu yang di beri daunan kering agar sesuai dengan habitatnya dan memberinya makan daun kangkung yang kami ambil dari kebun samping rumah, lalu meletakkan kandang jangkrik di dekat dapur. Suara derik jangkrik di malam hari membuat tikus kabur, tikus takut dengan tempat ramai dan gelombang Ultrasonik stridulasi membuat pendengarannya terluka.
MEMASUKI BULAN OKTOBER
Sungai–sungai di kampung meluap, banjir dimana-mana, mulai dari jalanan depan rumah sampai jalan besar menuju sekolah. Banjir masih menjadi masalah yang pelik bagi kami, masyarakat yang tidak sadar dengan sering menebang pohon di hutan dan membuang sampah di sungai telah menjadi ancaman bagi lingkungan, karena dampaknya akan semakin meluas.
Sebagian warga kampung yang rumahnya jauh dari sungai menyiasati sampah dengan dibakar, tapi berdampak buruk, asap pembakaran sampah mengandung zat kimia berbahaya, seperti karbon monoksida, nitrogen dioksida, hidrokarbon dan partikel beracun lainnya yang mengganggu pernafasan dan merugikan kesehatan. Sebenarnya bisa diakali dengan memilah sampah untuk didaur ulang. Simbah biasanya mengubur sampah basah menjadi humus, pupuk untuk menyuburkan tanaman dan sampah kering untuk kembali dimanfaatkan sebagai kerajinan tangan, meskipun sisanya dibakar, setidaknya pembakaran tidak terlalu masif.
Musim hujan tetap yang paling menyenangkan, kami bisa mandi sekalian bermain seluncuran di bawah air talang dan yang terpenting tidak kehabisan air karena persediaan melimpah. Aktivitas malam dengan mendengarkan suara kidung katak bersaut–sautan di genangan air juga seperti musik alam yang menentramkan hati. Sedangkan ketika musim kemarau, sumber air mengering jadi kami harus mencari sumber air mana yang masih bisa diambil untuk kebutuhan rumah tangga sehari-hari, untuk mengambil air bersih jaraknya bisa sampai berkilo-kilometer, katak tidak lagi bernyanyi untuk pemanggilan hujan.
Sebelum hujan turun, biasanya disertai dengan angin yang kencang, daun dan bunga berguguran termasuk sriwil kutil dari pohon kelumbuk yang jatuh berputar putar seperti mainan gasing spiral, aku berlarian bersama anak tetangga di kampung, memungutinya. Kami mengikat sriwil kutil memanjang dengan benang sampai terkumpul lusinan, menggantungnya di depan rumah seperti origami. Pohon ini bisa tumbuh sampai ketinggian 50 meter dan hanya ada satu di kampung, jadi menemukannya sangat langka. Sedangkan anak laki-laki seperti Noe biasanya main sepeda atau layang–layang di lapangan dekat sawah.
Hampir tiap malam terjadi pemadaman listrik bergilir, simbah sudah siap menyalakan lampu Ublik, lampu yang dibuat dari bekas botol kaca beling atau kaleng susu yang tidak terpakai, ditambah sumbu dan diisi dengan minyak tanah. Setelah hujan reda, aku dan Noe bergegas mencari wadah plastik untuk menangkap kunang–kunang. Kami mencari didekat kebun samping rumah dimana lokasi rumah kami memang bersebelahan. Tahun demi tahun jumlah kunang–kunang semakin berkurang, diakibatkan oleh deforestasi, berkembangnya pembangunan diarea sekitar kampung dan perubahan penggunaan lahan yang telah mengurangi area yang sesuai bagi perkembangbiakannya.
Suatu malam ketika mencari kunang–kunang, kaki Noe terperosok masuk ke lubang kepiting, dia berteriak memanggil kakaknya karena kakinya terkilir. Dia tidak beranjak dari tempat itu, Julius menarik kaki adiknya kemudian memapah dan mengajaknya pulang. Keesokan harinya aku, Julius dan David memanjat pohon jambu air di belakang rumah, Noe hanya duduk di pintu melihat kami becanda diatas pohon sambil memakan buah jambu air yang beberapa telah kami lempar kearahnya.
Ulat bulu terlihat dibalik daun, aku memutuskan turun dari pohon duluan, sedangkan Julius dan David masih diatas. Aku tidak ingin beresiko terkena biduran yang rasanya gatal dan perih, membayangkannya saja membuatku bergidik. Tidak lama, simbah datang.“Menek o sing duwur.” 20 Maksudnya sudah jangan naik karena bisa jatuh, mengambil jambu pakai getek buah saja, tapi begitulah cara simbah menyindir cucunya dengan satire untuk membuatnya bergegas turun, jika tidak, sandal akan melayang kekepala kami.
Aku bersama Noe, Julius, David dan Sarah—Kakak David—sering belajar di rumah bersama, aku akan menanyakan semua pelajaran sekolah yang tidak aku mengerti kepada sepupuku yang lebih senior, setelah itu kami bermain catur dan kartu remi. Berbeda sekolah denganku mereka berempat menempuh pendidikan di sekolah Kristen, orang tua mereka setiap pekan mendapatkan bantuan sembako dan juga keperluan lain, mereka bekerja membantu administrasi gereja dan mengikuti aktivitas pelayanannya.
Harta dan materi menjadi persoalan utama bagi warga kampung, sifatnya yang adiktif membuat banyak orang melakukan segala cara termasuk salah satunya berganti keyakinan. Bagaimana saudara kami bisa diperalat para petinggi gereja, itu yang sering dikatakan bapak dengan sinis. Tapi menurut mereka keyakinannya yang paling benar, mereka mengamini apapun yang dikatakan oleh pihak gereja dan sudah tidak bisa dipatahkan.
Ada pula saudara tertua bapak yang muslim, tidak memiliki anak dan istri, beliau menjual jamu dan obat herbal dipasar kota dengan mempengaruhi orang untuk datang berobat menggunakan dalil agama. Memang terbukti banyak pelanggan cocok dan kembali datang, masalahnya keluarga kami tidak ada yang pernah berobat ke tempatnya dan meragukan kesaktiannya. Bisa saja sebuah sugesti pelanggan yang merasa lebih baik seperti Efek placebo dari obat yang seolah efektif. Sebenarnya apapun yang dilakukan beliau sah saja, asal tidak membawa hal yang berkaitan dengan keyakinan agama, apalagi melabel diri sebagai seorang habib keturunan nabi, karena itu bapak jarang berbicara dengan saudara sendiri.
Seperti simbah yang toleran, aku tidak memedulikan masalah itu, semua orang mempunyai hak untuk memilih kehidupan dan mereka sendiri yang nanti bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya. Mempermasalahkan sesuatu tanpa ada kesadaran dalam dirinya adalah hal yang sia–sia, pada akhirnya hanya menjadikan perpecahan antar saudara.
Aku teringat pelajaran dikelas, ada nilai dari leluhur yang tertulis di buku Pepak bahasa Jawa, yaitu “Ajining diri soko lathi.” (Penilaian diri berasal dari ucapan) “Ajining rogo soko busono.” (Penilaian fisik berasal dari pakaian) “Ajining awak soko tumindak.” (Penilaian seseorang dari caranya bertindak) “Ajining sukmo soko ngagomo.” (Penilaian jiwa berasal dari agama) Demi keinginan memperkaya diri dan memperoleh validasi, nilai seperti ini tidak lagi dihiraukan, padahal sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat khususnya orang Jawa yang suka menerapkan sikap gotong-royong saling membantu.
Ternyata saling membantu Simbiosis mutualisme tidak hanya dilakukan oleh sesama manusia tapi juga dengan para makhluk gaib. Seperti praktek perdukunan atau pesugihan untuk mendapatkan imbalan kekayaan dan penglaris secara instan tanpa bekerja keras yang sudah menjadi kewajaran, termasuk prakteknya dilakukakan oleh beberapa orang dikampung. Salah satunya kepala desa, beliau bersama anggotanya suka melakukan praktek–praktek ritual dengan sering menaruh berbagai sesaji dan dupa dibawah pohon beringin besar yang usianya sudah puluhan tahun ditengah pertigaan jalan utama, kadang menaruhnya di curug.
Ritual ini menjadi jalan pintas bagi orang yang serakah, jauh dari ajaran agama atau mengabaikan wejangan dari para leluhur untuk tirakat. “Seng di akehi tirakate, dudu sambate." (Yang diperbanyak tirakatnya, bukan keluh kesahnya). “Angger lakumu lempeng, mengko biso seneng.” (Asal kelakuamu lurus, nanti bisa senang). “Onone bungah, mergo tau susah.”(Ada kebahagiaan, karena pernah kesulitan). “Onone mulyo, mergo wes tau soro.” (Ada kemulyaan, karena pernah sengsara).
Rata–rata mereka tidak ingin hidup susah padahal kehidupan seperti itu awal dari kemuliaan dan kebahagiaan. Bersyukur atas hal kecil membuat orang merasa telah cukup, mengeluh akan hal besar yang tidak dimiliki akan membuat orang merasa terus dihantui dengan rasa kekurangan.
Jawa timur terkenal dengan tempat pencari pesugihan, seperti yang ada di Gunung Kawi, Roro kembang sore Gunung Bolo dan Makam Ngujang. Bukan menjadi rahasia, beberapa orang dari kampung maupun luar daerah bergantian datang ke tempat itu untuk melakukan perjanjian pesugihan. Melakukan perjanjian gaib sendiri tidak mudah, tumbal atau mahar tertentu dipersembahkan sebagai pengganti kekayaan yang diperoleh. Korban tumbal ditentukan berdasarkan permintaan dari makhluk gaib dan pelaku pesugihan harus bisa memenuhinya.
Aku pernah mendengarkan pembicaraan tetangga dikampung, membahas perihal pesugihan. Katanya tumbal yang sering diminta dalam perjanjian yaitu tumbal kematian keluarga, tumbal hilangnya janin, tumbal umur sendiri, tumbal jiwa menjadi budak jin setelah dia meninggal, tumbal jual diri dimana merelakan badannya disetubuhi oleh jin, tumbal susuan yaitu memelihara dan menyusui tuyul seumur hidupnya dalam artian tuyul akan menghisap darah pangadopsi sampai lelah, kurus dan sakit-sakitan. Jika pelaku pesugihan melanggar perjanjian, seluruh hartanya akan menghilang dalam sekejap dan kemiskinan menimpa tujuh turunan, mengherankan jika masih banyak orang yang melakukan praktek ini.
Dualitas sudut pandang yang berbeda, memiliki kekuatan spiritual atau klenik dan laku ritual juga dilakukan dalam kekuatan bernegara, karena bisa menjadi atribut yang melindungi hirarki kekuasaan seperti dalam kepemimpinan yang dilakukan oleh para penguasa daerah seperti kepala desa sampai kepala negara sekalipun. Mereka akan melakuan ritual yang dirasa bisa membantu dalam struktur pemerintahan. Alasannya tidak ada tatanan pemerintahan yang efektif dan efisien tanpa bantuan klenik, seperti kekacauan negara yang tidak bisa dikontrol. Kepemimpinan yang stabil bisa memberi kemakmuran kepada rakyat, biasanya datang berupa wangsit setelah melakukan ritual tertentu.
Klenik bisa bermakna positif jika ada manfaatnya terhadap kepentingan masyarakat karena membawa nilai moral yang baik dan sanksi spiritual yang menakutkan bagi orang yang melanggarnya. Seperti cerita mistis untuk melestarikan dan melindungi alam, hutan yang di babat habis dan hewan yang diburu, jika tidak ada cerita para penunggu atau makhluk gaib di tempat tersebut pasti akan lebih banyak para perusak atau penebang hutan liar dan pemburu yang tidak takut akan dampaknya. Perihal ini membuatku penasaran, apa jutaan orang mati tidak wajar dalam penjajahan Belanda–Jepang dan korban PKI menjadi tumbal dari kemakmuran dan kestabilan negara?
KEGIATAN BELAJAR DI KELAS
Seorang guru menerangkan bab tentang rukun iman, termasuk iman kepada yang gaib didepan kelas, aku mulai jenuh jadi menggambar sosok gaib dibuku tulisku dengan bolpoin tinta merah, lengkap dengan tanduk dan sayapnya. Menurutku gambarnya tidak seram, aku sematkan tulisan di atasnya, “Halo namaku Anpanman.”—Anpaman : Seri anime superhero Jepang yang bermuka adonan, memiliki sayap seperti superman untuk terbang—aku sodorkan gambar itu ke depan meja Sri, dengan cepat dia mengambil bolpoin, menambah disampingnya sebuah gambar boneka beruang dengan lingkaran kecil dan lingkaran besar. Disematkannya juga gambar balon dan tulisan, “Halo Anpanman, mari berteman.”
Buku dikembalikan kepadaku, aku mencoblos bagian tengah gambar balon menggunakan bolpoin dan menambah tulisan “DOR! Eh tolong-tolong,” lawakan latah dari mpok Atik, pemeran lenong waktu awal masuk televisi.
Sri mengambil dan membaca tulisan itu sambil menahan tawa, aku tidak tahan melihat mukanya yang memerah, akhirnya terdengar suara tawa tertahan dari kami di saat kelas hening “Cki-kik” kami reflek melihat guru di depan, tangannya telah memegang penghapus papan tulis yang penuh dengan serbuk kapur, dilemparnya ke meja kami.
Glutak!