AKULTURA

Intan widya sari
Chapter #2

SUASANA BARU DIKOTA

CHAPTER 2

 

SUASANA BARU DIKOTA

Tanggal 9 Juli 1999 bapak mengantarku melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama dengan mengendarai sepeda motor yamaha RXnya. Aku melewati beberapa sawah dan berakhir di jejeran perumahan dan bangunan yang lebih modern, tidak ada hutan, bukit ataupun sungai. Orang–orang bekerja dikantor dan instansi pemerintahan, tidak ada yang mengembala kerbau dan kambing, tidak ada orang yang mengambil kepompong ulat di pohon jati. Dijalan berjejer tukang becak, ojek pangkalan dan angkutan kota lalu lalang. Pohon dan bunga hanya ditanam di beberapa sudut jalan, sepertinya lebih banyak baleho iklan yang di pasang, paling banyak dipaku di pohon seperti tidak menghiraukan kehidupan makhluk lain.

Kegiatan penebangan pohon terus terjadi dari tahun ke tahun, awalnya dikota-kota besar, karena pembangunan tidak berkesudahan dan populasi manusia semakin banyak, lahan dikota habis jadi para developer berpindah ke area pedesaan, termasuk kekampungku yang dampaknya sudah aku rasakan. Ini yang menyebabkan berkurangnya populasi kunang–kunang dan beberapa habitat serangga lainnya, juga banjir yang melanda di saat musim penghujan.

Sepanjang perjalanan aku diam, bapak juga tidak mengajakku berbicara. Aku memikirkan teman-temanku, dimana mereka melanjutkan sekolahnya. Kami tidak mempunyai telephone jadi tidak bisa berkomunikasi satu sama lain, kecuali Hansen anak orang kaya yang pasti tidak akan kekurangan apapun, bapaknya punya perewangan jin dan bisa menilap uang desa jika diperlukan.

Sampai dikos putri, jaraknya 200 meter dari sekolahku tapi kebanyakan kamar dipenuhi anak SMA Nusa karena lokasinya bersebelahan. Kondisi ruangan kelas berbeda dengan sebelumnya, seperti di sinetron yang tayang di televisi, bangunannya kokoh dan bersih, banyak temanku berpenampilan trendi, menulis dipapan juga sudah tidak menggunakan kapur tapi dengan spidol. Bangunan terdiri dari dua lantai, kelasku berada di lantai dua, samping kelas persis jalan utama, ditrotoar berjejer jajanan seperti es cincau, siomay, empek–empek, dan kios snack. Kami bisa jajan dari lantai dua dengan mengikat uang di tali, menjatuhkannya kebawah dan berganti jajanan yang kami tarik lagi keatas, membantu kaki agar tidak lelah naik turun tangga.

Dikelas ada lima anak keturunan Tionghoa dan tiga anak keturunan Arab, aku tidak pernah memiliki teman seperti itu kecuali Anna yang keturunan Indo–Belanda, aku membaur dan beradaptasi. Kami berkenalan, bercerita tentang background pendidikan masing–masing. Ternyata semua sekolah dasar dikota diajarkan bahasa Inggris, sedangkan sekolah dikampungku belum pernah. Aku tahu istilah-istilah bahasa inggris hanya karena sering membaca surat kabar dan dari sampul buku tulis. Tidak hanya itu, teknologi sudah merajalela, temanku dikota mahir menggunakan komputer dan beberapa membawa handphone, aku seperti ketinggalan peradaban.

Teman sebangkuku bernama Maya, dia memakai behel gigi dan rambut keriting yang selalu dikepang. Tidak disangka dia mempunyai ketertarikan dengan hal mistis sepertiku. Kata Maya, tetangganya yang dulu sekolah disini pernah mendengar gamelan berbunyi sendiri dan mendengar suara perempuan di toilet. Dia juga bercerita tentang kuburan yang ada diarea belakang sekolah dan sungai bengawan Solo yang dibuat orang zaman dulu membuang mayat pembunuhan. Aku merenung, kenapa sepertinya semua sekolah didunia ini didesain angker?

Selain bercerita tentang hal mistis, ditengah istirahat kami membahas serial kartun Inuyasa, Detektif Conan dan One Piece. Lukito yang bangkunya persis di belakangku suka membawa manga untuk dipamerkan dan jadi rebutan teman–teman dikelas untuk gantian dipinjam. Hal seperti ini selalu membuat gaduh, bahkan sampai jam pelajaran. Bu Fatmi guru Matematika berbadan besar, kami memanggilnya Big Mom seperti musuh Luffy yang dibuang ke Elbaf oleh orang tuanya karena telah menyebabkan banyak masalah, sama seperti beliau yang sering menyebabkan masalah. Setiap masuk kelas beliau suka mengomel, mulai dari sampah yang bercecer sampai pigura pahlawan yang terpajang miring. Apalagi tingkah teman-teman ketika berebut komik, Big mom sampai menggebrak-nggebrak meja.

Diluar kegiatan sekolah, bapak memasukkanku ke klub olahraga Spartan untuk menunjang kejuaaran ketingkat yang lebih tinggi, karena aku selalu antusias mengikuti kegiatan olahraga basket dan mengikuti pertandingan antar sekolah. Sore hari aku harus mengikuti latihan basket yang berada di lapangan alun–alun kota, jaraknya sekitar satu kilometer dari belakang sekolah. Bersamaan dengan Pekan Olahraga Pelajar Daerah yang akan dimulai, aku dan Dias, anak guru olahraga disekolah. Kami berlatih di klub Spartan untuk mewakili kota kami se-Jawa Timur.

Klub ini memiliki visi mencetak tim yang disiplin, berani dan tangguh seperti pasukan Sparta, dengan berfokus tiga cabang olahraga didalamnya yaitu voli, basket dan badminton. Sebagian tim kami yang berlatih basket adalah keturunan Tionghoa. Ternyata sepanjang jalan yang aku lewati, di daerah pertokoan dan ruko mayoritas juga kepunyaan mereka. Aku baru sadar, perekonomian di kota telah didominasi olehnya, mungkin ini yang membuat pribumi kala itu geram seperti pada kerusuhan 1998. Tapi kata bapak kesuksesan warga keturunan Tionghoa bukan tanpa alasan, mereka memang memiliki mental dan work ethic yang bagus.

Beberapa guru pengajar tidak suka dengan kegiatan basketku, menurut mereka kegiatan ini mengganggu proses belajar disekolah karena selama berlatih atau bertanding kejuaraan, aku sering meninggalkan jam pelajaran di kelas. Sebenarnya aku sudah dapat izin dari kepala sekolah dan didukung guru olahraga, tetap yang lain seperti tidak terima. Diantara yang paling sering berkomentar adalah Big mom dan Bu Rani guru Bahasa Inggris.

Karena jarang mengumpulkan tugas, nilai raport tahun pertamaku seperti terhantam meteor. Menjadi peringkat 5 besar dari belakang membuatku panik, apalagi ketika bapak mengevaluasi nilai-nilaiku yang hancur seperti ditinju kepalan tangan Luffy. Akhirnya beliau memutuskan mengikutkanku les privat, tentu dengan menguras tabungannya dan menguras emosinya karena terus komplain akan ketidak-seriusanku belajar. Para guru les akan memberikan nilai tambah bagi murid yang mau belajar ditempatnya dan membeli buku paket extra karangannya. Nilaiku memang berangsur baik tapi kegiatan yang padat untuk belajar dan berlatih kejuaraan membuatku semakin lelah fisik dan kesepian karena jauh dari temanku. Emotional trapping, rasanya aku sudah malas pergi ke sekolah.

EUFORIA TAHUN MILENIUM

Perubahan zaman sangat nyata dan cepat. Segala sesuatu yang awalnya bersifat tradisional dengan hitungan detik berubah menjadi modernisasi global, tehnologi yang awalnya analog juga berubah menjadi digital. Perubahan dunia merubah tatanan kehidupan, ribuan kembang api tidak berhenti memenuhi langit semalaman diperayaan pergantian tahun, tiupan trompet terdengar bersautan dengan iringan lagu Happy two thousand dari Leon lai yang terdengar dimana-mana.

Aku teringat perkataan simbah tentang Wolak-walike dunyo dan cerita dari Cokro manggilingan, siklus hidup manusia yang ada hubungan dengan perkembangan zaman atau perputaran masa menyangkut Jagad alit dan Jagad ageng. Pergantian nasib yang tidak bisa diprediksi dalam tiga tahapan zaman kehidupan, pertama zaman Kalatidha dimana manusia mengejar keinginannya, tidak peduli dengan benar dan salah atau adil dan tidak adil. Kedua zaman Kalabendhu kondisi terlihat mulai stabil tapi masih belum tahu mana yang benar dan salah. Dan tahapan terakhir zaman Kalasuba dirasakan dengan kesadaran, kestabilan dan kewaspadaan.

Kehidupan akan terus berputar bersama masuknya berbagai informasi dan tekhnologi yang membuat orang semakin tamak dan serakah seperti perkataan Raden ngabehi Ronggo Warsito tentang “Jaman Edan, yen ora edan ora keduman. Nanging sak bejo-bejone wong edan, isih luweh bejo wong kang iling lan waspodo” (Zaman sudah gila, kalau tidak ikut gila tidak kebagian. Seberuntung–beruntungnya orang gila masih beruntung orang yang ingat dan waspada) sebuah kalimat ramalan serat kalatidha berbentuk syair yang pernah aku baca di stiker mobil bak tetanggaku.

Pada zaman ini orang akan tergila-gila dengan uang, mereka gelap jiwa dan bingung pikiran, kehidupan akan sangat sulit. Sedangkan kemiskinan telah merajalela, mereka tertidas dan kelaparan. Bumi tidak lagi memberikan kekayaannya, banyak orang yang berbuat jahat karena dikuasai oleh nafsu serakahnya. Dan ketika Tuhan berkehendak untuk menghentikan siklus, maka kehidupan akan berhenti, mungkin bisa sebuah kematian, kerusuhan, wabah atau bencana alam bahkan kiamat sekalipun. Janji Tuhan pasti, seuntungnya orang yang lupa daratan lebih selamat orang yang menjaga kewarasan dan kesadaran. Semakin modern zaman akan semakin dekat dengan berhentinya siklus, diganti dengan kehidupan yang baru.

Berhenti memikirkan siklus yang membingungkan, aku belum ingin mati cepat karena liburan sekolah ini aku berencana main bersama Noe. Katanya akan ada pertujukkan wayang oleh dalang ki Seno Nugroho dikampung sebelah, ada juga tanggapan campur sari dan ludruk dalam memperingati acara sedekah bumi, upacara adat yang dilakukan pada awal bulan muharam dan syura, acara yang melambangkan rasa syukur kepada Tuhan karena memberikan rezeki berupa segala bentuk hasil bumi. Meskipun beberapa tokoh agama menyebut acara ini penuh dengan kesyirikan, aku tidak peduli dan hanya ingin melihat aksi para wayang.

“Ayo balapan” aku menoleh suara itu, Noe sudah menaiki sepedanya dan memberi isyarat kepadaku untuk mengambil sepeda Julius yang terparkir di depan rumahnya. Aku segera meluncur mendahuluinya di jalanan lewat persawahan yang sekarang sudah diaspal, padahal dulu waktu ke Puthuk duwur jalannya masih tanah dan batuan cadas. Lalu aku berhenti disumur sumber air diarea persawahan, disusul Noe yang memarkir sepedanya. Kami mengambil air untuk minum dan mencuci muka.

“David angajak nang suku Samin” (David ingin mengajak ke suku Samin) “Samin Blora?” Noe menceritakan suku Samin juga mempunyai kitab suci seperti agama lain namanya Serat Jamus Kalimasada, Noe tahu kalau aku suka membaca jadi dia terus mempengaruhiku. “Serat Jamus Kalimasada” gumamku, seperti sebuah kitab dipewayangan, kalau tidak salah tentang kalimat syahadat yang dibawa oleh Sunan Kalijaga, tapi aku tidak yakin. Sepertinya aku juga tidak bisa liburan tahun-tahun ini, karena masih banyak jadwal pertandingan basket antar sekolah. Kami kembali menaiki sepeda menuju pasar tradisional, sambil memikirkan tentang ajakan David.

Lihat selengkapnya