CHAPTER 3
KELULUSAN SEKOLAH MENENGAH
Nilaiku cukup bagus, meskipun bukan bagian murid pintar dikelas, tapi ini membuatku bergegas mendaftar di sekolah sebelah, bersama Lukito yang kebetulan mendaftar di SMA Nusa. “Kamu nanti ikut kejuaraan basket lagi Yos?” “Banyak kakak tingkat yang lulus, jadi tim Spartan habis dan terus berkurang” “Sayang sekali, oh ya kenapa kamu tidak ikut acara perpisahan kelas kemarin?” “Aku ada acara dirumah. Eh kamu tahu sekolah dimana Maya sekarang?” “Aku sudah tidak akrab dengannya, terakhir kemarin komikku ada yang dipinjam dan belum dikembalikan” “Mungkin dia lupa” “Memangnya uang jajanmu tidak pernah hilang dari tas?” mungkin sesekali pernah tapi aku tidak bisa menuduhnya.
“Astaga aku ingat pesan-kesanmu di album alumni” Lukito tertawa sambil mengingatkan kutipan yang aku tulis “Capung terus tertawa melihat anak nakal jatuh ke parit ketika dia gagal menangkapnya, tapi belalang tidak peduli” “Karena aku bingung harus menulis apa” “Memangnya kamu tidak memiliki kesan apapun waktu dikelas? Setauku memang kamu tidak berteman dengan siapapun kecuali dengan Maya” “Lagi pula aku sibuk berlatih kejuaraan basket” “Diusia pelajar seperti kita harusnya kamu banyak berteman” “Kamu berbicara seperti orang tua” dia teringat Big mom, orang tua memang suka banyak bicara.
“Eh kamu pernah menggambar Bu Fatmi di buku paket Matematika ya?” “Tahu darimana?” “Aku kan duduk dibelakangmu” dia menegurku seperti orang tua “Itu namanya vandalisme, kamu tidak boleh melakukannya, mana pakai bolpoin lagi” “Mungkin itu kesan terakhirku” “Lain kali gambar yang besar dan tempel di mading atau buat komik seri Big mom sekalian, sayangkan bakat terpendammu” aku sepakat dengan sarannya. Setelah perbincangan ini, kami jadi jarang bertemu karena ruangan kami berbeda, saling membelakangi.
Beberapa kali aku mengamati guru bahasa Inggris mengisi mata pelajaran dikelas, tidak ada yang aneh dari tampangnya, seperti guru pada umumnya yang baik, pintar, mempunyai hubungan harmonis dengan keluarga dan lingkungan kerjanya. Tampangnya bertolak belakang dengan tingkahnya bersama Bu Rani diruang gamelan, aku jadi teringat terakhir kelulusan, aku sudah tidak lagi melihat guru bahasa inggris SMPku mengajar ke sekolah. Kemana Bu Rani?
Didalam kelas dengan suasana baru, aku duduk random sebangku dengan Rika, teman yang aktif debat dan bertanya pelajaran apapun. Sebenarnya aku tidak peduli dengan siapa aku berteman, karena terbiasa melakukan kegiatan sekolah sendiri, lagi pula aku ingin serius belajar, menyibukkan diri bersama tumpukan buku di Perpustakaan, aku tidak akan mengulangi kesalahan dalam bernalar dan mendapatkan nilai akademis seperti sebelumnya.
Sesekali aku memperhatikan Rika bersama teman–teman dikelas saling bercerita tentang idola di sekolah, ini hal biasa bagi remaja seperti kami, mengagumi kakak senior dan teman seangkatan yang tampan, pintar dan keren. Mereka saling menggoda, memberikan kado atau surat cinta dan bertukar nomor telephone untuk janjian keluar di malam minggu. Banyak provider sim card yang berlomba-lomba menyeponsori para remaja untuk mendekati pasangannya dengan memberikan bonus Free talk, berbicara ditelephone sepuasnya di jam tertentu tanpa mengurangi pulsa, biasanya berlaku di waktu malam hari sampai pagi, tentu ini mengganggu istirahat kami sebagai pelajar.
Setiap para idola sekolah lewat, beberapa teman perempuan berteriak histeris, ada yang mengendap sambil mengintip dan saling memberi tahu teman yang lain, sangat lucu. Masa SMA memang yang paling istimewa, kami mulai pintar menjaga penampilan dan bisa menarik perhatian lawan jenis dengan prestasi masing–masing, tapi anak band dan basket masih menjadi target incaran para Secret admirer, begitu kata band Mocca.
Sebagian temanku berpenampilan pop milenial dengan sentuhan Harajuku style dimana tahun ini model Jepang memang sedang trend. Ada juga yang bergaya emo (Emotional hardcore) yang terinspirasi oleh aliran musik punk rock, mereka sangar diluar tapi sebenarnya melankolis didalam. Emo-kids biasanya memakai pakaian dan atribut yang serba hitam, ditambah eyeliner hitam dan rambut poni panjang tertiup angin sepoi-sepoi. Sifatnya misterius, introvert dan sensitif membuat temannya penasaran. Subkulture ini mungkin susah dipahami oleh bagian dari masyarakat arus utama.
Pulang dari sekolah aku mampir ke warung mbok Nah langgananku, beliau sebelum membuka warung di kota pernah tinggal dikampungku beberapa tahun, sekarang bersama suaminya yang berprofesi sebagai tukang becak hijrah mencari rezeki dikota yang katanya lebih mudah. Jadi aku cukup mengenal beliau.
Mbok Nah mengaduk sambal pecel yang menggumpal dicampur dengan air panas, aku menunggunya meracik sepiring nasi pecel lauk hati ampela dan peyek kacang untuk makan siangku. Beliau setiap hari menunggu dan tidur di warung jadi tahu berita yang terjadi disekitar sekolah. “Mbok jenengan yen sadean nganti dalu ngoten niku aman nopo? Warunge celak kuburan” (Mbok kalau jualan sampai malam aman tidak, warung ini dekat kuburan) “Ono bocah wedok seragam sekolah bengi–bengi lewat ngarep warung, pas balik kok ilang mlebu kuburan, ora yo demit ngunu iku” (Ada anak perempuan pakai seragam sekolah malam–malam lewat depan warung, waktu dia balik menghilang masuk kuburan, apa tidak setan itu) ekspresi mbok Nah membuatku penasaran.
“Biyen ono bocah gantung diri nang WC mburine ruang gamelan SMPmu, iku paling bocah sing lewat warung” (Dulu ada anak gantung diri di kamar mandi belakang ruang gamelan SMPmu, mungkin anak itu yang lewat warung) “Ngoten niku dianggep penglaris warung mawon mbok” (Seperti itu dianggap buat penglaris warung saja mbok) “Yen ngunu ora usah repot golek penglaris nang gunung Kawi yo” (Kalau begitu tidak usah repot cari penglaris ke gunung kawi ya) “Leres mbok” (Betul mbok) aku jadi teringat anak buah kepala desa yang suka bersemedi ke gunung kawi.
“Kulo mboten nate ketemu Bu Rani, mbok Nah tasek ningali?” (Aku tidak pernah bertemu dengan Bu Rani, mbok Nah pernah lihat?) “Wonge cuti, soale meteng gede. Jarene mari pisah karo bojone, wong meteng kok dipegat, kan duso” (Orangnya cuti, karena hamil tua. Katanya habis pisah dengan suaminya, orang hamil kok dicerai, kan berdosa) cukup terhenyak oleh perkataan beliau, aku harus mencari tahu.
Sorenya aku kembali aktif melatih otot-ototku yang sudah mulai kendor karena jarang berlatih fisik. Masih bersama Dias, kami berkumpul disore hari dilapangan basket sekolah untuk tunjuk aksi Jump-shot. Mungkin kami akan mengikuti kejuaraan terakhir ditahun ini karena tim inti hanya ada teman–teman seangkatan Dias yang akan lulus tahun depan. Tim kami masih berharap mendapatkan juara Big Three meskipun satu per satu tim senior mulai berguguran, karena usia yang tidak memenuhi syarat sebagai pelajar dan kurangnya antusiame dari generasi yang melanjutkan perjuangan.
Disela persiapan pulang latihan aku mendekati Dias “Kak Bu Rani kata mbok Nah cuti ya?” dia pasti tahu info dari ayahnya “Sudah resign, tidak mengajar lagi” “Loh kenapa?” aku pura–pura tidak tau “Konflik internal sesama guru dan juga keluarganya mungkin” “Konflik apa?” dia curiga dengan my- knowing every particular object dan membaca ekspresiku “Ada apa kak?” “Aku tahu kamu ternyata yang menyebarkan foto Bu Rani, karena hanya kita yang ada dilapangan sore hari, kamu pasti yang melakukannya” Dias terus membuatku terpojok “Serius aku tidak tahu maksud kakak”
“Sumpah kamu tidak menyebar foto Bu Rani?” aku menyilangkan jariku, Dias tidak percaya “Tapi kamu yang ambil foto mereka, di foto itu ada tanggal dan jamnya, aku pikir tukang kebun yang melakukannya. Aku jadi ingat ketika latihan basket waktu itu” “Tapi kak” “Nah kan benar” aku terus menggeleng karena tidak merasa menyebarnya “Jadi siapa yang tahu foto itu selain kamu? Ada yang sengaja menyebarnya” tanya Dias lagi “Siapa Yos?” “Aku tidak tahu, mungkin Maya teman sebangku, hanya dia yang … oh bluetooth” aku teringat sesuatu “Aku pernah mendapati handphoneku dengan bluetooth yang masih menyala, mungkin dia diam–diam mentransfer foto dari galleryku?” “Dimana temanmu?” aku menggeleng, Maya memang ahli dalam melakukan rahasia.
“Jadi apa yang terjadi?” “Kamu bisa menyimpan rahasia?” “I swear” “Disekolah sebenarnya sudah bukan menjadi rahasia lagi, jadi sebagian guru saling tidak menyapa satu dengan yang lain karena alokasi dana sekolah dan sumber daya yang tidak transparan. Ada aturan–aturan dari komite dan kepala sekolah yang mereka langgar” “Mereka?” “You know what I mean, jadi foto itu telah mempercerah keadaan konflik. Sudah ayo pulang, jangan ikut campur urusan orang, ketularan bermasalah nanti” kami mengakhiri latihan.
Terinspirasi tokoh poliglot, aku memilah buku-buku diperpustakaan sekolah dan menemukan biografi KH Agus Salim “The Grand Old Man” pahlawan Nasional yang menguasai banyak bahasa asing dan bahasa daerah, beliau memimpin delegasi Indonesia di forum PBB dan mempunyai misi diplomatik memperkenalkan Indonesia ke dunia luar. Kejeniusan dan kesederhanaan membuatnya disegani para tokoh negara dan membuatku tergila–gila dengan cara pandangnya.
Istirahat kelas, kakiku berselonjor diatas karpet hijau ruang Perpustakaan, membaca cerita dari KH Agus salim yang lahir di Sumatra Utara. “I know him” “Eh” seorang murid laki–laki kelas sebelah mendatangiku, aku tahu namanya Praja. Sosoknya tinggi, badannya kurus, gaya rambut under cut, matanya jernih berbinar dan memiliki raut muka yang sangat manis. Kami tidak kenal dekat, aku hanya dengar cerita dari teman-teman kelas yang mengidolakannya. Tentu saja dia tahu tokoh yang aku baca, karena dia juga keturunan Minang, keluarganya punya RM Padang tidak jauh dari sekolah.
“Hei” sapaku salah tingkah “Kau pun suka baca, salam kenal yo ambo Praja” dia duduk disebelahku memegang buku yang akan dipinjam, aku melirik buku Sains itu yang berjudul Cosmos. “Aku Yosi, kamu sering pinjam buku juga ya, sebenenarnya di Perpus kota koleksinya lebih lengkap” astaga aku terlalu bersemangat dengan teman yang baru saja memperkenalkan diri “Kalau begitu ambo bisa temani ke Perpus kota pulang sekolah” ajak Praja “Tentu” tetap berusaha dingin dengan tidak menanyakan apapun, lalu aku berpamitan ke kelas “Yosi nomor handphone ko?” “Oh ini” selama berbicara aku merasa mukaku memerah, jadi aku buru–buru meninggalkan ruang Perpustakaan.
Keberadaan Praja membuatku canggung, aku memastikan bahwa dia hanya ingin berteman, bukan berkencan atau semacamnya, harusnya aku relaks. Setelah bertukar SMS, Praja duduk diatas motor matic warna hitamnya didepan kos. Gayanya kasual dengan kaos hitam polos, celana denim selutut dan sandal selop, aku bersiap keluar dengan tidak kalah kasualnya dengan memakai kaos o neck abu–abu oversize dipadukan skinny jeans hitam, aku mengikat rambut bobku, membawa totebag hitam untuk wadah buku.“Lah siap?” aku mengangguk, Praja menyodorkan helmnya untuk aku pakai, kami mengarungi samudra jalanan beraspal.
Dia mengajakku berbicara ditengah angin yang berisik “Yosi kau nak cari buku apo?” “Tentang sastra mungkin” “Kau nanti ambil jurusan bahasa yo, terinspirasi oleh KH Agus Salim?” “Ya dan kamu pasti ambil jurusan IPA” “Let see, kau tahu tak urang nan kuasai bahasa asing terbanyak?” “Siapa?” “Emil Kerbs, anak tukang kayu dari Jerman, inyo menguasai 68 bahasa” “Cool af” “Manga kau tak ado kawan?” “Apa?” Sebelum Praja menjawab, kami telah sampai di Perpustakaan kota, lalu berjalan terpisah menyusuri bagian rak buku yang kami tuju masing–masing, aku berkutat dibagian Sastra budaya dan Praja berkeliling di bagian Sains.
Aku duduk dibangku kayu panjang, memilih buku mana yang akan aku pinjam, 10 menit kemudian Praja duduk disampingku “Apa maksudmu aku tidak punya teman?” “Ambo jarang tengok kau kumpul dengan kawan di sekolah, kau selalu pergi sorang, you okay?” aku tidak menyangka dia memperhatikanku “Apa aku terlihat tidak baik–baik saja?” “Mungkin kau cukup pintar berkamuflase” aku mengernyitkan dahi “Jadi apa karena itu kamu mendekatiku? Menurut filosofi Jawa bayangan dari diri kita sendiri adalah teman, karena teman yang nyata sesungguhnya bisa menjadi musuh” “Kau bapikir someday ambo nak tusuk kau sebagai musuh yo?” “Who knows” kecanggungan itu menghilang bersama tawa.
Sampainya dikamar kos, aku masih penasaran dengan sikap baik Praja tapi aku memastikan untuk tidak jatuh cinta dengan siapapun sampai aku siap dengan konsekuensinya. Aku membuka totebagku, mengeluarkan sebuah buku yang telah aku pinjam, berjudul To kill a mockingbird karya Harper Lee, tentang seorang pengacara yang membela keadilan dan penolakan atas diskriminasi rasial, ketidakadilan atas nasib orang kulit hitam yang terjadi disebuah kota di Alabama pada masa great depression, di waktu jatuhnya ekonomi dunia akhir abad ke 20. Deskriminasi seperti ini sering sekali terjadi, bahkan aku mengaitkannya dengan kejadian waktu SD, Ipah selalu menjadi pihak yang teraniaya karena perbedaan sudut pandang, sampai berdampak kepada kesehatan mental dan masa depannya.
Buku ini juga telah membangkitkan semangat berkeadilan dimana menceritakan sudut pandang orang yang sedang menghadapi krisis ekonomi dan sosial tapi juga dengan segala macam ancaman yang diterima karena telah berani menegakkan kebenaran dikondisi negara yang sedang tidak baik–baik saja, seperti dalam kerusuhan 1998. Sebenarnya masih banyak buku sastra dan genre lain yang menjadi wishlistku, entah kapan aku bisa meminjam dan membaca semua, mungkin dengan tidak banyak bermain dan berteman bisa membuatku fokus menyelesaikan buku–buku itu.
ANTUSIAS KENAIKAN KELAS
Aku akan mengasah kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi dengan dunia luar seperti KH Agus Salim, meskipun perlu usaha keras untuk menjadi seperti beliau tapi bukankah bercita–cita tinggi tidak merugikan siapapun? Aku mengambil jurusan Bahasa (Jepang), karena suka mempelajari kebudayaannya. Pak Yogi, aku tidak akan membahasnya dengan Bu Rani kali ini. Aku menghormati beliau sebagai guru bahasa Jepang yang juga mengajar bahasa Inggris dikelas dengan sangat lugas dan kompeten, beliau aktif mempromosikan budaya tradisional Jepang. Aku tidak mau menyebutnya Wibu, bukan ini konsepnya. Aku sendiri tidak mau disebut Otaku atau Wibu karena tidak terobsesi dengan budaya pop Jepang.
Aku duduk dibangku paling depan, mengamati beberapa teman yang aku kenal juga memilih jurusan yang sama. “Yos sama aku lagi” Rika segera duduk disampingku “Loh bukannya kamu ambil jurusan IPS?” “Tuhan maha membolak–balikan hati manusia” candanya. Murid jurusan bahasa selalu unik dan berbeda, kebanyakan orang menganggap jika murid yang masuk kelas ini adalah murid buangan karena tidak masuk jurusan kasta tertinggi IPA dan kasta selanjutnya IPS, tapi setelah aku perhatikan, hampir semua teman yang pintar menjadikan kelas bahasa sebagai pilihan utama.
Beberapa teman dikelas terlihat mencolok antara lain, Rika yang super aktif, ada Joni yang berbadan gembul dan suka main musik rock, ada Uti yang gayanya centil dan gaul, ada Mathew yang bergaya slay dan ada si jenius …”Hei Praja” Uti berebut duduk dibangku sebelah Praja tapi Mathew datang menariknya “OMG Uti similar gender please” Uti kesal, datanglah Joni menggeser Mathew “Siput pisang minggir” “Kamu pikir Mamat hewan berkelamin ganda” ucap teman yang lain, disini aku tahu jika Mamat adalah panggilan akrab untuk Mathew.
Pak Yogi masuk kelas menyambut kami “Good afternoon students, whats up? Seems fine ya. You already know me from previous class by teaching english. So there’s no need for any more introductions now, I hope you will enjoy studying Japanese with me” terjeda “Saya bagikan buku paket dan latihan soal, kalian baca dulu, pahami budayanya. Nanti kita belajar Hiragana, Katakana dan Kanji step by step, ada pertanyaan?” “No sir, it’s clear enough” jawab kami serempak sambil berkemas pulang karena hari pertama hanya perkenalan. Aku segera merapikan buku, perutku kram, aku berlari menuju pintu kelas untuk pulang pertama “Yosi” aku mengacuhkan suara itu. Notifikasi SMS masuk dari Praja.
Hei what happen? I’ve bothered you.
Im in periode. Why you choose Bahasa class. Arent you bored of meetin’ me?
Why you think so, can’t we learn together? (True)