AKULTURA

Intan widya sari
Chapter #4

MUSIM PANAS DI NAGOYA

CHAPTER 4

MUSIM PANAS DI NAGOYA

Kami berempat ditemani Tanaka Sensei pergi ke salah satu desa, sepanjang jalan melewati pohon sakura dan jejeran rumah tradisional khas Jepang. Aku seperti menghirup aroma khas yang tidak asing di hidungku, suasana Jepang yang familiar meskipun baru pertama kali datang dan pertama kali melihat pohon sakura. Kami berjalan memasuki sebuah Minka rumah tradisional Jepang, disambut oleh orang tua angkat kami, Kenji Ojisan (Paman) dan Nami Obasan (Bibi) yang juga pemilik rumah. Kami semua saling membungkuk untuk memberi salam.

Mulai dari pintu masuk terdapat Genkan, koridor tempat penghuni rumah atau tamu masuk dan melepas sandal mereka di rak atau lemari Getabako. Lalu ke ruang keluarga Washitsu yaitu ruang unik dan serba guna yang beralaskan tikar Tatami, sejenis tikar tebal yang terbuat dari jerami. Kami juga melihat lorong yang disebut dengan Rouka berada di pinggir rumah berlantaikan kayu. terdapat dua jenis dapur Daidokoro, dapur yang di dalamnya terdapat tungku biasa dan yang kedua tungku yang digantung, kedua jenis tungku tersebut menggunakan kayu bakar.

Berlanjut ke Tokonoma ruangan pemujaan yang berukuran lebih kecil dari ruangan lain, letaknya di dalam kamar dengan posisi lebih tinggi beberapa inch dari lantai tatami, ruangan ini diilustrasikan sebagai dewa, sedangkan lantai bawah diilustrasikan sebagai manusia. Ruangan yang juga menjadi tempat ibadah kami. Kloset jongkok menggunakan Washiki dari bahan porselen dan terdapat Runma jendela kecil di atas pintu, antara shouji dan plafon untuk memberikan sirkulasi udara dan cahaya. Malam ini kami tidur di Futon kasur yang digelar diatas lantai tatami seperti tempat tidur Nobita di serial kartun Doraemon, aku sekamar dengan Uti, Praja dengan Mamat. Kami membongkar barang bawaan, beristirahat sebelum memulai aktivitas besoknya. Aku membuka notifikasi SMS dari Praja.

Why you so quiet these few days? Can we spend the time just two of us?

Great day! Just stay focus and hold on, we need to learn a lot here.

Aku merebahkan badan, Uti sibuk membersihkan mukanya, dia melirikku “Apa?” aku mengkodenya segera mematikan lampu yang menyilaukan mata, setelah itu dia beranjak ke tempat tidur. “Yos apa kamu punya the special one?” “Uti you know where we are now” “Kamu tinggal bilang ya atau tidak” “Ya, I have” jawabanku membuatnya senang “Sounds good, apa yang kamu lakukan untuk membuatnya jatuh cinta?” “Should I say Yes or No” “Ayolah” dia merengek “Jadilah dirimu sendiri, itu yang aku lakukan” ”Lalu apalagi?” aku menguap menahan kantuk “Lalu tidur” dia jengkel, aku menyelimuti mukaku.

Sekolah menengah Jepang memiliki tiga semester, tahun ajaran dimulai pada bulan April dan berakhir pada bulan Maret. Liburan musim panas berlangsung selama kurang lebih 5 minggu pada bulan Juli sampai bulan Agustus. Sedangkan libur musim dingin selama 2 minggu pada bulan Desember sampai bulan Januari, serta libur musim semi pada bulan Maret sampai bulan April. Libur sekolah adalah kesempatan yang bagus untuk melihat lebih banyak tentang budaya Jepang melalui perjalanan wisata.

Kami memiliki waktu sekitar dua minggu liburan musim panas sebelum mengikuti kegiatan disekolah Nagoya, minggu pertama kami diajak Oji ke Nagoya Castle, melihat koleksi benda seperti artefak dan lukisan bersejarah didalam Honmaru dimana banyak terdapat benda peninggalan keluarga Tokugawa dari generasi ke generasi yang berupa baju perang, katana, perisai dan senjata lain. Beliau menceritakan sejarah yang terjadi pada perang dunia II yang mengakibatkan beberapa koleksi rusak dan terbakar. Ada juga replika Kinshachi yaitu sepasang patung ikan berkepala harimau dari emas yang berada diatas istana, selanjutnya berkeliling menikmati taman diarea istana.

Selain pergi berwisata, kami membantu Oji berkebun dan membantu Oba memasak makanan halal serta membersihkan rumah. Beliau menanam berbagai macam sayur di samping rumahnya seperti simbah dikampung.

Aku mengambil lobak dengan wadah dari anyaman bambu “Ojisan, gakko de bunka ya rekishi o oshiete imasu ka?” (Paman, apakah anda disekolah mengajar budaya dan sejarah?) “Hai so desu, nani ka kikitai koto wa arimasu ka?” (Iya betul, ada yang ingin kamu tanyakan?) aku menggaruk-nggaruk kepalaku “Kono yona koto wa yurusa remasu ka? Indonesia no shokuminchishugi ni tsuite, okorudarou ka?” (Apa hal seperti ini boleh? Hal tentang penjajahan yang terjadi di Indonesia, apa anda akan marah?) “Wakarimashita, soreru hitsuyo wa arimasen, okotae shimasu” (Aku mengerti, kamu tidak perlu takut, aku akan menjawabnya)

“Shokuminchishugi ni tsuite wa daremoga shitte imasu, Shikashi dono kuni ni mo rekishi o oshieru seisaku ga aru. Anata no kuni mo wagakuni to onaji seisaku o tori, waruikoto wa subete inpei shinakereba narimasen. Watashi-tachi wa ano warui koto kara manabimashita, nidoto okoranai koto o negatte imasu. Dakarakoso, watashitachiha otagai ni tasukeai, kyoryoku shiyou to tsumete imasu” (Kami tahu penjajahan itu tapi semua negara mempunyai kebijakan untuk mengajarkan sejarahnya. Negaramu pasti juga punya kebijakan yang sama dengan kami, dengan menyembunyikan segala hal yang tidak pantas dan belajar dari sejarah kelam itu, semoga hal buruk tidak terjadi lagi. Karena itu mulai sekarang kita akan saling membantu dan berkolaborasi) beliau meyakinkan.

Minggu kedua, seorang laki-laki berusia sekitar 25 tahun datang ke minka, Oba memperkenalkannya kepada kami. “Kore wa watashi no musukodesu, kare no namae wa Ryudesu. Kare wa Tokyo de hataraite ori 2-shukan ni 1-do kitaku shimasu. Ryu ga Higashiyama no doshokubutsu-en to sukaitawa e go annai shimasu” (Ini anakku namanya Ryu, dia bekerja di Tokyo dan biasanya dua minggu sekali pulang. Ryu akan mengajak kalian pergi ke Zoo & Botanical garden dan sky tower di Higashiyama) wajah kami berseri dengan menjawab serempak “Hai, kore wa tanoshideshou” (Baik, ini akan menyenangkan)

Sampainya di Higashiyama, Praja mengawali perbincangan “Kono dobu-tsuen wa totemo okidesu” (Kebun binatang ini sangat besar) Kibo ga oki dakedenaku. Ueno dobut-tsuen ni tsuide 2 banme ni nigiwau basho demo arimasu” (Selain besar, tempat ini menjadi yang tersibuk ke dua setelah kebun binatang Ueno) Ryu menjelaskan “Ueno dobut-tsuen wa dokodesu ka” (Dimana kebun binatang Ueno?) “Tokyo de” (Ada di Tokyo) lalu kami berlanjut menelusuri botanical park dimana terdapat berbagai macam tanaman yang lebih dari 7.000 jenis, ada kebun yang bertema vegetasi serta area pertumbuhan khusus, ada beberapa kolam dan rumah kaca tertua di Jepang yang telah ditetapkan sebagai properti budaya.

“Natsu wa midori o tanoshimu no ni saitekina-bidesu” (Musim panas adalaha hari terbaik untuk melihat tanaman hijau) “Tadashiku” (Betul sekali) Ryu menyepakati ucapanku “Shashin o totte mo idesuka” (Apakah kami boleh berfoto?) tanya Mamat “Hai, tadashi purabashi o shingai suru tame, hokanohiti no shashin o toranaide kudasai” (Boleh, tapi jangan sampai ambil foto pengunjung lain karena melanggar privasi) “Hai” (Baik)

Puas berfoto, berlanjut ke Sky tower yang berbentuk seperti jarum kaca dan memiliki tinggi 214 meter, kami menuju ke atas dengan menaiki lift khusus dan melihat pemandangan panorama kebun binatang dan kebun raya dibawahnya, bersama pemandangan matahari terbenam disore hari yang indah. Mamat menyeletuk “Totemo romanchikkuna basho” (Tempat yang sangat romatis) aku dan Praja saling pandang, memikirkan hal yang sama, Ryu berkomentar “So, patona ga iru hito ni totte wa romanchiku-desu. Kanojo wa imasu ka?” (Iya romantis untuk yang memiliki pasangan. Kalian memiliki kekasih?) “Ie, madadesu, wakarimasen” (Tidak, belum, entahlah)

Sampainya dirumah kami langsung beristirahat, sedangkan Ryu kembali ke Tokyo, karena besok dia harus bekerja disalah satu perusahaan media massa. “Liburan yang menyenangkan” ucap Uti sebelum tidur “Besok kita sudah ke sekolah Nagoya” aku menambahi “Apa kamu sudah siap?” “Aku sedikit gugup” “Aku juga, Yos kamu mau membantuku?” dia memohon sambil tersenyum “Ini moment yang tidak akan terlupakan, sepertinya aku sudah beberapa kali mengucapkan hal ini, aku menginginkan sesuatu yang romantis”

“Apa yang harus aku lakukan?” “Kamu sahabat Praja, bantu aku mendekatinya” “Oh should I?” dia memastikan ”Ayolah kamu yang lebih tahu. Apa yang disukainya atau apapun yang kamu tahu” aku terus menggeleng “Kamu tidak tahu apa–apa?” ”Sorry but shouldn’t we sleep soon?” “Astaga kenapa kamu suka sekali tidur?” aku menjawab dengan kedipan mata yang tidak berarti untuknya.

BERANGKAT KE CHUGAKKO

Kami ditemani Oji yang mengajar disekolah itu. Murid dikelas kurang dari 20 anak karena setiap tahun Jepang mengalami penurunan murid. Ini mengakibatkan beberapa sekolah didesa mulai tidak terpakai, sebagian telah dialih fungsikan, jadi banyak murid berpindah sekolah diperkotaan. Oji pernah berkata jika penduduk Jepang semakin tahun semakin sedikit, khususnya jumlah anak–anak dan remaja karena banyak pasangan yang tidak menikah dan tidak mau memiliki keturunan. Berbanding terbalik dengan di pulau Jawa yang semakin hari semakin sesak hingga terus–terusan membabat habis hutan untuk perumahan dan perindustrian.

Dikelas, kelompok murid laki–laki terpisah dengan kelompok murid perempuan, temanku disini jarang yang berbicara keras dan menutup mulut dengan tangan jika tertawa, tapi tetap saja mereka mempunyai nenek moyang yang suka menjajah negara lain dengan sadis dan tidak manusiawi, sikap ini bertolak belakang. Selain belajar pengetahuan umum kami juga mengambil kelas–kelas seni dan budaya seperti kelas Origami, Ikebana dan Kaligrafi, mempelajari seni penghibur tradisional Geisha, mengikuti upacara minum teh Sadou, mengenakan pakaian tradisional Kimono, membuat layang–layang Tako dan kebudayaan lainnya.

Salah satu teman dikelas bernama Akemi, dia paling sering berinteraksi dengan kami “Yosi-san Tuti-san kino no hanabi taikai o mimashita ka?” (Yosi dan Tuti, kalian kemarin melihat kembang api perayaan hanabi?) “Mite imasen, naze?” (Kami tidak melihat, kenapa?) “Manatsu ni pittari no nipponbunka no hitotsudesu” (Padahal itu adalah salah satu kebudayaan Jepang yang bagus di pertengahan musim panas) “Honto? Watasitachi wa sore o miru koto ga dekimasendeshita” (Benarkah? Sayang sekali kami tidak sempat melihatnya) Uti menoleh kepadaku sambil cemberut “We’ve passed another romantic moment”

Kata Akemi banyak festival menarik dimusim panas yang bisa diikuti, ada Tanabata, Tsukimi, Hakata gion yamakasa, Tenjin matsuri, Awa odori, Akita kanto matsuri dan Nebuta matsuri, tapi acara festival kebudayaan tersebut biasanya berhubungan dengan agama Shinto.

Lebih dari satu bulan beraktivitas di Nagoya, kami telah terbiasa dengan lingkungan sekitar. Jadi kami berempat minta izin ke orang tua angkat untuk pergi ke taman dekat rumah. Bulan September adalah musim gugur, sepanjang jalan terlihat banyak tumpukan sampah dedaunan disudut jalan tapi tidak ada sampah lain, orang Jepang sangat sadar dengan kebersihan. Jalan didaerah sini cukup sepi, tidak ada tetangga menyapa dan orang–orang hidup secara individual.

Kami menyusuri sungai dan berhenti untuk menikmati taman, bisa duduk dan rebahan dirumput dengan leluasa dibawah pohon sakura, katsura dan momiji yang tidak banyak daun dan bunganya karena berguguran. “Kok tidak ada ... panjang umur tukang es” aku berlari membeli es serut ditepi jalan, Uti mengikutiku. Kami kembali membawa dua cup es serut masing–masing untuk Praja dan Mamat “Pilih yang mana? Ada rasa buah persik, kesemek, anggur dan aku mengarang” “Ah terserah Yosi” Mamat jengkel sambil mengambil salah satu es yang dibawa Uti.

“Apa kabar teman–teman kelas bahasa ya?” tanya Mamat “Apa pedulimu, tidak ada yang menanyakan kabar kita juga” sahut Uti “Mamat telah rindu Joni” kata Praja, kami tertawa mengingat Joni yang sering meledeknya dikelas “Kenapa kamu mau dipanggil Mamat, nama kamu kan Mathew?” aku bertanya sambil menyeruput esku “Joni pula tu nan awalnyo panggil Mamat” “Jadi panggilan kesayangan nih” Uti menyimpulkan.

“Bicara soal sayang, kata Praja kalian berkencan, ayo traktiran ramen” Mamat menyudutkanku, Praja tersenyum dengan muka innocent-nya, tapi Uti terkejut ”Oh ya?” “Tidak mau diminta traktiran makanya diam mereka” Uti masih dengan oh panjang dan berakhir “Congratulations” “Ah pulang saja, nanti dicari orang rumah” ajak Mamat beranjak dengan anggun “Makan dulu, ambo nan traktir” Praja mengabulkan permintaan Mamat “Yes berhasil” dia tertawa puas, aku mendekati Praja dan berbisik “Kamu tahu hal seperti ini bisa mengacaukan perjalanan kita” “Tak perlu berlebihan, we’ll be fine”

Kami duduk disalah satu kedai disepanjang jalan arah pulang, memastikan kedai yang kita pilih menjual makanan halal. Mamat memesan seperti permintaannya, Praja memilih menu Onigiri, Uti memesan Takoyaki, aku sendiri memilih Okonomiyaki. Menu sudah sepaket dengan sebotol minuman matcha. Kami sengaja memesan menu berbeda supaya bisa saling mencicip makanan masing–masing, kami juga membelikan ubi manis Daigaku imo untuk Oba dan Oji dirumah.

Malamnya, aku menyadari jika Uti sedang kesal denganku, terlihat dari caranya menghela nafas panjang dan merebahkan badannya. Jadi aku diam, dia mengawali percakapan “Why do I feel so stupid and why don’t you tell me everything?” “Kamu tidak bodoh, itu bukan hal yang penting untuk dibicarakan. Maaf, kamu berhak marah” “Aku tidak marah, harusnya aku yang minta maaf ke kamu atas sikapku ke Praja” aku menyelanya “No, you don’t. Kamu tidak salah” “Sebenarnya aku cemburu denganmu, Praja terus tertawa jika bersamamu dan harusnya kamu katakan ini dari awal. tapi kamu berhak mendapatkannya, kalian memang serasi” aku terkesan dengan ketulusan sikapnya.

Aku mendekati Uti “Hei kita masih berteman kan?” “Ya, dengan siapa disini aku berteman jika tidak denganmu” balasnya “Aku berharap hal ini tidak mengganggu waktu belajar kita di Nagoya. Jadi jangan sampai seluruh managemen tahu, kamu mengerti?” aku menegaskan, dia mengangguk.

KEGIATAN DI NAGOYA

Masih berjalan normal, kami telah mengikuti semua kelas seni dan budaya dengan baik sesuai aturan. Kami juga belajar kelas kharakter orang Jepang seperti nilai kehidupan Ikigai (Menemukan alasan hidup dengan memutuskan apa saja yang kita sukai, apa yang kita butuhkan, apa yang kita kuasai dan apa yang bisa kita bayar) Oubatori (Tidak membandingkan diri dengan orang lain dan menerima keunikan diri sendiri) Kaizen (Perbaikan diri dari tindakan kecil secara bertahap yang akan menjadi kebiasaan dan mengarah pada kesuksesan) Wabi-sabi (Menikmati keindahan dalam ketidaksempurnaan dengan cara menghargai kesederhanaan, menerima semua hal yang sifatnya sementara)

Kintsugi (Membuat kekurangan menjadi kelebihan, seperti tembikar yang pecah lalu di tempel ulang menjadi karya yang estetik) Mottainai (Konsep tidak mubazir atau penyesalan untuk menyia-nyiakan sesuatu) Gaman (Suatu hal yang mengisyaratkan tentang ketekunan, kesabaran, toleransi dan martabat ditengah kesulitan) Shikata ga nai penerimaan, melepaskan dan teguh menghadapi cobaan. Yuugen (Menilai keindahan dalam diri yang tidak terlihat, mengacu kesadaran mendalam yang melampui penjelasan dengan kata-kata) Mono no aware (Empati dan peduli terhadap segala hal) Aku selalu mencatat point penting dalam buku jurnalku, kadang membandingkan kharakter tersebut dengan nilai Jawa yang pernah aku pelajari.

Suatu hari dikelas bersama Akemi dan Natsuka, ada hal yang membuatku penasaran “Akemi-san Natsuka-san, Watashitachi wa kotonaru bunka o motte irunode, kotonaru yurei mo iru hazudesu. Koko de yumeina yurei wa nanidesu ka?” (Akemi dan Natsuka kita memiliki budaya yang berbeda, pasti punya hantu yang berbeda. Apa hantu yang terkenal disini?) Akemi dan Natsuka berpandangan, satu per satu mereka menjawab pertanyaanku.

“Watashino kangaede wa, mottomo yumeide kowai no kuchisakeon na-desu, kuchi ga saketa josei no yurei” (Menurutku yang paling terkenal dan menyeramkan adalah kuchisake-onna, hantu wanita bemulut robek) jawab Akemi “Sore wa hontodesu, mohitotsu kowai no wa, teketeke to iu hau josei no yureidesu” (Benar, tapi ada lagi yang seram yaitu teketeke, hantu wanita yang merangkak) tambah Natsuka “Yotsuya kaidan mo, kami no nagai on’na no yurei” (Yotsuya kaidan juga, hantu perempuan berambut panjang) “Sadako mitai ni?” (Seperti Sadako?) tanyaku “So, okiku no yureidesu, Sadako wa tan’naru fikushondesu” (Oh ya hantu okiku, tapi Sadako hanya karangan fiksi) jawab Natsuka.

Katanya ada hantu yang melegenda seperti Yamanba hantu nenek pemakan anak, Jorogumo hantu perempuan laba–laba dan hantu-hantu lain. Aku menyebut Natsuka ahli perhantuan Jepang. “Wakarimashita. Nande yurei wa minna joseina no?” (Aku mengerti, tapi kenapa semua wujud hantu itu perempuan?) “Osoraku josei no jinsei wa motto higeki-tekidarau” (Mungkin kehidupan para perempuan lebih tragis) canda Akemi, hantu perempuan mungkin lebih dramatis.

Kami melanjutkan kegiatan kelas, aku tidak yakin Akemi dan Natsuya pernah melihat hantu–hantu itu secara langsung, mungkin juga mereka mengatakan sesuai dengan apa yang didengar dari cerita yang berkembang di masyarakat Jepang. Tapi ketika persiapan pulang sekolah, Natsuka menghampiriku sambil berbisik “Kyonen kono kurasu de jisatsu shita seito ga imashita. Ashi o hikizutte toire ni mukau on’nanoko o mikaketara, oikakenaide kudasai” (Tahun lalu ada murid yang bunuh diri dikelas ini. Jika kamu melihat anak perempuan berjalan menyeret kakinya menuju ke toilet jangan kamu ikuti) “Honto! Jodan janai yo ne?” (Benarkah! kamu tidak bercanda kan?) “Sshh” Natsuka memberikan isyarat untuk diam.

SETIAP LIBUR SEKOLAH

Kami berempat selalu menyempatkan mengunjungi beberapa tempat wisata disekitar Nagoya bersama Oji yang kadang bergantian dengan Ryu, dari museum budaya Futaba, tur sejarah di Shikemichi, menyusuri sungai Yamazaki, belanja ke kompleks pertokoan Osu sampai ke kuil besar Toganji dan Hoshoin. Karena keseringan pergi bersama, terjadi keakraban antara Uti dan Ryu. Mereka terlihat saling menggoda, biasanya pergi berdua untuk sekedar belanja kebutuhan sehari–hari sampai pergi untuk urusan–urusan lain.

Pertengahan November, kami berjalan santai ke Night food market Nagoya untuk berwisata kuliner dengan menaiki kereta, transportasi umum disini mudah ditemukan, apalagi ada komuter yang tiap hari beroperasi dari kota ke kota. Praja merangkul pundakku, menyusul Uti berjalan dibelakang kami menggandeng tangan Mamat, sudah tidak ada rahasia diantara kami, jadi perjalanan lebih bebas. Sepanjang jalan Uti menceritakan tentang hal romantis bersama Ryu, Mamat hanya bisa tersenyum mendengar cerita temannya yang sedang kasmaran.

“Hei kalian berdua” aku dan Praja menoleh “Aku sama Uti mau cari taiyaki, katanya kalian mau beli dango atau apalah itu. Kalau begitu kita pisah saja, nanti satu jam kembali kesini, ingat ketempat ini lagi” Mamat mengatur perjalanan sambil menunjuk café yang ada sebuah patung Necko didepannya “Oke” kami menyetujui usulannya, lalu berpisah dengan tujuan masing–masing.

Meskipun tempat ini special food street, tapi aku dan Praja memilih rumah makan tradisional dengan diiringi musik di era tahun 90an, ruangannya saling sekat, membuat pelanggan merasa mempunyai privasi sendiri. Kami menaiki tangga ke lantai dua, karena bisa melihat pemandangan foodcourt dibawah tapi tidak bisa melihat sisi kanan dan kiri karena terhalang sekat “Like a private room” aku berbisik ditelinga Praja yang duduk disebelahku “This is what we want” dia tersenyum nakal.

Beberapa menit kami menikmati udara malam dimusim gugur, seorang karyawan café membawakan pesanan kami yaitu dua porsi oden dan dua gelas teh sakura, kami menikmati makanan sambil berbincang “Oh ya kegiatan SE akan berakhir, bagaimana menurutmu?” “Rasanyo memang lebih puas melewati 4 musim” “Kita akan melewati musim dingin bulan depan, 3 musim menurutku cukup. Sebenarnya aku memikirkan Rika, dia terlihat tidak senang aku terpilih dan bagaimana dia bisa tahu kedekatan kita, you told her?”

Praja menyelesaikan semangkok udon dan separuh tehnya, menjawab rasa penasaranku “Kawan kito tahu jikok Rika selalu merasa superior. Alasan lain inyo mengajak ambo dating jadi ambo kato sedang dekat dengan ko” aku menghela nafas “So I have ruined her life, karena itu dia marah denganku” aku sudah selesai dengan semangkok udonku, menyandarkan kepalaku dibahu Praja, dia memegang tanganku “Kenapa semua murid perempuan disekolah menyukaimu?“Indak sadonyo, baa pendapat kau soal pernikahan?” “Kamu sudah memikirkannya? Perjalanan kita masih panjang, jadi butuh banyak persiapan”

Praja terdiam “Apa yang kamu pikirkan?” “There’s something strange baby but I don’t know what” “Kamu bisa menceritakan apapun padaku” aku terus memandangi wajah manisnya yang disinari lampu jalan, teduh dan menyenangkan. “Aku merindukanmu” “Masih ado waktu 10 menit untuk kembali, you want a pleasure?” “What pleasure?” “Like a pair of flamingos forming a sign of love” aku tersenyum, kecupan hangat dimalam yang indah, melepas kerinduan.

Lihat selengkapnya