CHAPTER 5
PERJALANAN KE KOTA MALANG
Berangkat menuju kos baruku diantar oleh bapak, perjalanan kami tempuh selama 4 jam melewati kota Batu, orang Belanda menamainya De Klein Switzerland atau Swiss kecil di pulau Jawa karena banyak destinasi wisata alam dengan hamparan pegunungan, gunung Panderman, Arjuna dan Welirang. Aku mengambil handphone didalam tas, mengambil foto pemandangan disekitar. Bersama dengan perkembangan zaman, berkembang pula tekhnologi seperti handphone lamaku yang berganti menjadi BlackBerry dengan vitur BlackBerry Messenger untuk kirim teks dan gambar. Aku langsung mengirim foto ke Praja, dia membalas dengan emoticon love.
Bapak berhenti sekali di salah satu warung tidak jauh dari alun–alun Batu untuk makan dan bersantai sejenak menikmati area wisata, ada air mancur yang berada persis ditengah alun-alun dan monumen buah apel berwarna hijau kemerahan yang menggambarkan kota batu dimana mayoritas warganya berkebun buah apel. Udara dingin menyerang ketika turun dari mobil, aku buru–buru memakai sweaterku.
Sampainya dikos baruku yang terkenal dengan nama Puri, bapak langsung kembali pulang karena harus bekerja. Aku masuk ke dalam ruangan seperti bangunan asrama tingkat tiga, bertemu dengan penjaga kos untuk memilih kamar kosong yang akan aku tempati. Beliau mengantar ke kamar dilantai satu setelah selesai membersihkannya, lalu aku membongkar koperku dan mengeluarkan semua isi yang ada didalamnya, salah satu diantaranya jaket parasut berwarna coklat. Aku menarik jaket itu tapi seperti ada sesuatu didalam sakunya, aku meraba dan mengeluarkan isinya, mengejutkan! Tanganku memegang boneka kayu Kokeshi yang telah hilang.
Bagaimana bisa ada disaku jaketku? Aku tidak pernah mengambilnya. Aku lemas disudut kamar melihat boneka itu sambil mengingat kejadian. Aku tidak akan mengatakan hal ini kepada Mamat dan Praja, mereka pasti beranggapan aku telah mencurinya, jadi aku akan merahasiakan sampai mengetahui apa yang terjadi, aku kembali menaruh boneka itu didalam koper supaya tidak terus memikirkannya.
Sebelumnya aku sudah mendaftar di Universitas swasta via online dan telah mengikuti tesnya, jadi masuk di kampus tidak terlalu banyak kendala. Aku memutuskan mengambil jurusan Fakultas Ilmu Komunikasi, berbeda dari keinginanku diawal yang ingin mengambil jurusan Sastra Inggris. Aku berangkat dihari pertama dengan memakai sepatu sneakers high cut hitam, skinny jeans denim, blouse hitam dan tas slempang kanvas dengan rambut sebahu yang aku kuncir.
Aku menaiki lift kelantai 6 Gedung Kuliah Bersama atau GKB 1 untuk melihat daftar nama mahasiswa dalam lembaran kertas yang tertempel di depan ruang fakultas, membaca satu per satu kelas mana yang ada namaku tapi aku menemukan nama lain yang tidak asing ‘Maya Debora Hananta’ memangnya ada nama seperti itu selain teman SMPku, benar saja, dari kejauhan seorang perempuan cantik mendatangiku dengan melambai–lambaikan tangannya. Aku menghampirinya dengan senyum kerinduan seorang teman lama, paras Maya cukup berbeda, dia sudah tidak memakai kawat gigi dan rambutnya lurus oleh smoothing. Dia jauh lebih feminim dibandingkan penampilanku.
“Hei aku baru saja membaca namamu” kami heran bisa bertemu dikampus setelah tiga tahun hilang kontak “Kemana saja kamu?” “Sialan kamu yang sengaja menghilang” kami pergi dari kerumunan mahasiswa lain, berjalan menuruni tangga, menuju kantin tiga setengah (Kantin yang berada diantara lantai 3 dan 4)
“Kenapa bisa mengambil kelas yang sama?” “Entahlah, padahal awalnya aku ingin mengambil jurusan Sastra, mungkin begini cara takdir berjalan. Kamu masih suka creepy things?” “Lebih dari itu. Aku sedang mengasah kemampuanku” “Maksudmu menjadi Psychic?” “Kamu mungkin akan menganggapku halusinasi, tapi aku bisa melihat dan berbicara dengan entitas lain” “Bagaimana bisa?” “Sebenarnya dari SMP aku sudah mulai merasakan hal itu, semakin dewasa semuanya seperti terbuka perlahan” “Sejauh apa?” Maya menjawab dengan senyum mengembang.
Seketika aku teringat boneka Kokeshi, benarkah hidup selalu dipertemukan dengan kebetulan? Jika Maya memang bisa berkomunikasi dengan arwah, harusnya kebetulan kali ini dia bisa membantuku “Apa kamu bisa membantuku?” “Kita baru saja bertemu” candanya, aku merasa tidak enak hati. “Bantu apa?” “Besok pulang dari acara Pesmaba ikut aku kekos Puri, aku akan memberitahukan masalahnya nanti, bagaimana?” dia menyanggupi permintaanku.
Diwaktu lain Praja menelphoneku “Hei baby, kau tak lupo ambo kan?” “Tentu, kamu sedang dimana?” “Ambo sedang di Pauh, daerah Padang. Ambo minta maaf jikok kito bertemu saketek lebih lamo” “Ada masalah?” “Indak, ambo mendapatkan beasiswa di Andalas, mungkin baru bisa ke Jawa katiko libur semester sajo” “Aku pikir setelah 6 bulan menemani amak, kamu akan berkuliah dan bekerja di Jawa, jadi aku berharap kita akan sering bertemu nanti. Tapi aku juga senang kamu mendapatkan beasiswa itu” “Kau jangan bersedih yo, ambo usahakan ke Jawa sebisa mungkin” “Oke” “Take care, sampai bertemu”
Awal perkuliahan ini diwarnai dengan rangkaian kegiatan perkenalan lingkungan dan budaya yang ada di kampus oleh mahasiswa baru. Kami berkenalan dengan teman sefakultas dan para senior yang memandu kegiatan. Ditengah acara Maya mengobrol dengan salah satu mahasiswa dikelas kami yang unik bernama Gery, badannya sedang tidak terlalu tinggi dengan rambut half up, dia suka sekali membawa stringbag dan kamera DSLR kemana–mana, aku menyapa mereka.
Setelah acara Pesmaba, aku dan Maya sepakat mengulas permasalahanku, kami langsung menuju kos Puri yang berada didepan kampus, sedangkan Maya sendiri tinggal di kos yang berada dibelakang kampus. Kami menuju ke kamarku yang berada di paling pojok lorong bangunan. Aku segera mengambil boneka kayu Kokeshi dari dalam koper. “Jadi May apa yang kamu lihat?” “Memangnya kamu ada masalah apa dengan boneka itu?” “Coba lihat dulu” Maya mengamati, membolak balik sisi-sisinya, aku menunggunya mengatakan sesuatu “Ini hanya boneka kayu yang dimiliki seorang perempuan dari ayahnya. Darimana kamu mendapatkan ini?” “Acara tukar kado Oseibo waktu Student Exchange di Jepang” “Kamu pernah ke Jepang Yos?” “Ya, pernah”
“Ini bukan kado dari teman sekelasmu, mungkin dari murid lain” aku menajamkan mataku mencoba mencerna kata–kata Maya “Aku hanya bisa melihat dari energi boneka ini karena arwahnya tidak bisa berkomunikasi denganku” “Apa ada hubungan dengan kematian temanku?” “Apa kamu punya foto teman yang kamu maksud?” aku mengambil handphone untuk mencari foto Uti waktu kami wisata di Jepang dan menunjukkannya “Sepertinya aku bisa berkomunikasi dengan temanmu”
Aku menunggunya cukup lama, jadi aku pergi membeli teh botol dari mini market depan “Apa temanmu bernama Tuti?” pertanyaan itu membuatku percaya jika Maya bisa berkomunikasi dengan arwah, aku makin penasaran kelanjutannya “Apa yang dikatakan Uti?” “Akhirnya kamu menemukan boneka yang dia cari” “Hanya itu?” “Dia menyesal telah melakukan kesalahan, boneka itu pemberian teman arwahnya di Jepang” “Maksudmu Zuri? Apa dia ikut dalam pertukaran kado?” Maya mengangguk, asumsiku mungkin benar.
“Jadi kematian Uti karena boneka itu?” “Kematian temanmu karena ulahnya sendiri” ”Lalu apa yang akan aku lakukan dengan boneka itu?” “Kamu bisa meletakan boneka itu dekat makamnya, karena itu perwujudan dari teman arwahnya” “Aku tidak bisa meletakkannya sekarang, mungkin ketika aku pulang nanti. Tapi bagaimana bisa boneka itu bersamaku?” Maya menganalisa “Temanmu yang menaruh” “Dan dia sendiri yang mencarinya? Tidak masuk akal” “Sepertinya dia sedang dalam pengaruh arwah lain” “Maksudmu Zuri? Apa benar dia jatuh didorong temannya?” “Dia menjatuhkan diri, masalah yang sama seperti Tuti, makanya energi mereka seperti jadi satu” aku tidak terlalu yakin, tapi kami akan tetap berdoa untuk kedamaian arwah mereka.
“Kita belum makan siang, aku akan mentraktirmu dikedai sebelah” Maya senang, kami berjalan ke kedai Askum dan memesan gado–gado lengkap dengan es tehnya “May sekolah SMA dimana kamu?” “Sebenarnya aku masih sekolah sekota denganmu, hanya saja semua kontakku hilang” “Lalu bagaimana kamu bisa belajar banyak tentang arwah?” “Nenek buyutku ada yang bisa melihat tapi aku mempelajari semuanya sendiri, sering berkomunikasi dengan mereka” “Mereka?” “Teman-temanku yang tidak terlihat” “Apa mereka bersama kita?” dia mengangkat alisnya.
DIKELAS KOMUNIKASI
Gery sering diminta teman dan beberapa penerbit lokal untuk memfoto model atau produk iklan karena keahliannya. Aku penasaran dengan hasil foto yang terus di lihatnya “Gery kamu paling suka objek foto apa?” “Malam” jawabnya “Malam?” “Suasana malam hari yang dingin dan penuh dengan misteri” dia menunjukkan foto dari kameranya “Lihat banyak bayangan dan cahaya asing, menurutmu ini apa?” “Orbs? Entahlah” dia tersenyum sambil menggeser koleksinya, another mistical friend batinku.
Bulan September memasuki musim hujan, air didanau kampus penuh dan aliran sungai Brantas dibawah jembatan juga mengalir deras, kami bisa melihat pemandangan itu dari parkiran yang menghubungkan ke GKB dan dome. Suasana seperti itu biasanya banyak entitas gaib yang mendiami, aku pernah bertanya Maya tentang entitas apa saja yang ada di kampus, katanya terlalu banyak, jadi dia tidak menjelaskan satu per satu, lagi pula selama mereka tidak mengganggu tidak ada masalah.
Disisi lain sudah banyak rumor hantu yang beredar dikalangan mahasiswa, dari mulai sebuah kepala melayang di lift, sosok wanita ditangga dome dan dilorong–lorong ruangan kelas, genderuwo penjaga Perpustakaan, siluman ular didanau dan masih banyak lainnya. Ada rumor juga tentang mahasiswa yang pernah bunuh diri dan beberapa cerita warga yang sering menemukan jasad orang dialiran sungai sekitar kampus, berita itu terus berkembang dari mulut ke mulut.
“Rumor itu apa benar?” “Ketika banyak orang meyakini tempat tersebut ada hantu berbentuk begini dan begitu yang awalnya tidak ada akan menjadi ada karena pikiran orang itu yang telah memanifestasi entitas tersebut. Jika mereka menampakkan diri, biasanya mereka hanyalah jin yang krisis eksistensi” “Aku masih penasaran” “Kamu penasaran soal apa?” “Tentang arwah manusia, ada yang bergentayangan?” “Banyak” “Kenapa seperti itu?” “Karena mereka belum selesai dengan urusan dunianya, kebanyakan akibat penyakit hati seperti dendam” “Bagaimana dengan orang yang bunuh diri?” Maya mengangguk yang berarti termasuk “Kalau dibunuh?” “Tergantung, kalau mereka tidak ada dendam ya tidak bergentayangan”
“Kamu sering berbicara dengan mereka?” “Ya” “Pernah bertemu arwah korban penjajahan dan kerusuhan? Mereka pasti menyimpan dendam, dengan korban sebanyak itu, kemana arwahnya?” “Setauku arwah mereka sudah diambil Tuhan jadi tinggal memori atau energi yang aku rasakan” “Maksudnya diambil?” “Menunggu penghakiman, tapi ada juga yang masih didimensi lain” “Dimensi seperti apa?” “Dimensi Jin dan iblis” “Mereka kan korban” “Beberapa dari mereka ada yang masih menyimpan dendam dan bersekongkol dengan iblis, jadi bisa saja Tuhan tidak mau menerimanya”
“Kamu pernah berkomunikasi dengan iblis?” “Ya, aku sering melihat tingkahnya” “Apa mereka ada andil dalam kejahatan manusia?” “Kalau menurutku mereka lebih ke support sistem, kalau kejahatan murni dari kesadaran manusia sendiri, kita tidak bisa mengkambing hitamkan iblis, meskipun memang mereka selalu mencari celah” “Apalagi yang kamu tahu?” “Biasanya mereka ingin berkolaborasi dengan kita, mereka hidup sesuai dengan klannya masing–masing” “Berkolaborasi?” “Mendukung suatu tujuan tertentu” “Misalnya?” “Ada yang berhubungan dengan proyek pembangunan dan upaya para elit global, kenapa semakin berat pembahasan kita?” “Ini menarik, jadi termasuk kolaborasi dalam segala macam usaha korporasi pemerintah dan segala tindakan penghancuran alam?” “Ya”
“Bagaimana caranya iblis membantu para elit?” “Aku tidak tahu pasti detailnya karena itu rahasia perusahaan, ada sebuah batasan yang tidak bisa dilewati. Kata teman astralku, mereka membantu kelancaran usaha dan perizinan ditempat itu dalam ritual–ritual tertentu” “Maksudmu ritual satanic? Aku dengar katanya di bidang pemerintahan dan segala bisnis perbankan juga banyak yang melakukan ritual itu?” “Setauku ada dan tidak hanya itu, masih banyak bidang lain yang melakukan ritual satanic, seperti dalam pertunjukan konser musik”
“Bagaimana dengan karyawannya? Mereka kan hanya mencari nafkah” “Kadang karyawan juga berdampak, kalau tidak menjadi tumbal ya dengan gaya hedon mereka sehingga jauh dari keTuhanan” “Tumbal?” “Tumbal tidak melulu soal kematian, meskipun banyak kita dengar korban tumbal proyek dan pabrik. Mungkin berdampak ke kehidupannya seperti menjadi sakit-sakitan, suka bertikai, selingkuh, korupsi, masih banyak keburukan yang berpengaruh” “Masuk akal. Kalau kerusuhan internal yang terus terjadi di Negara kita sepertinya bukan ulah iblis” “Itu ulah mereka sendiri” percakapan ini hanya menambah wawasanku dari pendapat seorang yang mengaku Psychic.
MAJALAH KONTRAS (Komisi untuk orang hilang & korban tindak kekerasan)
Dibawa oleh seorang teman kelasku bernama Ovan baridwan, dia mengikuti kelas dengan sebendel lampiran majalah edisi terbaru yang akan menjadi bahan dalam diskusi mata kuliah media massa dengan judul SATU TAHUN PEMBUNUHAN MUNIR SAID THALIB (Tanggal 7 September 2005) seorang aktivis Hak Asasi Manusia dan salah satu pendiri majalah kontraS. Munir memperjuangkan permasalahan HAM dimasa orde baru seperti kasus pembunuhan seorang pembela buruh bernama Marsinah dan kasus penculikan para aktivis ditahun 1997–1998. Beliau meninggal karena diracun arsenik kadar tinggi ketika dalam perjalanan udara menuju Belanda.
Bagaimana media massa bisa mengatur, mengarahkan, merencanakan dan menyampaikan berita ke publik? Apakah media massa bersifat melembaga, satu arah atau meluas dan terbuka, serta bagaimana menjalankan organisasi media dengan jujur ditengah media massa konvensional yang hanya menguntungkan sebelah pihak? Majalah KontraS menjadi salah satu media massa yang bersifat kritis dan terbuka, manajemen dibutuhkan supaya berjalan sesuai dengan fungsinya, sebagai sarana untuk menyelesaikan keterbatasan alat indera, ruang dan waktu sehingga masyarakat dengan mudah memperoleh informasi yang aktual dan terpercaya.
Ovan memiliki badan proporsional, berkulit kuning langsat, dengan gaya rambut undercut. Dia salah satu mahasiswa yang sering menyuarakan HAM. Ovan keturunan Arab, berdomisili di kota Batu tidak jauh dari rumah Munir, ini yang semakin menjadikannya kritis dan vocal tentang kasus–kasus yang diperjuangkan oleh panutannya itu. Didaalam kelas, kami sering berdiskusi sendiri “Van kamu mengambil jurusan jurnalistik karena ingin menyuarakan kebenaran?” “Kamu tahu media massa konvensional sudah tidak bisa dipercaya” aku menyepakati perkataannya “Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?” “Mengubur berhala” ya, dia memang semenyebalkan itu.