CHAPTER 6
MENUJU BROMO
Di hari Sabtu pukul 15.00 sore aku, Ovan, Maya dan Gery bersiap berangkat camping, dengan menyewa sebuah mobil Jeep berwarna merah, mobil ini sangat mencolok dibanding kepribadian kami berempat yang kadang terlihat misterius. Kami pasrah pada Ovan sebagai sopir karena dia hafal jalan dan dengan suka rela memandu kami. Aku bagian bendahara selama perjalanan, Maya bagian stock makanan dan minuman, sedangkan Gery bagian fotografer, dia tidak lupa memenuhi baterai kameranya sebelum berangkat.
Sepanjang perjalanan terus menanjak, suasana sore ini cukup cerah tapi berkabut, kami melewati warga yang masih beraktivitas di lereng gunung, mereka selalu berselimut sarung untuk menghalau hawa dingin “Mirip di Dieng, dejavu lihat mereka” Gery mengamati aktivitas warga dikebun sayur “Negeri diatas awan ya” tambah Ovan “Pernah ke Dieng kamu?” “Pernahlah” jawab Ovan dengan percaya diri, pengalaman tripnya sudah tidak bisa diragukan lagi. Kami membuka sedikit jendela mobil, udara dingin pegunungan mulai menusuk hidung, jaket touring tebal menghalau angin yang masuk kerongga kulit melalui pori–pori. “Bulan Juli sampai September adalah puncak suhu terdingin, bisa sampai dua derajat celcius. Saking dinginnya, embun menjadi es yang menutupi tanaman dan sayur–sayuran itu” Ovan menjelaskan.
Berhenti di desa Ngadas, desa tertinggi di pulau Jawa yang berada di ketinggian 2.200 mdpl dengan mayoritas penduduk berprofesi sebagai petani. Warga tengger memiliki beragam agama yaitu Budha, Hindu, Kristen dan Muslim, mereka semua hidup berdampingan, saling rukun dan harmoni karena hal itu telah diatur oleh hukum adat suku tengger dimana semua orang tidak melihat perbedaan, seperti adat suku lain di Indonesia.
Kami berempat memasuki salah satu warung, Ovan pesan kopi panas, aku dan Maya pesan wedang jahe panas dan jagung bakar. “Hei cepat minum nanti keburu dingin lagi” ucap Maya, sedangkan Gery pesan nasi mie soto instan tambah telur dan teh panas yang membuat mulut temannya usil. “Kamu jangan makan dan minum banyak-banyak” Ovan menegur Gery “Aku butuh energi” “Kamu mau bolak balik ke kamar mandi? Airnya sedingin es, nanti burungmu mati kaku” kami tertawa, Gery menjawab “Burungku sudah terbiasa dengan cuaca dingin Dieng” Ovan melanjutkan “Berarti kulitmu tebal dong” “Bukan kulitnya, tapi bulunya” “Seperti beruang kutub? Tapi kayaknya lebih mirip walrus”
Maya menegur “Hei sudah, malu didengar ibu warung” “Jadi May kamu lebih suka beruang kutub atau walrus?” “Aku lebih suka ubur–ubur antartika” jawabnya dengan spontan “Maya suka disengat ternyata” ibu warung ikut berkomentar “Di Bromo tidak ada hewan seperti itu mas, adanya hanya kuda” “Loh lebih nendang dong” “Apanya?” kami semakin tidak terima dengan candaan Ovan.
Setelah kenyang, kami membungkus beberapa cemilan gorengan dan menyetok air panas di termos, kembali melanjutkan perjalanan menuju ke Itenerary kami yaitu berkemah dibukit Mentigen untuk memburu sunrise, kami sengaja memilih tempat itu karena tidak terlalu ramai oleh pengunjung, berbeda dengan di penanjakan satu dan dua. Kami membawa satu tenda Quick pitch, sleepingbag untuk masing–masing dan tidak membawa peralatan masak karena hanya semalam.
Kami mendirikan satu tenda dengan mobil yang di parkir tidak jauh dari lokasi camp. Menghabiskan malam dengan bercerita di luar, memandang bintang–bintang di langit. Aku ingat setiap malam suka berkumpul didepan rumah bersama simbah yang memang seperti ini rasanya. Hening, tenang, damai dan melebur dengan gelap malam. Ovan memecah suasana “Kita benar–benar hanya seupilnya milky way, bahkan upilpun terlalu besar” dia terus mengorek-ngorek lubang hidungnya.
“Kalian percaya ada makhluk seperti kita di bintang–bintang itu?” “Dibumi penghuninya saja sangat banyak selain kita, apalagi disana” Maya menjawab pertanyaanku “Maksudmu setiap lapisan dimensi ada penghuninya?” “Aku kira begitu”
“Menurut kalian apa yang ada di sisi gelap bulan?” kami tidak tahu jawaban dari pertanyaan Gery “Semua ciptaan Tuhan mempunyai dua sisi kepribadian yang berbeda dan tidak terlihat, sangat cantik dan misterius” maksudnya adalah polaritas. “Aku pernah belajar kharakter orang Jepang, katanya manusia punya tiga kepribadian : pertama ditunjukkan ke saudara dan keluarga, kedua ditunjukkan ke hadapan dunia dan ketiga ditunjukkan ke dirinya sendiri” “Manusia memang berkepribadian ganda” Ovan menyimpulkan.
“Aku akan memfoto suasana malam ini” Gery segera mengambil kamera dimobil, seketika juga ada bintang jatuh, kami diam untuk berdoa dalam hati, sebenarnya kami tidak yakin dengan mitos seperti ini, yang kami yakini keberuntungan dan rahmat Tuhan akan selalu bersama dengan orang baik. “Lain waktu ayo kita summit ke Semeru atau minimal ke Ranukumbolo” ajak Ovan, Maya mengibaskan rambutnya “Skip, aku tidak kuat trekking” “Kalau Yosi pasti bisa?” “Aku tidak mau ikut kalau perempuan sendiri” “Nanti aku cari teman perempuan” sahut Gery sambil fokus mengambil foto “Yang cantik Ger” candanya.
“Sudah tidak sedih kamu?” Maya mempertanyakan perasaanku, Ovan semakin menjadi “Oh jadi camping hari ini untuk menyenangkan hati Yosi” “Memang niat kita berdua kok” “Makanya kalau cinta jangan berlebihan, jika kita mencintai sesuatu hal lebih dari Tuhan, kalau tidak ditinggalkan oleh hal itu ya hatimu akan dihancurkan olehnya” “Seperti tidak pernah patah hati saja kamu Van” Maya membela, aku masih tidak terima “Justru karena Ovan sering patah hati makanya jadi apatis” “No woman no cry ...” “Ayo tidur, besok kita harus bangun pagi” aku dan Maya mengacuhkan Ovan, kami berdua memutuskan tidur ditenda sedangkan mereka tidur dimobil.
Hawa dingin menusuk tulang, aku segera menutup rapat tenda, mematikan lampu portablenya, cahaya terang dari bulan dan bintang menerangi malam kami, awalnya aku masih ingin bercerita tapi karena Maya mengantuk, aku memaksakan diri untuk tidur.
Pukul 04.00 Maya susu instan, juga mengeluarkan bekal roti dan cemilan kentang dari dalam tasnya. Aku membangunkan Ovan dan Gery dengan mengetuk jendela mobil yang sedikit terbuka, menunggu mereka sampai terbangun. Setelah itu aku berdoa menghadap Tuhan dan menyendiri di perbukitan, memandang langit, merasakan ketenangan dan kekosongan, hanya menyerap energi dari alam semesta dan menyatu dengannya. Sangat dekat tapi tidak tersentuh, sangat jauh namun tidak berjarak. Aku tidak memedulikan ketiga temanku, hanya akan menikmati kesendirianku lebih lama pagi ini.
Kami mengisi perut oleh bekal yang sudah disiapkan, terlalu pagi untuk makan, tapi susu hangat melebur hawa dingin yang aku tahan semalaman. Pukul 05.15 langit mulai terlihat merah, orange dan kuning bercampuran, sinarnya membuat kulit kami hangat, kemudian disusul matahari yang menampakkan diri dicakrawala, inilah moment yang kami tunggu–tunggu, a real paradise of mountain beauty. Gery tidak berhenti menghabiskan baterai kameranya.
Pukul 09.00 kami berkemas, setelah puas berjalan menyusuri bukit di area camp dan berfoto latar belakang gunung Bromo yang berkabut. Kami mampir ke warung untuk sekalian makan siang dan menumpang ke toilet. Ada sekelompok remaja beristirahat diwarung yang akan kami tuju, salah satu remaja laki–laki menenteng tas ransel dengan membawa seikat bunga yang disematkan di saku samping tasnya, caranya mengikat tidak rapi jadi aku tahu, dia tidak membeli dari warga yang membudidayakan bunga itu.
“Kamu mengambilnya dari gunung?” aku mendekati remaja itu, mukanya bingung dengan pertanyaanku “Iya kamu, kamu memetik bunga edelwesis itu langsung dari gunung?” dia mengangguk “Tidak ada yang menegurmu jika itu dilarang?” Ovan mengikutiku dari belakang “Kamu nanti kena pasal, ada aturan undang-undangnya. Kalau mau bawa pulang bunga edelweiss bisa beli dari warga, banyak yang jual” “Maaf aku tidak tahu” “Memangnya temanmu yang lain tidak tahu? Kalau tidak tahu aturannya minimal sadar diri, kita tidak boleh mengambil sesuatu yang bukan milik kita. Kamu tahu bunga itu baru bisa mekar sampai 13 tahun lamanya, kamu mau menunggu selama itu untuk mengganti?” remaja itu hanya menunduk dan terdiam.
Aku membiarkan Ovan menghadapinya, jadi aku kembali bersama Maya dan Gery diwarung sampai Ovan menyusul kami. Katanya bunga edelweiss yang dibawa remaja tadi telah dikembalikan ke warga dengan meminta maaf. Bunga edelweiss keberadaannya sangat langka, bunga itu memiliki hormon etilen untuk mencegah kelopak bunga rontok yang melambangkan keabadian cinta sejati dan keberanian. Kami lalu melanjutkan perjalanan pulang dengan penuh syukur, udara segar dan keindahan alam pegunungan tengger telah menetralkan isi kepala kami.
TUGAS PERIKLANAN
Bagaimana cara suatu produk bisa menarik perhatian pelanggan melalui pesan yang persuasif dalam bentuk gambar, video atau kata informatif mengenai layanan atau produk yang ditawarkan supaya menyasar ke target pasar dengan tepat. Maya siang ini mengajakku mengerjakan tugas di kosnya sepulang dari kampus. Kami menganalisa beberapa iklan produk dengan bahasa yang sederhana namun berkesan seperti Open happiness, Im lovin it, Twist lick dunk, Rehydrate and protect. “Ada produk yang tidak sehat tapi teks iklannya meyakinkan dan terbukti laris dipasar. Aku tidak yakin pemiliknya memakai atau memakan produknya sendiri. Kamu tahu jika pemilik pabrik rokok tidak merokok?” Maya menggeleng.
“Pemilik produk pasti juga ingin karyawannya sehat, jadi mereka memilih karyawan yang produktif bukan konsumtif” perkataanku terbukti dengan melihat cara kerja perusahaan rokok di tempat bapak bekerja “Setauku apa yang kita makan itu mencerminkan diri kita” “Aku beberapa kali melihat Rakha makan makanan cepat saji, jadi penasaran dengan kesehatannya, apalagi dia juga peminum dan perokok” “Kamu mengkhawatirkannya?” Maya tersenyum “Hanya penasaran, mungkin makanan bisa berpengaruh juga ke sifat dan egonya” “Jadi sudah seberapa jauh kalian berkencan?” “Kami tidak pernah berkencan”
“Bicara soal makanan, kamu ingin makan apa?” “Idem” “Oke, tunggu disitu jangan kemana-mana” Maya keluar, aku masih menganalisa gambar iklan produk dimeja belajar, memainkan kakiku di pegangan kabinet bawah. Aku buka tutup pintu kabinet dengan jempol kakiku yang gatal, sampai beberapa lembar kertas didalamnya menonjol keluar karena telah ditumpuk tidak beraturan. Aku berjongkok memasukan kertas-kertas itu, menumpuknya supaya rapi, tapi tanganku merogoh sesuatu yang aku kenal di dalam kabinet yang gelap. Astaga!
Aku menemukan boneka kayu Kokeshi yang hilang, Maya mengambilnya. Aku buru–buru menaruh boneka itu, menutup kembali kabinetnya, pantas jempol kakiku mendeteksi hal yang tidak beres. Maya secepat kilat kembali membawa dua bungkus nasi campur. “Baru saja kita membahas Rakha, kami bertemu dijalan tadi, aku bilang jika bersamamu” “Sepertinya kalian berjodoh” “Kenapa bilang begitu, dia suka kamu, kamu yakin tidak ingin jalan lagi dengannya?” “Kenapa selalu ingin aku jalan dengan Rakha?” “Daripada Ovan, si tukang komplain” “Dia baik meskipun menyebalkan begitu” “Jadi kamu sukanya sama dia?” “Cukup ayo makan”
Aku merapikan lembaran tugas diatas meja, memasukan ke dalam tas “Aku bawa tugasnya, nanti aku analisa lagi dikos” ada perasaan jengkel yang ingin aku sampaikan, tapi aku tidak mau merusak pertemanan kami “Kamu kenapa buru-buru balik?” “Aku ingin tidur siang” “Ayolah kamu tidak pernah tidur siang. Oh ya liburan nanti kamu jadi ikut ke Jogja?” “Aku pulang kampung saja” kami mengakhiri tugas yang belum selesai.
Negara kembali berduka, tanggal 27 mei 2006 telah terjadi Gempa bumi berkekuatan 5,9 SR yang mengguncang Yogyakarta, berita bermunculan di televisi, koran dan sosial media. Diyakini bencana ini menjadi gempa kedua terbesar setelah gempa Aceh yang mendatangkan tsunami. Disisi lain gunung merapi di Yogyakarta juga sedang dalam status awas dan akan meletus sewaktu–waktu, jadi warga harus tetap siaga.