CHAPTER 7
KEMBALI KE MALANG
Sepanjang jam kuliah aku tidak mendapati Maya masuk hari ini. Ketika istirahat aku menghampiri Gery bersama kameranya “Kamu tahu kemana Maya, apa dia absen?” “Dia sudah tidak berkuliah, kamu kok tidak tahu?” “Oh ya? Sangat misterius, memangnya apa yang terjadi?” aku mendesak jawaban darinya “Katanya dia pindah ke luar kota” aku heran karena Maya tidak memberitahuku, aku segera mencari kontaknya “Tidak perlu, dia mengganti nomornya, bahkan dia pindah liburan kemarin” sahut Gery.
“Apa lagi yang kamu tahu?” “Kami sempat liburan ke Dieng bersama teman–temanku yang lain, itu saja, aku pikir dia cerita ke kamu” aku tidak menyangka Maya setertutup itu, dia tidak pernah menceritakan masalah apapun kepadaku, apa aku bukan teman yang pantas dia percaya, bahkan aku sendiri sudah tidak bisa mempercayainya lagi. Datanglah Ovan “Apa kamu juga tidak tahu?” dia menggeleng, Rakha bersama teman kelas dari jauh terus melihatku. Apa mungkin dia tahu keberadaan Maya? Egoku lebih besar dari rasa penasaranku, jadi aku tidak mau menegurnya.
“Sudahlah Yos kamu bisa berteman dengan yang lain, masih ada Lita CS, Shela, Desi, Nurdin, siapa lagi lah itu” CS dari bahasa belanda Cum suis yang berarti sekelompok teman “Mana bisa, Yosi anti-sosial” aku melirik Gery dan Ovan yang membicarakan sikapku terang–terangan “Lagi pula mana mau mereka berteman dengan Yosi” Ovan tertawa, setauku memang tidak ideal jika aku berteman dengan anak perempuan dikelas yang hidup berkelompok dan suka flexing. “Okay, I gotta go” aku meninggalkan kedua temanku, tidak ada yang lebih menarik daripada membaca buku.
Kali ini aku membaca serial manga Death note yang terbit di tahun 2006 ini, bercerita tentang sebuah buku catatan dari dewa kematian Shinigami bernama Ryuk, dia memiliki kekuatan supranatural yang dapat membunuh siapapun nama yang ditulis dibuku tersebut. Buku itu ditemukan oleh Light Yagami, remaja jenius yang ingin mengubah dunia menjadi sebuah utopia. Aku membayangkan menjadi ‘L’ bisa membunuh orang jahat yang aku inginkan, tentu jika penghakiman Tuhan tidak ada.
Ovan membuntuti dan menggangguku “Komik apa ini?” “Van kamu percaya utopia?” “Surga setelah kematian?” dia menjawab dengan teorinya “Setelah manusia mati, mereka akan kehilangan hawa nafsu, jadi untuk apa memikirkan surga, nafsu hanya ada didunia, semua yang ada didunia hanya ilusi. Kamu pernah mendengar tentang lucid dream? Melakukan perjalanan ekstra teritorial, menemukan kesadaran kuantum” “Kamu pernah melakukakan perjalanan itu? Katamu tidak percaya dengan hal mistis?” “Aku mempunyai pandangan dunia yang berbeda, aku percaya setelah mati manusia akan bertemu dengan Tuhan, membantu pekerjaan alam semesta”
“Kamu tidak pernah percaya apapun yang dikatakan Maya tentang hal mistis tapi sekarang kamu malah mengatakannya” “Karena semua yang dikatakan Maya tidak selalu benar?” “Jadi menurutmu kamu yang paling benar?” “Tentu saja tidak, aku hanya berpendapat”
“Kalau begitu bagaimana dengan pengarang cerita di manga seperti death note atau novel Lord of the ring. Apa menurutmu mereka pernah melalui perjalanan ekstra teritorial? Imajinasi manusia ada batasnya, mereka seperti telah berimajinasi melampaui batas” “Mungkin saja, kalau kamu ingin melampaui imajinasimu aku tahu cara melakukan lucid dream dengan Mnemonic induction, kamu harus mencoba cara itu?” “Sepertinya menakutkan”“Tidak semenakutkan bayanganmu, kamu hanya perlu tidur dan mengontrolnya” kali ini aku meragukan Ovan.
“Jelaskan, sejauh apa yang kamu tahu tentang kesadaran kuantum?” aku menunggu Ovan mengungkap rahasia semesta versi dirinya “Kamu tahu jika semua yang ada disemesta ini adalah energi yang saling terkoneksi, terhubung, berkoherensi secara teratur dan terstruktur, lalu membentuk algoritma-probabilitas” “Ya” katanya segala macam energi disemesta ini memiliki sifat partikel dan gelombang, cara mempelajari hubungan antar gelombang diperlukan manipulasi fisika dan juga membutuhkan hitungan angka. Fungsi gelombang menggambarkan probabilitas suatu objek yang berada dalam keadaan tertentu, pengamatan secara sadar menyebabkan kesadaran meruntuhkan fungsi gelombang.
Koneksi, korelasi dan koherensi mendasari pengalaman bawah sadar yang disebabkan oleh struktur internal atom, molekul dan struktur lainnya di dalam otak dan seluruh tubuh. Medan getarannya membawa aspek fisik atau materi, energi dan informasi. Unsur materi, seperti hal yang bisa di dengar, di sentuh, di amati, di ukur dan di alami. Aspek energi adalah materi yang bergerak dan berubah, seperti sebuah momentum. Sedangkan aspek informasi memberi bentuk pada material dan energi. Sebuah benda bisa menyerap getaran melalui resonansi penerimaan getaran termasuk informasi, energi dan materi yang mengarah pada pengalaman sadar secara subyektif.
Aku tidak bisa menangkap apa yang dikatakan Ovan, jadi meledakkannya dengan tertawa “Astaga aku tidak mengerti. Bisakah kamu menjelaskan dengan menggunakan konteks atau analogi lain?” “Intinya kesadaran kita yang berhubungan dengan perasaan, berpikir, mengingat, berperilaku, mengendalikan diri sampai mengambil keputusan bisa menjangkau dan mengatur segala sesuatu yang ada disemesta, baik lingkup Mikrokosmos maupun Makrokosmos melalui resonansi getaran yang kita miliki” “Penjelasan terakhir lebih masuk akal, aku akan pesan jus jeruk untuk mendinginkan kepalaku”
Setelah minum jus, Ovan masih menantang “Kamu sudah siap dengan penjelasan dimensi ruang antar atom?” “Cukup, jadi apa hubungannya dengan orang mati hanya akan menjadi angka?” “Karena yang abadi hanyalah kesadaran kolektif yang kita dapat dari pemahaman dimensi dan ruang kosong semesta” “Oke”
“Apa menurutmu kehidupan juga menjenuhkan?” “Bagaimana bisa kamu mengatakan hal seperti itu, bahkan kita belum pernah melakukan hal baik untuk orang lain” Ovan menghela nafas “Aku merasa telah mati rasa” aku teringat lagunya Linkin Park yang berjudul Numb atau mungkin dia sengaja menyangkutkan ini dengan Numbers (angka), terlalu dicocoklogi “Biasanya orang yang telah mati rasa karena mereka sudah sering mengalami reinkarnasi” “Mungkin aku pernah mengalami hal seperti itu” “Kesedihan, keresahan dan kesepian yang berlarut-larut juga akan membuat orang mati rasa dan runtuh ego, aku merasa egomu masih besar” aku meledeknya, tapi tumben dia diam.
“You know! Quiet death is much better than chaotic life” kematian yang damai lebih baik daripada hidup yang semrawut. Ovan setuju, kami berdua sepertinya sama-sama terobsesi dengan kematian.
Ovan menanyakan perihal lain “Yos kamu masih memikirkan kekasihmu?” “Aku berharap bisa bertemu lagi dengannya, ada miskomunikasi diantara kami” “Kamu bisa mengafirmasinya, segala sesuatu di semesta saling terhubung satu sama lain, kamu akan bertemu lagi dengannya kalau kamu yakin” “Aku akan mencoba” “Tapi bagaimana dengan Rakha, sepertinya dia tidak suka dengan pertemanan kita” aku diam, tidak terlalu penting membahasnya.“Jangan skeptis begitu, sapa dia seperti biasa, aneh melihat tingkah kalian setiap bertemu dikelas” “Ya, semua akan kembali normal” dia mengacungkan jempolnya. “Oh mengenai blog kita, aku akan mencoba bekerja sama dengan redaksi majalah, bagaimana menurutmu?” “Lakukan apapun yang menurutmu progress”
HAK PREROGATIF TUHAN
Siapapun tidak berhak menghakimi kesalahan orang lain, jadi mungkin aku akan memaafkan Rakha. Setelah mata kuliah periklanan, aku duduk disampingnya dan menunggu reaksinya “Hei Yos apa kabar?” “Baik” aku mengamati cover album terbaru Linkin Park di playlist handphonenya, Rakha tersenyum mengarang tema pembicaraan “Kamu tahu kenapa Linkin Park menamai album terbarunya Meteora?” aku menggeleng “Chester dan Mike frustasi karena album barunya hampir sama dengan album sebelumnya di Hybrid theory, jadi dengan dramatis mereka memilih kata Meteora”
“Hubungan frustasi dengan Meteora?” “Meteora, biara di atas batuan Yunani, mereka ingin berdoa di biara dan berharap albumnya mencapai market” karangan yang cukup masuk akal, tapi aku tidak peduli. “Jadi kamu penasaran dengan Maya?” Rakha tahu, aku mendekatinya karena ingin menanyakan keberadaan temanku “Dia bukan teman yang baik, sama sepertiku” “Maksud kamu?” “Waktu itu kami sedang taruhan” aku semakin tidak mengerti. “Apa kita bisa berbicara diluar jam kuliah?” melalui beberapa pertimbangan aku menyetujui ajakannya.
Menuju ke salah satu café di daerah Soehat dengan memesan machiato “Taruhan seperti apa maksudmu?” aku tidak sabar dengan penjelasannya “Maya, dia membantuku menang taruhan” aku menatapnya sinis “Kamu tidak akan membuat kegaduhan disini kan?” “Itu hal yang memalukan, jadi teruskan” “Jika aku bisa berkencan dan tidur denganmu, kami akan menang taruhan dari Lita, masalah ini sudah berlalu jadi harusnya kita tidak perlu membahasnya” “Baiklah ini sudah tidak penting, setidaknya aku tahu, kamu tidak benar–benar menyukaiku”
“Kamu tahu dimana Maya sekarang?” “She’s in trouble. Keluarganya terlilit hutang, dia menghilang untuk menghindar dari ancaman Debt Collector” “Apa itu alasan dia ikut taruhan? It doesn’t make sense” “Dia akan melakukan apapun untuk mendapatkan uang, termasuk menjadi Lady Companion” “Bullshit, aku tidak percaya Maya melakukan hal seperti itu. Bukankah dia sedang diluar kota?” Rakha diam, aku tidak lagi ingin membahasnya “Oke terima kasih infonya, kita harus kembali” “Yosi, diluar taruhanku dengan Lita, aku tidak senang kamu sering jalan dengan Ovan” aku bersiap untuk meninggalkan café “… dan jika kamu mau aku bisa mengantarmu bertemu dengan Maya, dia sedang di Songgoriti sekarang”
GELAP, HENING DAN DAMAI
Suasana paling nyaman untuk berdoa atau bermeditasi, merenung, mewujudkan impian dengan cara berafirmasi dan melatih pernapasan, dimana gelombang otak Alfa akan masuk ke gelombang otak Theta, menyatukan getaran gelombang otak sebagai aktivitas syaraf dengan getaran gelombang semesta, itu yang pernah dikatakan Ovan. Malam ini waktu yang tepat untuk berafirmasi karena pintu alam bawah sadar akan terbuka lebar. Aku mematikan lampu kamarku dan memejamkan mata, melatih kepalaku berhenti memikirkan kekacauan, menarik nafas dalam–dalam bersama keheningan, beberapa menit berlalu, kekacauan terus datang memasuki otakku.
Aku tidak bisa dengan metode ini, jadi aku menyalakan handphoneku, mengganti metode dengan mendengarkan musik meditasi alam dan efek relaksasi frekuensi Solfeggio 432 Herz, aku kembali memejamkan mataku, beberapa menit aku berhasil fokus mendengarkan musik yang diselingi dengan suara aliran sungai di hutan bersama kicauan burung. Aku menarik nafas, membayangkan suasana hutan yang rindang dengan forest bathing. Tiba–tiba terdengar seperti suara dentuman meteor jatuh mengacaukan konsentrasiku, bukan didalam otakku, suara ini terdengar di dunia nyata.
Aku membuka mata, menyalakan lampu dan melihat di sekitar tapi tidak terjadi keanehan, kamar teman lain juga tertutup rapat, mungkin karena mereka sudah tidur, aku menutup pintu kamarku karena waktu sudah lewat dari jam satu malam jadi aku berusaha untuk tidur.
Paginya aku berangkat kekampus dengan mendapati pemandangan yang tidak biasa, meteor seperti telah jatuh didepan mataku, trotoar diseberang jalan nampak tergerus oleh sesuatu, tanahnya longsor kebawah sungai dengan jarak sekitar 20 meter dari atas jalan. Aku baru tahu suara dentuman tadi malam adalah tanah longsor, tidak ada korban tapi ada warung yang menumpang diatas trotoar pinggir jalan jadi rata dengan lumpur dan tanah di pinggiran sungai. Kampus yang berdiri ditahun 1964 ini memang terkenal lokasinya curam, bangunan yang tertata rapi sesuai topografi lahan berlembah yang menghijau dan dialiri sungai Brantas ini menyimpan banyak misteri dan keindahan alam sekaligus.
“Merindukan seseorang?” “Nope” Gery menjawab sambil melamun di depan kelas “Aku pikir kemarin kalian berkencan?” dia masih dengan tatapan kosong “Kamu kenapa?” “Aku sedang memikirkan konsep foto untuk cover majalah” “Aku baru tahu orang berpikir seperti itu mukanya, persis kethek ketulup (Kera yang bingung kena tembak sumpit yang ditiup) “Yosi, kamu mengacaukan konsepku” Gery langsung bertingkah normal ketika konsentrasinya hilang.
“Kasihan pemilik warung depan, warungnya sampai terjun kesungai” “Sudah tahu tanahnya rawan longsor, tapi masih jualan disitu” bantah Gery “Iya juga, jangan–jangan tanah dibawah GKB juga rawan longsor” “Janganlah, belum nikah” “Astaga masih ada alasan seperti itu” “Siapa yang beralasan, memang belum menikah” “Gery kalau kamu nanti mati bisa langsung dapat bidadari surga, kamu percaya surga kan? Jangan seperti Ovan, dia tidak percaya surga, katanya sudah tidak nafsu dengan perempuan, jadi jatah 72 bidadarinya kamu ambil saja” “Hah aku dapat 144 bidadari? Tolong, tidak sanggup” Gery tertawa, Ovan berdiri dibelakangku sambil menarik ujung rambutku “Puas kamu!”
Ovan membawa kabar dari kemajuan blog “Yos ada email dari majalah lokal yang mau angkat tema tulisan kita, masih aku follow up” “Kalau mau jasa foto, rekomendasikan aku juga dong” Gery ikut–ikutan “Jobmu banyak, harusnya kamu yang bagi ke kita” “Nanti saling berkolaborasi” aku menyepakatinya.
Berkurangnya satu teman menjadikan circle ini semakin sepi “Oh ya Van memangnya di Songgoriti ada apa?” “Villa, kamu mau kesana? Kenapa tanya itu?” “Penasaran” “Ayo ke gunung Semeru saja semester depan?” “Boleh, nanti aku ajak juga teman DIMPA” jawab Gery, kemudian kami memasuki kelas karena jam perkuliahan akan dimulai, berpapasan dengan Lita yang terus menatapku, tingkahnya penuh dengan kepalsuan untuk cari perhatian. Dia tidak suka kedekatanku dengan Ovan, jadi aku sengaja menggandeng tangan Ovan melewatinya “Kenapa kamu ikutan gimmick Markonah”
Selasai kelas, aku menghampiri Ovan yang sedang mengambil motornya diparkiran “Rakha pernah melihat Maya di Songgoriti, apa mungkin?” “Jadi kalian sudah baikan? Untuk apa Maya melakukan itu?” “Masalah Financial mungkin” jawabku “Aku ingin tahu kabarnya” “Maya tidak ingin tahu kabarmu, untuk apa kamu mencarinya” “Siapa tahu dia sedang dalam masalah dan butuh bantuan kita” “Kamu tidak perlu ikut campur urusan Maya, Lita juga Rakha” “Tapi kenapa kamu ingin aku baikan dengan Rakha?” “Aku tidak ingin kamu punya masalah dengan mereka” “Bagaimana jika mereka dulu yang membuat masalah?”
Ovan mengambil helm dalam bagasi motornya, menyerahkan kepadaku “Ayo jalan ke Paralayang, kamu overthinking” aku langsung mengambil helm itu dan memakainya “Kita tidak sedang berkencan” dia memastikan “Aku tahu” “Jangan lupa pakai jaketmu, aku tidak ingin kamu salahkan kalau masuk angin nanti” “Iya Malih!” Kami keluar kampus, menaiki motor kearah Batu.
“Kamu alergi dengan perempuan?” “Kata Umi aku harus menghargai perempuan, jadi tidak boleh macam-macam sampai menikah” “Jadi kamu sudah mau menikah?” “Belum” “Jadi kamu belum pernah dekat dengan perempuan?” dia tertawa kencang “Kamu percaya? Tentu saja aku tidak sepolos itu, hidup harus seimbang, tapi untuk saat ini aku ingin menjadi role model” “Role model buat siapa?” “Generasi bangsa, banyak tanya kamu” aku diam, mengikuti kemanapun Ovan membawaku, berseluncur melewati jalan berkelok–kelok sambil mencari tempat untuk makan sore, kanan-kiri banyak sekali ditumbuhi berbagai macam jenis pohon.
Tibalah kami di sebuah warung disudut belokan jalan, sesuai namanya yaitu warung pojok. Bakso dan teh panas menghangatkan tubuh kami dari sejuknya kota Batu. Suara burung terdengar diatas dahan pohon bersautan “Apa kita akan sampai malam disini?” “Ya pemandangan dibukit sangat bagus dimalam hari” dari jauh nampak atlet Paralayang berjatuhan menuju landasan take off.
Kami berjalan menuju bukit Paralayang yang berada dipegunungan Banyak dengan ketinggian 1.326 mdpl. Kami duduk melihat hamparan bintang dilangit dan juga hamparan lampu dari rumah penduduk yang gemerlapan “Menakjubkan dan romantis sekali” Ovan melirikku “Kalau berpergian dengan pasangan” “Kamu bisa melihat daerah Songgoriti dari atas sini” telunjuknya mengarah kesuatu tempat “Sepertinya banyak destinasi wisata disana?” “Kamu harus mengunjungi semua tempat wisata disini, kecuali Gang macan” “Tempat apa itu?” “Orang–orang mempunyai stereotipe negatif dengan tempat itu” “Oh tempat prostitusi”
“Tidak ada kunang–kunang, harusnya mereka muncul disemak belukar dan pepohonan seperti ini” “Mungkin mereka muncul ditempat yang lebih sepi, daerah ini masih banyak aktivitas pengunjung” “Aku menyesal dulu suka memburu kunang–kunang dan memasukan mereka ke wadah plastik, sekarang aku bahkan tidak melihatnya” Kunang–kunang adalah serangga nocturnal, mereka akan aktif dimalam hari dan menghabiskan waktunya bersembunyi direrumputan pada siang hari. Saat udara masuk kedalam perut, kunang-kunang bereaksi dengan senyawa Luciferin mengeluarkan cahaya dingin, nama senyawa yang mirip dengan iblis Lucifer.