CHAPTER 8
RUMAH BACA & COFFEE SHOP
Usaha milik salah satu dosen FSIP, selain mempublish artikel aku memutuskan bekerja dirumah baca yang dekat dengan kampus, karena memasuki semester 5 tidak terlalu banyak mata kuliah. Lantai satu bangunan ini difungsikan sebagai Coffee shop, sedangkan lantai dua sebagai Rumah baca dengan ribuan koleksi bukunya. Aku mendaftar sebagai pustakawan, tugasnya bertanggung jawab akan sirkulasi peminjaman. DiCoffee shop ada dua orang barista yang bernama Fuad sebagai karyawan tetap dan Ojan teman sekelasku di Ikom, aku mendapatkan info pekerjaan part time juga darinya. Karena aku dan Ojan bekerja disini, Ovan dan Gery jadi sering mengerjakan desain di Coffee shop.
Fuad adalah kelompok supporter klub bola Aremania, bersama Ojan dan Ovan mereka sering membahas pertandingan bola Arema squad. Pada tanggal 16 Januari ditahun 2008 ini Aremania bertindak anarkis ketika bertanding melawan Persiwa Wamena. Pertandingan harus dihentikan di menit ke-70 saat Persiwa unggul 2-1. Aremania mengamuk karena tidak puas dengan keputusan wasit menganulir 3 gol Arema di laga lanjutan 8 besar Liga Indonesia. Chaos! Aremania turun menginvasi lapangan, merusak dan membakar fasilitas stadion Brawijaya Kediri, bahkan mereka baku hantam dengan supporter lain dan warga sekitar. Akibatnya Aremania dihukum pelarangan mengenakan atribut Arema selama dua tahun dan dilarang medukung Arema di luar kandang.
Keluh Fuad “Walah ker maleh gawe klambi ireng lek nonton bal–balane Arema, koyok kate nyekar nang kuburuan wae” (Walah rek malah pakai baju hitam kalau menonton pertandingan bola Arema, seperti ziarah kubur saja) “Salahmu anarkis di Brawijaya” tambah Ovan, Fuad tidak terima “Ancen wasite nggapleki, arek–arek maleh emosi” (Memang wasitnya menjengkelkan, teman–teman jadi emosi) “Kon melu ngrusak pisan ta?” (Kamu ikut merusak juga ya?) tanya Ojan, Fuad tertawa “Iyo, ono suporter Persiwa lewat tak keplaki ndase” (Iya, ada supporter Persiwa lewat aku pukuli kepalanya) “Gendeng kon” (Gila kamu)
Ojan menjelaskan “Sak durunge wes tanda tangan kontrak keamanan karo Panpel sing isine perjanjian ora gawe kerusuhan wayah pertandingan” (Sebelumnya sudah tanda tangan kontrak keamanan bersama Panpel yang isinya tidak melakukan kerusuhan selama pertandingan) “Kan hanya hitam diatas putih” “Bener, mung kertas iso disuwek” (Benar, hanya kertas yang bisa disobek) Yang aku herankan kenapa supporter bola di Indonesia, kalau menang seperti besar kepala tapi kalau kalah selalu anarkis, suka berdalil dan menghujat, bentuk ketidak supportifan dari supporter, atau memang ini tugas mereka dengan berteriak atas ketidakadilan seperti orang demo HAM yang turun ke jalan.
Datang Gery memarkir motornya “Aku tidak pesan ker, mau numpang Wifi-an” dia duduk samping Ovan, sepertinya mereka sedang mengerjakan konsep acara pameran foto “Mbok pikir warunge mbahmu ta” (Kamu pikir warungnya nenekmu ya) Gery tertawa tidak peduli, Fuad dan Ojan kembali dengan kerjaan dapurnya. Sedangkan aku ke lantai dua menyibukan diri membaca buku, kegiatan yang sudah lama aku tinggalkan, sambil mendata pelajar dan mahasiswa yang keluar masuk ruang baca untuk meminjam dan mengembalikan buku.
Suatu hari di Rumah baca, Lita menghampiriku dan aku mencoba berdamai dan menyapanya dengan ramah “Hei Lit, apa kamu mau meminjam buku?” “Aku ingin bicara denganmu” aku menarik sebuah kursi plastik kearahnya, mempersilahkan duduk “Bisakah kamu menjaga jarak dari Ovan?” “Oh astaga itu lagi, dia temanku, kamu tidak bisa mengatur seperti itu, lagi pula kami sedang mengerjakan proyek menulis”
“Kalau begitu bantu aku dekat dengannya” “Lita kamu sangat kekanak–kanakan, jika memang dia ingin dekat denganmu pasti sudah dia lakukan, kenapa kamu bersikeras mendekatinya” “Karena kami sempat sangat dekat sampai kamu datang” aku heran dengan cara berpikirnya “Kamu menyalahkanku atas pertemanan kami?” “Siapa lagi” “Jika kamu ingin pergi dengannya, ajak saja dia pergi tapi setauku Ovan tidak ingin dekat dengan perempuan” “Oh ya? Itu karena kamu terus menempel seperti parasit” “Wow begitu ya! keluar kamu, jangan memancing keributan disini” aku mengusirnya, dia meninggalkan ruangan.
Seorang anak laki-laki berseragam sekolah, bermata sayu dan memiliki kulit pucat seperti salju mendatangiku. Dia sering membaca buku di rumah baca tanpa pernah meminjamnya “Ada novel No longer human karya Dazai Osamu?” “Aku belum pernah mendengarnya” dia menungguku “Maaf tapi aku tidak menemukan didaftar pencarian” “Kalau Kokoro karya Narsume Soseki?” “Sepertinya novel Jepang tidak banyak disini, kamu bisa mendapatkan melalui e-book”
Anak itu melihat gantungan ID card yang aku pakai “Yosita, salam kenal” dia mengenalkan diri dengan nama Hasendo, nama yang jarang dipakai oleh orang Indonesia, khususnya di Jawa. “Kamu juga seperti orang Jepang” aku menjawab dengan candaan “Mungkin ibuku pernah nyidam dango” dia tersenyum “Sebenarnya aku pernah Student Exchange di Nagoya” “Oh ya aku punya keluarga di Kobe dan Miyagi” “Setauku daerah Kobe banyak markas Yakuza? “Mereka menyebar disemua kota, sebagian banyak di Tokyo” “Jadi kenapa kamu tidak tinggal disana?” dia tersenyum, semua orang seperti mempunyai masalah yang tidak bisa diceritakan.
METABOLISME TUBUH MENURUN
Aku bersender dibangku kelas. “Kamu kenapa?” Gery mendatangiku, aku menggeleng “Oh ya bulan depan kak Beti dan temannya mengajak kita ke pantai Sendang biru dan pulau Sempu, kamu mau ikut tidak?” “Bukannya itu Cagar alam bukan tempat wisata?” “Bisa izin petugasnya jika berwisata, nanti mau sekalian buat acara bersih pantai” “Nanti kalau tidak ada kerjaan aku kabari” “Kamu sakit?” “Memang kelihatan ya? Aku kurang enak badan dua hari ini” Ovan menyarankan “Tidak usah kerja dulu, biar Rumah baca di handle Ojan” “Setelah selesai jam kuliah aku akan langsung pulang” “Butuh diantar berobat?” “Jika kamu tidak keberatan” “Ayolah, jangan berkata seperti itu” “Terima kasih”
Sampai kos, aku buru-buru masuk kamar, tidak hanya demam kepalaku juga pusing, aku jarang sakit selama ini karena daya tahan tubuhku cukup kuat. Setelah makan dan minum obat, aku mengompres kening dan tidur siang untuk memulihkan badanku. Didalam tidurku, aku bangun ditanah berlumut dengan pandangan mata penuh dengan kabut, aku berdiri dan berjalan sambil menyeka kabut tebal itu. Terlihat berjejer pohon pinus dan cemara seperti dimimpiku sebelumnya. “Siapa yang membawaku kesini?” suasana hening “Aku sudah muak, siapa yang membawaku kesini?” Tiba–tiba angin menyerbu, daun-daun gugur berjatuhan mengenai wajahku. Angin semakin kencang, membuatku kesulitan bernafas dan berdiri tegak, sampai akhirnya terjatuh, aku membuka mata dan menyekanya sambil memandang boneka kayu yang tidak bergerak disudut meja “Hei apa itu ulahmu? Aku mohon berhenti menggangguku”
Aku masih terbaring lemas, tanganku menggapai tumbler dan meminum air sebanyak mungkin untuk menetralkan suhu badanku, mencoba untuk tidur, masih dengan mimpi yang sama. Angin menghilang membawa kabut tebal, cuaca menjadi cerah dengan pantulan sinar matahari menghangatkan tubuh. Kembali menapaki hutan, mencari ujung dari jejeran pohon yang menjulang, terlihat gunung berbentuk simetris bertipe strato dengan ujung puncak yang berselimut salju dan pemandangan langit biru dibelakangnya, aku terpesona, sepasang tangan merangkulku dari belakang dan aku terbangun.
Efek kantuk dari obat membantuku beristirahat siang meskipun dengan mimpi yang itu-itu lagi. Rasa bosan dan kesepian melanda, aku mengambil handphone disebelahku untuk membunuh waktu. Aku membuka Youtube, aplikasi berbagi video online yang tenar belakangan ini, mencari apa yang bisa menyembuhkan badan dan menetralkan pikiran. Manusia seharusnya bisa menyembuhkan dirinya sendiri, seperti efek placebo yang efektif dan seperti luka pada tubuh, dimana sel–sel bisa mereparasi bagian yang rusak sampai tertutup sehingga bisa pulih kembali.
Mens sana in corpore sano didalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat, begitupun sebaliknya, jika kita menjaga pikiran tetap waras dengan kehidupan yang kita jalani, maka badan kita juga akan sehat. Kesehatan psikis mempengaruhi kesehatan tubuh, orang yang mengalami stres, tubuh akan memproduksi lebih banyak hormon Kortisol yang menyebabkan melemahnya sistem kekebalan tubuh yang berakibat sakit. Sedangkan jika kita tenang maka Neurotransmiter dari otak menstimulasi sistem kekebalan tubuh, karena otak dan organ tubuh bekerjasama untuk menjaga kesehatan. Proses ini akan berlangsung lebih baik jika kita merasakan ketenangan dan kebahagiaan, tubuh membentuk banyak hormon serotonin dan endorfin yang memperkuat kekebalan tubuh.
Ada juga metode lain, seperti melakukan penyembuhan dengan berpuasa, dimana sel Autophagy akan memakan bagian yang rusak dari dirinya sendiri atau sel ditubuh juga akan mendegradasi komponen yang tidak diperlukan, kemudian membentuk protein yang diperlukan tubuh. Disisi lain obat generik akan berdampak pada kesehatan tubuh jangka panjang, jadi aku mencoba berhenti mengkonsumsi obat-obatan itu serta menjaga makanan yang masuk dalam tubuh dengan teratur. Terdengar notifikasi BBM dari Ovan.
Kamu tahu gangguan Psikosomatis? Jika kamu sering berpikir buruk dan beremosi yang membuatmu sedih, kamu bisa sakit.
Aku tidak menderita gangguan apapun.
Berarti kamu telah bertemu dengan hantu, karena hantu bisa menyerap energimu untuk menambah kekuatannya :D
Aku mencari tahu apakah hantu memang bisa melakukan hal itu. Belum terbukti secara ilmiah, tapi roh atau hantu bisa mengambil kekuatan energi dari sumber listrik dan mewujudkan dirinya atau berinteraksi dengan dunia fisik. Selain itu hantu juga menyerap emosi takut, sedih, marah dan energi force lainnya dari manusia untuk menampakkan eksistensinya. Dan ada yang berpendapat jika hantu adalah sebuah kesadaran tanpa tubuh atau kumpulan energi pikiran, apa yang kita pikirkan akan menjadi hantu yang nyata.
TUBUHKU KEMBALI FIT
Aku menyapa Fuad dan Ojan di Coffee shop sebelum naik ke lantai dua “Sam Fuad pesen obat ngantuk” “Wes sehat kon iku?” (Sudah sehat kamu itu?) “Please sweet ristretto espresso shots finished with steam whole milk” “Kopi luwak maksudmu?” “Flat white sam” “Oyi, ditunggu” “Sam tau eruh bocah sing kulite putih koyok salju gawene moco buku nang duwur?” (Mas tahu anak berkulit putih seperti salju yang sering baca buku dilantai atas?) “Ora tau ngawasi, akeh arek mlebu metu nang kene” (Tidak pernah mengawasi, banyak anak keluar masuk disini) Fuad menjawab sambil menyodorkan segelas kopi dimeja “Perasaan sak suwene aku nang kene ora ono arek sing kulite putih koyok salju, onoe ireng koyok angus dandang, lah iki Ojan” (Perasaan selama aku disini tidak ada anak yang kulitnya putih seperti salju, adanya hitam seperti panci hangus, nah ini Ojan) dengan catatan Fuad sudah dua tahun bekerja di Coffee shop.
“Walah Yos” “Apa sam?” Fuad teringat sesuatu “Ora sido wes, kesel aku tak nendes kombet wae” (Tidak jadi, lelah aku mau bersender tembok saja) aku masih menunggunya mengatakan sesuatu “Tak enteni nganti kopiku entek” (Aku tunggu sampai kopiku habis) “Ngko muleh wae, wes ono arek ngenteni” (Nanti pulang saja, sudah ada anak menunggu) aku menoleh kebelakang, seorang anak ingin mengembalikan buku, jadi aku segera meninggalkan Coffee shop, menaiki tangga ke lantai dua dengan membawa gelas flat whiteku.
Aku penasaran dengan buku yang pernah dicari Hasendo, aku mencari via online ‘No longer human’ berarti gagal menjadi manusia. Bercerita tentang kehidupan penulis yang tidak mampu mengungkapkan jati dirinya ke orang lain dengan mempertahankan kegembiraan yang kosong, ini membuatnya menjadi seperti bukan manusia. “It would have been useless to complain to human beings, so I said nothing of the truth. Human beings around me rigorously sealed me off from the world of trust or distrust”
Ada banyak bagian yang menunjukkan sikap tidak terima terhadap dogma jahat di lingkungannya, seperti kerusakan, kepicikan, kebusukan manusia dan banyak hal buruk lain. Kesadaran diri yang terlalu besar terhadap hal kecil membuatnya berubah menjadi orang yang tidak peduli, bahkan rentan terpengaruh oleh hal-hal yang dipercayainya. Meskipun dia telah berusaha menjalani hidup yang benar, tapi Tuhan seakan tetap tidak dipihaknya, jadi penderitaan terus berlangsung. Dia selalu dihantui dengan rasa penyesalan dan takut karena telah membuang semua yang dia miliki semasa hidup, sedangkan dia tidak mendapatkan apapun selain pengkhianatan sampai akhirnya si penulis melakukan bunuh diri. “Hei you made the wrong choice, you can’t escape” aku tidak lebih baik setelah membaca beberapa halaman dari buku ini, kehidupan dan perasaan yang memang kadang berjalan seperti itu adanya.
Pulang dari Rumah baca aku menagih janji Fuad, menunggunya yang sedang membereskan pekerjaan. Kami berkumpul didapur, sepertinya Ojan juga penasaran, to do point. “Opo areke gawe hem putih?” (Apa anaknya pakai kemeja putih?) “Koyok seragam sekolah” (Seperti seragam sekolah) “Kon ngerti jenenge?” (Kamu tahu namanya?) “Hasendo” “Ora salah maneh” (Tidak salah lagi) “Sing jelas critomu” (Yang jelas ceritamu) Ojan memukul pundak Fuad.
Katanya bangunan ini dulu miliknya Belanda waktu penjajahan kemudian diteruskan dan dipakai oleh Jepang, dibeli oleh ayah dari owner, diperbaiki menjadi Coffee shop dan Rumah baca. Tapi aku ora indigo, ora iso ndelok barang alus” (Tapi aku bukan indigo, tidak bisa melihat makhluk halus) “Lha yo mbuh, takokno setane” (Tidak tahu, tanyakan setannya) “Ngapusi sam Fuad iki” (Bohong mas Fuad ini) “Bah–bah wes, penting ora ganggu” (Terserah, yang penting tidak ganggu) tambahnya.
Beberapa minggu berlalu, aku belum bertemu dengan Hasendo. Tapi kali ini Lita yang aku temui di Rumah baca, dia datang tanpa aku persilahkan duduk “Apa lagi?” “Aku sedang kacau” “Kenapa kamu mendatangiku? Kamu kan punya banyak teman?” dia memainkan bolpoin dimeja “Mereka datang kalau ada inginnya” “Apa hubungannya denganku?” “Bagaimana kamu bisa hidup tidak berteman” “Karena itu kamu mendatangiku? Kita akan mati dan dikubur sendirian di dalam tanah, biasakan dirimu” dia tidak peduli dengan perkataanku
“Aku kesepian meskipun banyak teman, bahkan sikap Ovan membuatku ingin terus bersamanya. Dia bersikap apa adanya, suka membantu teman meskipun menyebalkan, aku rindu sikapnya yang lucu dan membuat orang lain penasaran, kamu juga berpikir seperti itu? Lalu bagaimana caramu mendekatinya?” “Suddenly I was in a circle, aku tidak tahu cara yang kamu maksud” “Kamu tidak bisa membantuku?” Lita terus mendesak. “Aku hanya bisa memberimu saran, carilah banyak kegiatan untuk tidak fokus ke satu hal” “Berarti aku harus melupakannya?” “Tentu”
“Yosi, kamu memang tidak peka dengan perasaan orang. Dia beberapa kali menolak ajakanku, ini sangat menyakitkan. Kamu berkata seperti itu karena kamu tidak tahu rasanya ditolak berkali–kali” aku hanya mencoba membuatnya berpikir positif. “Baiklah, aku minta maaf” “Selama kamu dekat dengan Ovan, semakin sering dia menolakku” aku mengernyitkan dahi, perkataannya semakin menjengkelkan “Awalnya Rakha juga sering bersamaku sampai akhirnya dia terus menceritakan apapun tentangmu. Apa yang kamu lakukan kepada mereka? Kamu perempuan aneh, tidak ada yang mau berteman denganmu tapi kenapa mereka berbeda”
“Oh ya aku tau, pasti karena bantuan boneka kayu itu” Lita tersenyum menyudutkanku “Jadi kamu yang merusaknya?” “Kata Maya boneka itu penuh dengan magis, lalu aku melemparnya untuk menghilangkan magis didalamnya, kamu sedih?” “Apa saja yang dikatakan Maya?” “Apa itu jimatmu? Apa kamu yang membuat mereka mati dengan tragis? Dasar penyihir!” dia melemparkan bolpoin kearah mukaku “Why you think im a witch?” perempuan sialan, mendatangiku hanya untuk mencari keributan.
DI SEMESTER AKHIR
Ada jadwal kegiatan kampus yang wajib mahasiswa ikuti untuk syarat kelulusan dan menyelesaikan skripsi. Aku dan Ojan mendapatkan jadwal Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Lumbang Probolinggo selama satu bulan, jadi absen dari kerjaan di Rumah baca dan Coffee shop, sementara digantikan dengan saudara dari owner sendiri. Singkatnya program ini berjalan dengan baik sesuai arahan Koordinasi desa dengan program membantu warga Lumbang melakukan penghijauan, mengajar disekolah, sosialisasi kesehatan, kebersihan, kerja bakti, dan membantu kegiatan warga. Aku jadi lebih sering mengunjungi pegunungan tengger, khususnya gunung Bromo dan ke air terjun Madakaripura yang terkenal eksotis untuk sekedar bermain dihari minggu.
Selanjutnya aku dan Ojan kembali ke tempat kerja bertemu dengan Fuad, Gery dan Ovan yang sesekali bersantai di Coffee shop, jadwal kegiatan yang berbeda membuat kami jarang bertemu, bahkan aku menolak ajakan Gery untuk pergi ke pantai Sendang biru dan pulau Sempu, katanya itu terakhir kali Beti di Malang karena sudah lulus. Waktu ditenda, dia pernah bercerita tentang perjalanannya ke gunung Rinjani dan berkunjung ke desa adat Sade yang kental dengan budaya dan tradisi yang berhubungan dengan alam. Sebuah dusun yang masih mempertahankan ajaran adat suku Sasak dengan mayoritas warga bekerja sebagai petani. Sade memiliki arti sadar atau manusia yang mempunyai kesadaran. Kehidupan seperti itu selalu bisa ditemui ketika berkunjung ke daerah suku adat.
Sore ini Ovan dan Gery ke Rumah baca yang sedang sepi pengunjung dan menggangguku “Yos sedang meditasi kamu?” aku mengiyakan perkataan Ovan “Sudah dapat wangsitnya?” “On process” mereka berjalan memutar ke beberapa rak buku melihat koleksi buku yang akan menjadi referensi mereka mengerjakan skripsi semester depan. “Hei kalian tidak ingin pergi ke Rinjani? Sebentar lagi kita akan pisah” Ovan menawari kami pergi trekking kegunung sebelum kelulusan wisuda kampus. Dia melanjutkan “Aku dengar ada jalur pemdakian dengan pemandangan seperti Jurassic park? Namanya jalur Torean. Masyarakat sasak sering melewati jalur itu, belum dibuka resmi tapi sudah bisa dilewati oleh pendaki”
“Aku tidak akan mendapat izin dari nenekku jika keluar pulau” “Bukannya kamu pernah ke Jepang?” “Itu kegiatan sekolah, ada managemennya, jadi banyak yang jaga” “Nanti aku yang jaga waktu digunung” Gery berdehem dan tertawa mendengar percakapan kami. “Aku juga ingin meliput suku adat Sade, kearifan lokal yang bisa bertahan ditengah arus modernisasi global” aku memberi masukan “Didaerah Blora dekat rumahku ada suku Samin, untuk budaya memang berbeda, tapi kamu bisa meliputnya jika dapat izin dan aku akan mengantar kalian jika mau” Gery dan Ovan saling pandang.