CHAPTER 9
9 MARET 2010
Pukul 08.30 menuju Bandara Juanda Surabaya, Denis membawa waist bag dan menyeret mini kopernya, dia sudah ada tempat tinggal di Tokyo, jadi tidak terlalu banyak barang yang dibawanya. Sedangkan aku membawa satu koper ukuran besar dan tas slempang, dia menyambutku dengan senyum hangat. “Sudah siap berangkat?” “Siap kak” pengalaman kerja membuat Denis terlihat mature, aku sungkan telah merepotkannya. Kami check-in penerbangan, pemeriksaan tiket, masuk pesawat dan duduk bersebelahan. Jantungku berdebar, aku berdoa sepanjang waktu keberangkatan supaya selalu diberi kelancaran.
Musim semi pertamaku di Jepang, sebelumnya aku pernah merasakan musim panas, musim gugur dan musim salju di Nagoya. Jadi aku senang disambut musim yang belum pernah aku rasakan. Pucuk ranting pohon sakura tumbuh, bunganya bermekaran memenuhi tangkai disepanjang jalan, menyambut kedatanganku. Dan untuk sementara waktu aku menginap dua hari kedepan di apartemen saudara sepupu Denis, di pinggiran kota Koto-Tokyo, biaya di kota cukup mahal, jadi besok kami akan mencari mini apartemen yang murah untuk aku tinggali.
Namanya Ola, orang Jepang memanggilnya Ora, berperawakan rata-rata dengan rambut lurus sebahu, dari kerut matanya kemungkinan dia berusia 30 tahunan awal tapi masih senang hidup melajang dan sudah lama bekerja di perusahaan product merchant Tokyo bagian pemasaran. Ola tersenyum menyambutku setelah Denis kembali ke kantornya. “Yosi, kamu teman Denis kerja?” “Sebenarnya aku hanya magang di tempat kerjanya” “Jangan sungkan, kita sama–sama merantau, jadi nikmati hidup disini” “Terima kasih” aku duduk dikarpet melihat pernak–pernik souvenir dan berbagai macam aksesoris yang tertempel di tembok dan diatas meja.
“Bagaimana awalnya kak Ola bisa kerja di Tokyo?” “Aku dulu kuliah di Arts Ueno Taito, jadi sekalian cari kerja disini. Denis aku yang bawa, katanya ingin ikut ke Tokyo, keterusan sampai sekarang” aku mengamati beberapa boneka kayu berjejer dari ukuran paling kecil sampai besar, ini seperti jenis boneka Kokeshi tapi berbeda model dengan yang aku punya. “Kamu suka boneka kayu juga? Itu jenis matryoshka asalnya dari Rusia. Kata Denis kamu sudah pernah ke Jepang sebelumnya” Ola duduk disebelahku, memberikanku segelas minuman Matcha “Aku dulu pernah Student Exchange di Nagoya, kak Ola tahu dimana aku bisa memperbaiki boneka Kokeshi?” “Banyak pengrajin di Tokyo, untuk apa diperbaiki. Kalau boneka kayumu rusak nanti aku kasih yang baru” “Tapi bonekaku penuh dengan kenangan”
Ola bercerita tentang pengalamannya pernah ke museum boneka Kokeshi yang ada di kota Miyagi. Katanya tempat produksi boneka kokeshi tertua ada di Taman Naruko Onsen-Osaki. Museum itu memamerkan sekitar 5.000 boneka Kokeshi tradisional. Banyak koleksi disumbangkan oleh Kaname Fukazawa, seorang penulis buku anak-anak yang terkenal dan ahli boneka Kokeshi, museum itu menyimpan boneka Kokeshi berharga yang telah dikumpulkan oleh mendiang Pangeran Takamado. Selain menikmati karakteristik unik boneka, pengunjung juga bisa menyaksikan pengrajin membuat boneka Kokeshi dan mencoba melukisnya secara langsung.
Sebelum masuk kerja, Denis mendapatkan apartemen small room untuk aku tempati di daerah urban building yang berada di sekitar jalan Roppongi Minato, bangunan apartemen berwarna coklat minimalis yang bisa aku bayar per-bulan. Aku memilih kamar yang berada di lantai tiga dengan bangunan terdiri dari lima lantai. Dalam kamar berukuran 3x3 itu terdapat single bed, meja–kursi baca, kamar mandi dan pantry kecil disebelahnya. Setelah keluar dari apartemen Ola, aku pindah ke apartemenku dengan perjalanan menaiki bus umum bersama Denis.
Diperjalanan Denis juga menjadwalkan bertemu temannya yang menjadi asisten redaksi majalah Kodansha “Kalau meeting awal bulan bagaimana? Kamu istirahat dulu dan mulailah beradaptasi dengan lingkungan baru” “Kapanpun aku bisa” aku sudah tidak sabar sebenarnya “Setelah ini kamu harus melakukan apapun sendiri, aku akan kembali ke Indonesia mungkin akhir bulan depan. Jika perlu bantuan kamu bisa hubungi Ola, tapi dia tidak selalu ada karena sibuk dengan pekerjaannya” “Aku mengerti, kak Denis tidak perlu khawatir” aku masuk kamarku, Denis meninggalkanku merapikan barang bawaan. Disini aku baru merasa benar–benar sendirian, jauh dari kehidupan sebelumnya. Aku berusaha tenang, menyatu dengan lingkungan Tokyo.
Hari itu tiba, aku bersama Denis bertemu dengan temannya seorang asisten redaktur majalah bernama Souta di sebuah restoran Nobu daerah Minato. Senior Souta bercerita tentang kantor pusat Kodansha yang terletak di kota Bunkyo, reporter dan script writer hanya akan sesekali ke kantor karena pekerjaannya lebih banyak di lapangan. Beliau menyuruhku memilih antara mengisi majalah Flash atau Friday, keduanya sama–sama mencari tambahan reporter, jadi aku memilih dalam naungannya di majalah Friday.
Beliau akan membinaku sebagai reporter dalam segi teknik menyangkut materi berita maupun non-teknis seperti mental dan moral. Tentu saja aku tidak sendiri, aku akan dibantu dengan koordinator liputan dan tim lainnya. Majalah Friday berisi tentang kehidupan selebriti dan politisi, juga disertai dengan rumor yang menimbulkan skandal kehidupan pribadinya. Selain edisi mingguan yang rilis setiap hari jumat seperti namanya Furaide (Ejaan Jepang), ada edisi majalah khusus yaitu Friday Dynamite yang diterbitkan beberapa kali dalam setahun. Kata senior Souta sementara aku akan bekerja selama 3 bulan, setelah itu menemui pemimpin redaksi untuk melanjutkan kontrak kerja dan kami sepakat, jadi besok aku harus ke kantor Bunkyo untuk menandatangani kontrak kerja dengan salary yang hanya cukup untuk bertahan hidup di kota Tokyo.
PERJALANAN KE BUNKYO
Diawal bulan April, aku berangkat kekantor Kodansha dengan berpakaian semi formal, tidak jauh berbeda dari penampilanku waktu kuliah, sebagai reporter harus energik dan flexible. Aku berkenalan dengan beberapa karyawan pers yang saat itu aku temui karena sebagian yang lain keluar lapangan. Aku diruangan asisten redaktur Souta untuk tanda tangan kontrak kerja, sambil menunggunya mencari salah satu tim bagian koordinator liputan. Koordinator liputan ini nantinya bertanggung jawab atas penyusunan ide liputan dengan memperhatikan nilai berita didalamnya yang kemudian akan ditugaskan kepadaku.
Kata senior Souta timnya ini juga dari Indonesia yang sudah bekerja selama satu tahun di Kodansha, seharusnya aku bisa lebih mudah berkoordinasi dengannya. “Yosi-san, Shigoto no patona ga 1 jikan go ni kuru no o matsu koto ga dekimasu. Shigoto o shinagara mazu nani o sureba i no ka o manabu koto ga dekimasu yo ne” (Yosi kamu bisa menunggu partner kerjamu yang akan datang sekitar satu jam lagi, pelajari dulu apa yang harus dilakukan selama bekerja, kamu mengerti kan) “Hai, Souta-senpai” (Baik senior Souta)
Setelah menunggu, seorang karyawan masuk ke ruang asisten redaktur, aku terkejut melihatnya, betapa Tuhan sangat rapi mengatur algoritma kehidupan manusia.“Nagaku o mata se shite moshiwake arimasen” (Maaf lama menunggu) ucapnya yang belum sadar dengan keberadaanku, wajahku mungkin telah melebur dengan wajah orang asli Jepang pada umumnya. Karyawan itu menarik kursi dan duduk di sampingku, aku tercengang tapi mataku berbinar. “Sate doko kara hajimemasu ka?” (Baik ingin dimulai dari mana?) senior Soutapun menjawab “Mazuwa Shigoto no patona ni tsuite shirimashou” (Kenalan dulu dengan partner kerjamu) dia menolehku dan kembali berdiri saat melihatku dengan jarak pandang yang lebih dekat “No way, is that you?” dia tidak berpaling dari mengamati wajahku, senior Souta bingung melihat tingkah kami.
“Tomodachi desuka?” (Kalian berteman?) “Sodesu” (Benar) “Baa kau sampai Tokyo, ambo hampir jantungan” aku mengangguk, masih tidak percaya takdir mempertemukan kami kembali. “Kare wa watashino tomodachi desu, koko de kara ni aete hontoni odoro-kimashita” (Dia teman lamaku, aku sangat terkejut melihatnya disini) Praja menjelaskan lagi ke senior Souta. “Fukanodesu, sekai wa hiro sugirunode furui yujin ni au koto wa dekimasen. Oni-ri o dosokai ni nokoshi sonogo ji no shigoto no setsumei o sa sete itadakimasu. Yukkuri shite kudasai” (Mustahil, dunia terlalu luas untuk bertemu dengan teman lama. Kalau begitu aku akan meninggalkan kalian berdua untuk reuni, setelah selesai aku jelaskan pekerjaan selanjutnya, ambil waktu kalian) “Arigato-gozaimasu” (Terima kasih banyak)
Sudah 4 tahun, tidak banyak yang berubah “Kau tak menjawab pertanyaan ambo, baa kau sampai Tokyo?” “Aku mengikuti alur, bagaimana kamu sendiri bisa sampai sini? Dan kabar gempa?” Praja menghela nafas memulai cerita “Long story short, ambo tak melanjutkan kuliah setelah masuk semester genap karano amak sakik, ambo harus cari pitiah untuk pengobatan amak. Jadi ambo langsung menghubungi Ryu untuk bekerja dengan inyo” banyak pertanyaan yang aku tahan “Keadaan berubah, all gone. Ambo di Tokyo waktu gempa melenyapkan ...” kantor asisten redaktur Souta menjadi ruangan yang menyayat hati, aku tidak pernah melihat Praja menangis sampai pertemuan kami hari ini.
Praja menyeka air matanya, aku menepuk-nepuk bahunya “Semua yang diciptakan Tuhan akan kembali kepada-Nya, mereka bangga memilikimu, tidak ada orang yang lebih kuat darimu” “I know everything will be fine, but sorry” “Sorry for what?” “Ambo tak pernah hubungi kau, masalah iko terlalu kompleks, jadi ambo tak ingin kau terlibat” astaga selama ini aku telah berasumsi lain.“Aku merindukanmu, aku pikir kamu marah” “Ambo tahu nan kau maksud” “Kata Mamat rumahmu sudah terjual jadi aku tidak punya akses untuk menghubungimu” “Ambo memang sempat mengatakan hal itu, sabananyo rumah Ampera belum terjual, mantan suami Mandeh ikut campur dalam pembagian hasil, ambo akan urus itu nanti” aku tidak ingin berkomentar dengan urusan pribadinya. “Kita tidak akan terus bercerita di ruang asisten redaktur, kamu tidak keberatan memanggil senior Souta menyelesaikan briefing pertamaku?” “Tunggu sabanta yo” kemudian senior Souta menyelesaikan arahannya, menjelaskan bagaimana aku harus bekerja dengan tim, khususnya dengan koordinator liputan.
Aku dan Praja berjalan pulang menyusuri jalanan kota Bunkyo “Aku ingat waktu itu kamu ingin melengkapi 4 musim di Nagoya, kita telah merasakan musim semi sekarang” aku tersenyum melihat wajah manisnya, kami terus berjalan menikmati pohon Sakura yang bunganya bermekaran dan menyala disinari lampu jalan “Time is running so fast” “Tapi perasaanku masih sama” aku membuka hatinya kembali, Praja menggandeng tanganku “Kau masih pakai cincin dari ambo” “Ya” dan aku sudah mengganti cincinnya ke jari manis.
“Ryu, Oba dan Oji lah banyak membantu ambo” “Aku ingin bertemu dengan mereka, apa Ryu juga kerja di Kodansha?” “Ryu karajo di stasiun televisi dan ambo karajo untuk inyo 2 tahun sebelum apply di Kodansha, kau tahu Ryu lah babini?” aku menghentikan langkahku “Menikah? Apa dia tahu kabar Uti” “Ambo memberi tahu” “Waktu tidak bisa diputar kembali, menjadi tidak beruntung bukanlah pilihan”
Kami duduk di taman “Boneka itu, entahlah kamu percaya atau tidak, seperti ada sesuatu yang magis didalamnya, tiga temanku meninggal setelah Uti tapi aku harap bukan karena boneka itu” “Setiap urang bisa meninggal kapanpun dengan caranyo masing–masing” aku tahu, karena semua keluarga Praja meninggal dengan cara yang tidak bisa diprediksi “Maaf aku tidak bermaksud seperti itu” “Kau punyo rancana? Ambo nak bantu” “I want to complete the puzzle. Kamu ingat tentang mimpiku di Aokigahara, aku tidak berhenti memimpikan tempat itu” “Kau pikir itu berkaitan? Kalau begitu kito harus ke Aokigahara” aku senang dia mau menemaniku.
“Kau stay dimano?” “Apartemen Minato, aku akan naik bus dari sini” “Ambo stay indak jauh dari sikok, jadi ambo akan berjalan kaki” “Okay, take care” “Kau pula” kami ingin mengakhiri pertemuan dan beristirahat diapartemen masing–masing, tapi langkahku berat. Praja mengusap rambutku “That’s okay, we will meet tomorrow” aku beranjak pergi menaiki bus kota kearah Minato.
MEMPELAJARI TUMPULAN NASKAH
Bagaimana tata bahasa yang dipilih dan apa saja yang biasanya menjadi fokus berita pers. Aku membuka beberapa majalah dan membaca tulisan yang fenomenal seperti yang dikatakan Denis, itu kenapa dia merekomendasikanku. Semua artikel dipenuhi dengan huruf kanji, kepalaku sampai pusing membacanya. Aku tidak terbiasa menulis kanji sebanyak ini, bahkan aku tidak hafal semua huruf itu, berharap Praja banyak membantuku. Karena lama meninggalkan kemampuanku menulis kanji, malam ini menjadi pembelajaran singkatku.
Kembali ke kantor menemui senior Souta, menanyakan tumpukan majalah yang telah aku pelajari, bagaimana aku memulainya? Katanya aku harus mulai tanpa bertanya, karena pertanyaanku akan terjawab dilapangan. Jadi aku menunggu Praja, dia datang membawa tema apa yang bisa kami kerjakan diminggu ini, katanya masih seputar kelompok Yakuza untuk mengumpulkan bahan berita peliputan, dia menceritakan permasalahan sebelum memulai terjun kelapangan. Dari mulai isu pembubaran geng, retaknya anggota kelompok, berbagai skandal hubungan yang meresahkan, pengkhianatan antar kelompok sampai kebangkrutan ekonomi Jepang atas keberadaan Yakuza.
“Kamu sudah banyak tahu tentang mereka, bukankah ini beresiko?” “Ambo biaso karajo dengan Ryu, ambo kenal banyak mantan kelompok Yakuza nan ado di Nagoya” “Apa kita akan pergi ke Nagoya?” “Kito nak pergi dimano informasi dibutuhkan” Kami bersama satu reporter senior lain yang bernama Benjiro menaiki mobil kantor menuju daerah Shibuya untuk menemui salah satu mantan kelompok Yakuza yang sekarang sudah tidak aktif lagi, tapi nara sumber tidak mau disebut namanya.
Benjiro bertanya “Yakuzagurupu ni au no wa hajimetedesu ka? Ochitsuite kudasai, karera wa anata ga omette iru hodo jaakude wa arimasen. Karera ga okoru no wa, watashitachi ga mondai o okoshita toki dakedesu. Karera no Tomodachi no yo bi natte kudasai” (Ini pertama kamu bertemu dengan kelompok Yakuza? Tenanglah, mereka tidak sejahat yang kamu pikir, mereka hanya marah ketika kita membuat masalah, jadilah teman mereka) “Anata ga iu hodo kantande wanaideshou” (Mungkin tidak semudah perkataanmu) “Jissai karera wa repota ga joseidearu koto o konomu” (Sebenarnya mereka lebih senang jika reporternya perempuan) dia tertawa, aku menoleh Praja “Tak perlu khawatir”
Kami memasuki sebuah kedai minum di Shibuya, aku dibelakang Praja dan Benjiro mendengarkan percakapan mereka. Lelaki yang berusia hampir 60 tahun itu terlihat ramah, mereka bercanda akrab seperti sedang bertemu dengan teman lama. Beliau mengeluarkan botol sake dan meminumnya, menawari kami minuman arak Jepang yang dibawanya. Benjiro meminum beberapa teguk, aku menoleh kearah Praja, dia berkata seorang muslim tidak meminum arak, kami berdua hanya akan minum jus jeruk jika ada.
Lelaki tua itu beranjak mengambil jus kaleng dari dalam kedai, sambil terbicara dengan wajah memerah “Kore wa tengoku no nomimonodesu, kyokai no hitobito wa wain shika nomimasen” (Ini adalah minuman surga, bukankah orang gereja juga meminum anggur) Praja mengeluarkan rokok dari sakunya “Watashi no kuni tabako wa hontoni oishinode zehi tameshite mite kudasai” (Anda tahu tembakau negara kami sangat enak, anda harus mencoba) aku teringat KH Agus Salim ketika memuji kualitas cerutunya, beliau mengambil rokok itu dan kembali bertanya “Josei wa dodesuka?” (Bagaimana dengan perempuannya?) Praja dan Benjiro tersenyum.
Aku menjawab “Nihon no josei no ho ga sugureta imasu, watashitachi no daitoryo wa nihon no josei to neru no ga daisukidesu, genchi no josei wa hoete iru inu no yona monodesu, anata wa kiniiranai-deshou” (Perempuan Jepang lebih menarik, presiden kami sangat suka dengan orang Jepang, perempuan lokal seperti anjing yang suka menggonggong, banyak bicara, kamu tidak akan menyukainya) dia terus tertawa terbahak–bahak. “Kono-ko ga sukidesu, kare no onamae wa?” (Aku suka anak ini, siapa namanya?) “Watashi wa Yosidesu, korega watashitachi de deatta hohodesu” (Aku Yosi, beginilah cara kami berkenalan) lelaki tua itupun menjabat tanganku.
“Anata-tachi wa futari tomo yoi Indonesia hitodesu. Yakuza ga jikoku o shokuminchika shita ima demo, watashitachi Yakuza no kaitai o nozonde imasu. Anata no nyusu ni tsuite dono yo ni otetsudai dekimasu ka?” (Kalian berdua orang Indonesia yang baik, bahkan sekarang Yakuza telah menjajah negaranya sendiri, kami ingin Yakuza dibubarkan, apa yang bisa aku bantu untuk berita kalian?) Benjiro memulai wawancara, aku mencatat poin dari perkataannya dan Praja merekam suara dengan alat recordnya. Selesai, lalu kami berpamitan dengan lelaki pemilik kedai minuman, kembali kekantor untuk menyusun naskah yang akan kami laporkan selanjutnya. Kata Praja sekali wawancara bisa menjadi beberapa berita yang diperlukan majalah. Kami bisa mengembangkan sendiri dari narasumber lain atau dari data yang ada. Benjiro senang karena aku cukup berani dan kooperatif.
Pulang kerja Praja mengajak makan ramen dekat apartemennya “Kadang ambo rindu masakan Padang, ambo nangis katiko makan” “Jadi apa rencanamu setelah ini, kamu akan stay Tokyo?” “Entahlah, ambo lah tak ado kerabat” dia mengalihkan pembicaraan “Kau mengambil jurnalistik dikampus?” “Benar, aku magang di Perusahaan media massa lokal yang bekerja untuk NHK, itu yang membuatku akhirnya disini” aku mengambil handphoneku “Tidak keberatan berfoto denganku? Aku ingin mengirim kabar ke Mamat” “Tentu” (Sending photos to Mathew)
“Aku sudah mengetik naskah untuk kembali direvisi, bisa check dulu?” Praja mengambilnya “Aku payah dalam menulis kanji” “Tak masalah, nan penting konten naskahnyo, lagi pula masih akan masuk editing sebelum di publish” dia tidak berubah, selalu menenangkanku “Oke, lalu apa yang kamu lakukan ketika libur kerja, kamu pasti sudah banyak teman disini?” “Indak banyak kawan, ambo lebih sering membaca, mengejar kapabilitas karano tak melanjutkan study” “Kamu tidak ingin melanjutkan study di Tokyo kan?” dia tidak menjawab dan mengalihkan pembahasan “Ambo temani kau ke Aokigahara setelah mengumpulkan babarapo liputan yo” “Oke”
Friday magazine, Masa keruntuhan kelompok Yakuza.
Bersama dengan diterbitkannya majalah ini sebagian besar dari kelompok Yakuza berusia lebih dari 50 tahun. Penyebabnya Jepang telah menghadapi masalah kekurangan populasi penduduk usia muda sedangkan anggota kelompok yang ada sekarang perlahan telah menua, proses regenerasi juga terhalang aturan pemerintah, tindakan keras aparat dan adanya Undang-undang anti-yakuza yang dikeluarkan pada tahun 1992 itu memberlakukan pembatasan pada bisnis yakuza seperti melarang anggotanya membuat rekening bank, kartu kredit, polis asuransi dan menandatangani kontrak untuk layanan seluler.
Mantan gangster Yakuza menceritakan bahwa sejumlah besar anggota muda tidak bisa bertahan lama, mereka pergi dalam waktu satu sampai dua tahun usai perekrutan. Awalnya mereka bermimpi menjadi anggota geng berpangkat tinggi yang populer, di gandrungi wanita, punya uang dan mengendarai mobil mewah, kenyataannya mereka banyak yang tidak betah hidup terikat dengan aturan geng. Pemuda sekarang lebih suka dengan kebebasan, gaya hidup yang serba instan, mereka cenderung tidak loyal dan suka membangkang.