CHAPTER 10
NAGOYA DIBULAN JULI
Kami naik kereta cepat di musim panas dengan suhu sekitar 29 derajat celcius, Praja menemaniku disela waktu luangnya bekerja dilapangan. Kakiku sudah mulai sembuh, tapi masih menggunakan alat bantu untuk berjalan. Kami segera menemui Oba dirumah Minka, dengan suasana yang sama persis seperti pertama kami berkunjung 5 tahun lalu. Oji ada urusan di Nagoya Chugakko, jadi hanya ada Oba yang terlihat sibuk mengerjakan pekerjaan rumah pagi hari.
Oba adalah perwujudan ibu yang ideal dalam keluarga, sesuai dengan apa yang diinginkan oleh masyarakat tradisional Jepang Ryosai kenbo, peran dan tanggung jawab perempuan yaitu mengurus dan mengatur kebutuhan rumah tangga. Sedangkan tanggung jawab laki-laki mendukung keuangan keluarga dengan bekerja di luar rumah, konsep bagi tugas sama dengan di Indonesia, ibu yang berpengetahuan dan bijaksana juga lebih dianggap penting dalam masyarakat tradisional Jepang.
Oba terkejut sambil menyeka matanya, karena kami datang tidak mengabari terlebih dulu “Aa watashi wa tadashiku mimashita ka? Kore wa Yosidesu yo ne” (Astaga, apa aku tidak salah lihat? Ini Yosi kan) aku tersenyum dan memeluknya “Naze Puraja wa saisho ni koko ni kitai to iwanakatta nodesu ka? Ie ni hairimashou” (Kenapa Praja tidak bilang dulu mau kesini? Ayo masuk rumah) “Koko ni kuru koto ga dekinaku naru no ga kowai” (Aku khawatir tidak bisa kesini) “Ashi wa do natta no?” (Apa yang telah terjadi dengan kakimu?)“Yokushitsu kara ochita, Oba san shinpaishinaide” (Terjatuh dari kamar mandi, bibi tidak perlu khawatir)
“Anata-tachi futari wa fukona jinsei o hahaoya ni sute rareta iikodesu, shosite anata ga watashi o tazunete kurete ureshidesu, Ryu to chigattem kare wa mettani ie ni kaerimasen, tokuni kekkon shite kara” (Kalian berdua anak baik yang hidupnya malang sudah ditinggal sosok ibu, aku senang kalian mengunjungiku, tidak seperi Ryu dia jarang sekali pulang, apalagi setelah menikah) Kami juga senang memiliki seorang bibi yang telah menganggap kami sebagai anaknya.
Kami berbincang mengenai kabar masing–masing, Oba sambil memeriksa kakiku, katanya aku harus berobat ke Itako atau disebut dengan Kuchiyose, supaya selalu aman dan dilindungi dewa kemanapun aku berada. Aku minta pendapat ke Praja, karena aku berpikir ini akan berkaitan dengan seorang dukun wanita buta yang memanggil arwah untuk menyembuhkan pasiennya, dia mengatakan jika setidaknya aku mencoba terlebih dahulu, apalagi Oba menjamin keamanan dari pengobaan ini, kamipun menunggu Oji pulang dari kerjanya untuk mengantar kami.
Oji datang menenteng tas kerjanya memasuki rumah minka, beliau terkejut ketika melihatku “Watashi no musume wa kaette kimasu ka?” (Apa anak perempuanku pulang?) aku tertawa menyambutnya “Hai, kaerimasu” (Iya aku pulang) Oba memberi tahu keadaan kakiku dan menyuruh suaminya mengantar ke seorang Itako kenalannya, agar aku segera pulih dan bisa beraktivitas dengan normal. Berangkatlah kami berempat bersama.
Aku dan Oba memasuki ruangan seorang Itako, sedangkan Oji dan Praja menunggu didepan rumah. Benar saja, kami menemui seorang nenek buta sedang memegang benda mirip tasbih ditangan. Beliau mulai memegang kakiku yang sakit, memeriksanya. Mendadak tangannya terguncang sambil melantunkan pujian kitab–kitab Budha, Oba menenangkanku, menjelaskan jika itu caranya mediumisasi roh. Nenek itu berbicara diluar kesadarannya, mengucapkan terima kasih atas pemanggilan roh suci lalu mendoakan keberuntungan hidupku.
Beliau mengusap–ngusap kepalaku, kali ini dengan perkataan yang kurang jelas “Mori de hajimete anata ni atta toki, karera wa anata no koto o uso tsuite ita yo ni, anata ni aete ureshidesu. Anata wa otonana nodakara, yarou to shite iru koto o shite, gakko ni wa nidoto ikanaide kudasai” (Ibu senang berjumpa denganmu seperti pertama kali kita bertemu dihutan itu, mereka berdusta tentangmu. Kamu sudah dewasa lakukan apa yang akan kamu lakukan dan jangan pernah kembali ke sekolah)
Aku tidak menanggapi perkataan nenek tua itu, kemudian beliau tersadar, Oba memulai pembicaraan “Uchinoko wa daijobudesi yo ne?” (Anakku baik–baik saja kan?) “Kare wa anata no musukode wa arimasen, kare no hahaoya ga kare o tazunete kita nodesu” (Dia bukan anakmu, ibunya telah datang menemuinya) Beliau mengatakan bahwa roh ibuku sudah tenang digunung dan aku harus waspada dengan lingkungan sekitar sekolah yang ingin aku datangi. Sebenarnya aku tidak ingin pergi ke sekolah manapun kecuali ingin bertemu dengan teman lamaku, Akemi dan Natsuka.
Nenek Itako juga berpesan jika akan ada kejadian besar di daerah pesisir utara, kami semua harus berhati–hati. Padahal aku akan ke Naruko bersama Ola untuk membakar boneka Kokeshi di festival bulan September nanti jadi aku tidak telalu mengambil kendali atas semua perkataannya. Oba membantuku berjalan keluar dari rumah Itako sambil bercerita jika Oji pernah jatuh dari tangga dan tangannya patah tertindih badannya, setelah berobat ke nenek itu tangannya pulih dengan cepat.
Kami mencari kedai makanan dengan menu nasi gohan dan sup miso dalam suasana malam di Nagoya “Sujitsu wa jitaku de sugosu koto mo dekimasu” (Kalian bisa bermalam beberapa hari dirumah) Oji menawari kami, Praja menolak “Ashita wa shigotonanode kon ya wa hanabi taikai ni ikimasu. Betsu no kikai ni mata otozremasu” (Ambo masih akan bekerja besok dan kami akan pergi ke festival hanabi malam ini. Kami akan berkunjung lagi dilain waktu) sepertinya beliau kesepian dirumah. Selesai makan, kami berdua langsung kembali ke Tokyo.
Aku dan Praja duduk di taman sungai Sumida, menunggu kembang api muncul dalam festival Hanabi. Tidak hanya kami, ribuan orang menantikan kembang api di beberapa distrik Tokyo, acara ini awalnya digunakan untuk mengusir roh jahat tapi sekarang menjadi acara tahunan yang merupakan bagian integral dari musim panas bulan Juli di Jepang. Ukuran kembang api bervariasi, mulai dari yang berukuran kecil sampai berukuran besar Yonshakudama.
Ada yang berbentuk bintang, ada yang menyerupai air terjun niagara, ada yang meledak membentuk hati dan wajah tersenyum. Kembang api telah bermunculan, Praja berpindah tempat dengan memelukku dari belakang, wajahnya bersinar warna-warni ketika kembang api melesat ke udara malam itu. Kami menikmati runtutan kembang api yang mendamaikan hati dalam pantulan sungai Sumida.
MEMBUKA EMAIL KIZUNA
Akhirnya aku bisa bekerja didalam kamar tanpa harus bepergian. Ola senang dengan kabar itu, kami akan merayakannya dengan mengadakan beef grill barbeque di balkon apartemen. Dia menyiapkan bumbu dan mengeluarkan tumpukan slice daging sapi, sedangkan aku mencari sayur dari lemari es yang tinggal salada dan mengambil semua yang tersisa. Tidak lama Praja menghampiri kami dan mulai makan malam dibalkon apartemen.
“Aku baru kali ini pergi ke dukun, meskipun nenekku percaya sesuatu yang menyangkut roh. Bagaimana dengan kakak?” “Entahlah, kadang masuk akal, kadang juga tidak” Praja bertanya tentang rencanaku “Kau akan tetap mengunjungi Akemi dan Natsuka untuk menanyakan hantu itu?” “Nenek Itako tidak menyarankanku berhubungan dengan sekolah. Jadi festival di Naruko bersama kak Ola tujuan terakhirku” “So the puzzle is complete?” “Almost but …” aku tidak ingin mengacaukan suasana malam dengan cerita tentang ibuku, jadi aku kembali memanggang daging yang ada dihadapanku.
“Awalnya aku pikir kalian berdua hanya teman kerja” aku menoleh Ola dengan mulut penuh daging, dia meneruskan perkataannya “Teman tidak akan bertemu secara intens dan saling memberi perhatian setiap waktu” aku menceritakan pertemuan kami dari awal sampai kembali bertemu di Tokyo, dia heran dengan takdir yang mempertemukan kami kembali “Pasangan seperti kalian harusnya tinggal bersama” daging yang aku kunyah hampir melompat keluar dari mulut, Praja diam mendengarkan komentarnya “Orang Jepang biasa tinggal bersama dengan kekasihnya, ini akan menghemat pengeluaran, apalagi kehidupan di Tokyo sangat mahal. Kalian juga bisa semakin tahu kharakter masing–masing sebelum menikah” Praja mengambil air minum untuk membantunya menelan daging.
“Jadi kak Ola mengusirku dari kamar?” dia tertawa “Bukan begitu Yosi. Memang kalian belum pernah tidur bersama?” aku dan Praja saling pandang “Sepertinya kak Ola sudah terbiasa dengan kehidupan orang Jepang yang suka kohabitasi” “Tapi hal ini tidak merugikan siapapun kan? Lagi pula kalian sudah dewasa” Ola menyenggol pundak Praja “Berhubungan badan bisa membuat pikiran kalian relaks, kalian membutuhkannya” Praja tersenyum.
Beberapa hari berlalu, aku terus memikirkan perkataan Ola tentang hidup bersama, aku menghampiri Praja sepulang kerja “Hei baby, aku tidak akan tinggal dengan kak Ola selamanya, apakah mungkin kita bisa tinggal bersama?” “Kau ingin seks macam kato kak Ola. Kito lah berjanji tak melakukan hal diluar kontrol” “Kita bisa tinggal bersama tanpa seks kan” aku meyakinkan Praja.
“Aku pikir masuk akal yang dikatakan kak Ola dengan menabung sebelum menikah” “Sleeping together without sex? Kidding me” “Aku pernah tidur dirumah Ampera dan tidak terjadi apapun diantara kita, setidaknya semakin cepat kita mengumpulkan uang, semakin cepat kita menikah. Seharusnya kita bisa menahan nafsu sebentar saja, kecuali jika kamu memang tidak ingin menikah denganku” aku berkomentar dengan nada datar karena tidak yakin Praja setuju “Beri waktu ambo bapikir”
Aku mengamati kamar Praja, disudut ruang ada tumpukan majalah Kodansha beberapa edisi “Jadi kamu menikmati sampul majalah itu? Kamu bisa membacanya di kantor kan” dia menghela nafas karena aku sudah banyak berulah. “Oh ya minggu lalu ambo jumpa miss Tendo dengan kawannyo, inyo bacarita tentang sorang mualaf bernamo Taki Takazawa mantan tukang tato kelompok Yakuza nan telah pergi haji, kini menjadi Imam masjid besar di Tokyo” “Lalu?” “Bukankah itu berita baik untuk dipublish?” “Tapi itu berbeda konsep dengan redaksi Kodansha, apalagi ada unsur keagamaan, redaksi tidak akan tertarik” “Kau bisa mengambil berita Takazawa untuk Kizuna, karano ado kaitan seni budaya didalamnyo” “Benar juga” Seni dan budaya adalah salah satu upaya pemersatu hubungan antar bangsa.
Hari berikutnya aku mengetok kamar Praja, dia membuka pintu dan langsung tertawa melihatku membawa kasur lipat didepan kamarnya “Aku juga membawa extra blanket karena musim dingin akan datang” “Siapo izinkan kau tinggal ditempat ambo?” aku segera masuk kekamarnya, merapikan kasur dengan susah payah karena kakiku masih sedikit ngilu, Praja tidak berhenti tertawa.