AKULTURA

Intan widya sari
Chapter #11

OSHOGATSU, PERAYAAN TAHUN BARU

CHAPTER 11

OSHOGATSU, PERAYAAN TAHUN BARU

Aku memasang dekorasi yang diberikan Ola untuk syarat memasuki acara tahun baru malam ini. Yang pertama, Oshogatsu kazari hiasan yang terbuat dari tali jerami, ranting pinus dan bambu yang aku gantung di pintu depan kamar dengan tujuan untuk mengusir roh jahat. Dekorasi yang kedua Kagami mochi, terbuat dari dua buah kue beras Jepang bulat atau Mochi yang ditumpuk dan sebuah jeruk juga ditaruh pada bagian paling atas sebagai ornament. Kemudian aku dan Praja berkumpul di apartemen kamar Ola, merayakannya dengan makan hidangan khusus akhir tahun yaitu mie soba atau Toshikoshi, ada keyakinan kalau memakan mie yang panjang akan mendapatkan umur yang panjang, kesehatan dan kekuatan.

Malam ini Zaka ikut bergabung, dia datang terakhir mengucapkan selamat tahun baru di tahun 2011 sambil meniup terompet persis ditelinga kak Ola “Akemashite omedetou gozaimasu!” kakaknya reflek menarik terompet itu sambil mengomel “Minta di tempeleng anak ini” mereka saling pukul dan berkejaran didalam kamar yang sempit. Kami sengaja tidak merayakan tahun baru diluar karena sedang turun salju, hanya menonton siaran televisi acara pergantian tahun dikamar ditemani kripik kentang dan olahan rumput laut kering.

Ini pertama kalinya Praja bertemu dengan Zaka dan membicarakan banyak hal, jika berbicara serius mereka berdua terlihat lebih dewasa dibanding usianya. “Baby” “Ya?” “ Zaka akan pulang ke Surabaya bulan Februari, kau bisa pulang terlebih dahulu basamanyo, tak perlu menunggu akhir tahun, ambo tenang kalau kau ado kawan, ambo menyusul setelah menyelesaikan pekerjaan disikok” aku mengangguk, karena Denis juga sudah kembali ke Indonesia, dia sibuk bekerja sampai beberapa bulan kedepan, jadi aku tidak tahu kapan pastinya dia akan datang dan kembali.

Dua jam telah kami lewati detik–detik pergantian tahun bersama, aku dan Praja kembali ke kamar, kembang api masih terlihat meletup-letup dilangit Bunkyo dari balik jendela yang lampunya kami matikan. Perpaduan musim dingin dan kemeriahan acara musik diluar apartemen membuat mata kami terus terjaga. “Malam paling romantis yang pernah kita lewati” Praja berdiri dibelakang, membalikkan badanku. Perlahan dia melumat bibirku tanpa sepatah kata terucap darinya. Aku memejamkan mata, menikmati sentuhan bibir yang lembut dan basah, aliran darahku mengalir seperti ular berdesir digurun pasir, semakin menambah hasrat.

Kedua tangannya memasuki pakaianku, dengan tidak sabar Praja menarik tubuhku dan membaringkannya, mencium bagian leher hingga ke bagian perut dengan menyingkap pakaian yang aku pakai. “What about petting?” suara nafas yang kacau itu aku tidak bisa menolaknya, kami telah terbawa suasana. Praja melepas pakaianku, lidahnya menyapu sebagian area sensitif, aku mengerang, dia melepas pakaiannya. Sedikit menekan dan menggesekan sesuatu yang membuatnya basah. Kami telah menikmati sensasi disetiap gerakan yang tidak bisa dijelaskan.

Akivitas pagi sebelum mulai bekerja, aku mengusap rambut Praja yang basah dengan handuk kering, hal ini tidak akan baik untuknya bekerja dilapangan pada musim dingin. “Aku khawatir jika kita tidak segera menikah, kamu akan memasukkan penismu” “Ambo mengerti, kadang memang sulit dikontrol” “Kalau begitu aku akan mencari kamar sendiri “Harusnyo ambo bisa” “Meskipun kamu bisa, aku belum tentu bisa. Kejadian tadi malam tidak akan terulang lagi” Praja tersenyum sambil mencubit hidungku “Ambo lah lamo menahan, kau tahu itu” “Aku minta maaf seharusnya aku tidak pindah ke kamarmu. Baik jadi aku akan sewa kamar dua bulan sebelum pulang, semoga ini tidak akan mengurangi banyak tabungan” ”Jikok macam tu bicaralah dengan redaksi Kizuna” “Iya aku akan segera menyelesaikan datelineku dan mengurusnya bulan ini”

Aku mendatangi Ola dikamarnya “Kak aku akan mencari kamar kosong yang ekonomis” “Kamu bertengkar dengan Praja” “Tidak, hanya saja” dia menerka kejadian “Kalian melakukannya” “Sebenarnya hampir” “Tinggal dua bulan, lebih baik di lanjut saja” dia tertawa melihat mukaku memerah “Jadi kakak tidak mau kasih info kamar” aku beranjak pergi, Ola memanggilku “Pakai saja kamarku” “Maksudnya berdua dengan kak Ola?” “Aku bisa tidur ditempat Zaka atau temanku yang lain” “Mana bisa seperti itu, aku akan merepotkan kalian semua” seketika aku berprasangka lain, dia tidak benar-benar tidur ditempat Zaka tapi ditempat kekasihnya yang baru “Baiklah, aku akan bayar separuh jika kakak mau?” kami bersepakat dengan transaksi singkat itu.

“Aku tidak pernah melihat teman kak Ola yang psichic itu, kemana dia?” “Sibuk dengan kerjaannya” “Kerja apa?” “Membaca kartu tarot” aku tersenyum, karena belum pernah mengenal orang yang berprofesi seperti itu “Siapa namanya?” “Dia ingin merahasiakan namanya” “Jadi kakak juga tidak tahu?” “Orang-orang memanggilnya Majo-chan si bocah sihir kami bertemu pertama kali di acara festival ketika dia sedang membaca garis nasibku, aku tidak akan menceritakan hasilnya padamu” dia tertawa “Tenang saja”

Aku segera memboyong barangku ke kamar Ola yang tidak jauh dari kamar Praja. Aku merebahkan badanku, mengingat kejadian kemarin malam yang terus ada dalam pikiran, ini pertama kalinya aku dan Praja melakukan hal yang memalukan. Ada rasa penyesalan dalam diriku, aku berdoa semoga Tuhan memaafkan tingkah kami dan menyatukan kami dalam ikatan cinta seutuhnya. Aku mematikan lampu dan tidur. “Yosi” aku menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan panggilan itu. Gery dan Ovan datang membawa sekotak box kayu berisikan tumpukan foto “Kami berdua akan mengadakan pameran foto, jadi bantu kami memilih foto mana saja yang akan ditampilkan sesuai tema” aku terus mengamati foto–foto itu “Semua foto orang mati” “Karena temanya angka kematian” aku tertawa melihat keanehan itu, Gery menegurku “Kamu pikir ini lucu?” “Maaf aku tidak bermaksud menertawakan orang mati”

Aku terus mengaduk dan memilah mana yang cocok dengan tema, semua orang yang aku kenal ada di dalam satu kotak kayu “Kenapa ada fotoku disini?” “Nanti kamu juga mati” “Kamu bisa pamerkan semua foto ini karena semuanya sesuai tema yang kamu mau” Gery komplain “Tapi aku ingin memajang foto dengan kematian terbaik” “Aku tidak mengerti” Ovan memberikan contoh memilih foto “Kalau fotonya senyum, wajahnya bersinar terang itu tandanya foto terbaik, ah percuma minta bantu kamu” “Lalu apa yang akan kalian lakukan dengan foto yang tidak baik” “Kami akan membakarnya, dikremasi lalu melarung mereka kelaut” aku diam, penglihatanku mulai samar, cahaya hitam menyelimuti tubuhku.

Cahaya hitam menyamarkan segala sesuatu, yang ada itu sesungguhnya tidak ada dan yang sesungguhnya ada, ternyata tidak ada. Maya atau Ismaya adalah cahaya hitam yang tersamar dan tidak jelas. Aku sebuah misteri, rahasia Sang Pencipta. Rahasia tersebut akan disembunyikan kepada orang-orang yang egois, tamak, iri dengki dan tinggi hati, namun dibuka bagi orang-orang yang sabar, tulus, luhur budi dan rendah hati. Orang yang di anugerahi Sang rahasia Semar, hidupnya akan berhasil ke puncak kebahagiaan dan kemuliaan abadi. 

Aku bangun dari tidurku ditengah malam, nafasku berat seperti ada yang menekan dadaku, aku segera mencari air minum untuk menenangkan kegelisahan. Ada ketakutan dimana aku akan mati dalam keadaan tidak baik dan hina, meninggalkan banyak keburukkan didunia yang penuh tipu daya. Kemudian aku kembali berdoa meminta ampunan kepada Tuhan sang sumber.

SUARA KETOKAN DARI PINTU

Aku mendapati Zaka berdiri didepan. “Halo apa kabar?” “Baik” dia langsung masuk kekamar “Zaka sebenarnya aku sedang menyewa kamar kak Ola dua bulan kedepan, dia tidak menceritakannya padamu?” “Maaf aku tidak tahu” “Tidak masalah, kamu bisa stay dulu, aku tidak akan mengusirmu” “Jadi dimana kak Ola?” “Aku tidak tahu, aku pikir ditempat teman dekatnya, mungkin kamu kenal?” “Aku tidak kenal satupun temannya”

“Ingin minum apa?” “Teh saja” aku beranjak membuatkannya teh “Kamu coba hubungi kak Ola?” “Ya nanti, aku hanya ingin mampir saja tadi” kami diam beberapa saat sampai dia kembali bertanya “Aku dengar dari Praja, kalian akan segera menikah?” “Aku berharap begitu. Kami telah bersepakat dan menunggu momen, Praja telah banyak melalui kehidupan yang berat, sebenarnya aku tidak ingin terlalu memaksakan kondisinya sekarang” “Semoga rencana kalian lancar” “Amin, terima kasih“

“Apa saja yang kalian bicarakan malam tahun baru?” “Men’s business” Zaka mencurigakan “Kamu sudah menyiapkan semua?” “Ya aku sudah siap” dia bersender membawa cangkir tehnya “Tanggal 21 nanti kita bertemu langsung di Haneda airport jam 10 pagi. Tapi kenapa kamu ingin segera pulang? Bukankah kamu baru saja sampai Tokyo?” “Aku ingin lebih lama disini, karena belum mendapat pengalaman yang aku butuhkan dan perjalanan satu tahun tidaklah cukup tapi dengan adanya Praja, kembali pulang pilihan terbaik saat ini” “Kamu bisa bekerja bersama Praja di Tokyo kan?” “Kami butuh persiapan pernikahan, mengkondisikan hal–hal yang tidak bisa kami lakukan di Tokyo”

Lihat selengkapnya