AKULTURA

Intan widya sari
Chapter #12

11 MARET 2011

 

 

CHAPTER 12

11 MARET 2011

Banyak berita bermunculan yang membuatku sedih, terjadi bencana gempa bumi berkekuatan 9,0 lepas pantai di Samudra Pasifik dengan pusat gempa di wilayah Tohoku. Aku terus mencari info keadaan di Tokyo dengan menghubungi Praja, tapi sambungan terputus, dalam berita terakhir aku mendengar jika jalan di wilayah Tokyo ada yang terbelah, mengeluarkan air yang mebuat panik warganya. Dampak gempa itu mengakibatkan gelombang tsunami setinggi 40 meter atau 130 kaki diwilayah Tohoku yang akhirnya menewaskan sekitar 20.000 orang, sebanyak 45.700 bangunan hancur dan 144.300 rusak parah.

Beberapa hari tidak ada kabar dari Praja jadi aku menelphone Zaka untuk mencari tahu kondisi Tokyo saat ini, dia mengatakan jika Tokyo aman dari tsunami, hanya bangunannya yang rusak parah tapi daerah pesisir Tohoku habis disapu tsunami. Dia mendapat kabar itu dari teman kampusnya dan dari Denis karena Ola tidak bisa dihubungi. Katanya tsunami membanjiri pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima Daichi dan menghancurkan tiga reaktornya. Hal ini membuatku semakin cemas, tapi dia meyakinkan bahwa Praja dan kakaknya akan baik–baik saja. Aku memberi taunya jika dampak energi nuklir sering menjadi masalah besar. Mungkin mereka akan selamat dari gempa dan tsunami tapi bagaimana dengan radioaktifnya? Kecelakaan itu menempatkan masalah keselamatan sebagai prioritas utama dalam sentimen masyarakat mengenai energi nuklir, jadi kami hanya bisa berdoa.

Dilain kesempatan Zaka menawarkan pekerjaan memegang administrasi usaha desain grafisnya, aku mengambilnya karena butuh tambahan uang. Aku meminta izin orang rumah untuk bekerja di Surabaya, lokasi yang tidak terlalu jauh dari kampung supaya simbah dan bapak tidak khawatir. Aku berangkat menaiki KRD, turun di stasiun Wonokromo dan Zaka siap menjemputku. Kami berbincang didalam mobil “Yos belum ada kabar dari Praja?” “Belum, aku akan terbiasa tanpanya” perasaan kehilangan tidak bisa aku sembunyikan “Tenanglah dia akan baik–baik saja, kak Ola sudah memberi kabar kemarin” “Oh ya syukurlah”

“Akhirnya aku membuka usaha bersama temanku, bukankah ini bagus?” “Ya, aku akan membantu sebisaku” “Tapi aku hanya bisa mengupahmu minimal area dan mungkin tergantung pencapaian kita nanti, jika kamu mendapatkan pekerjaan yang lebih baik kamu bisa pindah dari sini” “Aku tahu, untuk newbi ini sudah lebih dari cukup.”

Kami memasuki ruko dua lantai, menemui temannya yang bernama Kiko “Jadi kita hanya bertiga?” “Kamu bisa ajak temanmu yang bisa desain visual dan fotographer, aku masih mencari satu partner lagi” “Kenapa kamu tidak mulai yang ada dulu?” “Sebenarnya Kiko sudah memulai dari tahun kemarin, kerjaan dia overload jadi aku bantu sekalian managing creative studio ini” Kiko tidak banyak berbicara, dia fokus pada laptopnya. Sedangkan kami masih mengobrol di kursi melingkar, kembali membahas berita terkini “Kamu benar, terlalu banyak radioaktif yang dilepaskan ke lingkungan, lebih dari 300 ribu warga Fukushima dievakuasi dari sekitar pembangkit listrik”

Operasi pembersihan akan memakan waktu puluhan tahun dan menelan biaya ratusan miliar dolar. Kecelakaan itu telah mengakibatkan evakuasi permanen yang bisa membuat ribuan kasus kanker. “Aku pernah mengulas dampak seperti itu dengan Praja, menyedihkan sekali ketika benar–benar terjadi” “Kamu belum tahu berita tentang Yakuza kan?” Bantuan pertama bencana tsunami Tohoku berasal dari kelompok geng itu dan bukan dari pemerintah Jepang. Yakuza mengirim puluhan truk untuk memberikan makanan, pakaian, obat–obatan, selimut dan keperluan lainnya. Setelah bantuan Tohoku, mereka mengirim bantuan ke reaktor nuklir Fukushima untuk meringankan situasi akibat kehancuran yang disebabkan tsunami.

“Menurutmu, apa itu cara mereka kembali menaikan pamornya?” “Kalau dulu kelompok Yakuza memang menganut prinsip Kode Ninkyo, melarang anggotanya membiarkan orang lain menderita, tapi untuk sekarang aku tidak percaya” pada kenyataanya ini bertolak belakang dengan berita yang beredar beberapa dekade terakhir, dimana pemerintah dan warga Jepang sudah geram dengan tingkahnya.

”Oh ya dimana aku bisa cari rumah kos terdekat?” “Manfaatkan saja kamar lantai dua, ada ACnya juga. Tapi kamu harus merapikan tumpukan banner dan kertas yang tidak terpakai” “Kalian tidak memfungsikannya?“ “Pakai saja dulu, aku dan Kiko masih pulang–pergi, barang distudio juga tidak banyak. Nanti aku kasih kuncinya”

Pukul 17.00 bersiap pulang, Zaka memberikan kunci Ruko bersama kunci kamar yang aku tempati. Dia berpesan jika setiap jam 9 pagi studio harus sudah dibuka. Aku tidak khawatir dengan keamanan karena ada satpam di pos kompleks, beberapa tukang makanan juga banyak yang lewat dan minimarket berjejer disamping ruko, ini membuatku mudah mengakses banyak hal. Setelah membersihkan kamar, aku masih terus menghubungi Praja untuk yang kesekian kali, tidak terlihat tanda dia menginginkanku. Aku mencari kontak Ola, aku ragu dan mengurungkan niat itu, sepertinya dia sengaja memblokirku.

Aku kembali mengambil handphone, mencari kontak Gery “Halo Yosi, apa kabar?” “Baik, aku sekarang di Surabaya, kamu dimana?” “Oh ya? Aku masih di Malang, kerja dipercetakan” “Kamu bisa desain grafis? Temanku cari partner buat mengerjakan desain dan photografi, barangkali kamu mau join?” “Kenapa kamu tidak kasih tahu Ovan” “Kamu bisa desain kan” “Ovan juga bisa” “Dimana dia sekarang?” “Kalian tidak saling tukar kabar? Padahal dia sering ke Surabaya” “Oh ya” sebenarnya aku tidak pernah menghubungi Ovan selama dengan Praja.

Setelah itu, aku memencet tombol memanggil kontak Ovan dengan ragu, terdengar suara Halo beberapa kali, “Maaf aku tidak dengar tadi, apa kabar?” “Baik, tumben kamu telephone. Ada apa?” “Kata Gery kamu sering ke Surabaya? Aku sedang di Wonokromo” “Aku sering kesana jadi sopir” “Sopir apa?” “Guide wisata. Mau aku jemput?” “Sama Gery?” “Jadi kamu mau kita berdua saja?” aku tertawa “Weekend besok ya?” “Oke” kamipun mematikan sambungan telephone.

HARI PERTAMA DI CHAMELEON

Nama yang tepat karena bunglon suka berganti–ganti warna, begitu juga dengan desain, designer bisa berkali–kali mengganti warna object gambar yang dirasa tidak cocok dengan perasaan hatinya. Aku membereskan ruangan, membuka pintu kaca studio, Kiko datang pertama, menyapaku dengan senyum dan langsung membuka laptop Apple-nya. Kemudian Zaka, membagi pekerjaan untuk aku kerjakan, mulai administrasi marketing, mengelola media sosial dan email, membalas chat dan menghandle klien. Selain dari social media, Kiko sendiri sudah punya pelanggan tetap yang mendatangi creative studio.

Mereka berdua mempunyai tugas yang hampir sama yaitu mengerjakan desain periklanan, desain produk media cetak online dan offline, ilustrator, fotografer dan kebutuhan desain lainnya. Tugas yang membedakan mereka adalah pengelolaan fasilitas studio dari Zaka, termasuk ruko yang disewa. Sedangkan Kiko pernah bekerja di perusahaan dengan bidang yang sama selama dua tahun dan mengerjakan proyek sendiri satu tahun, jadi dia sudah berpengalaman dalam hal teknis.

Zaka memulai diskusi “Kapan diadakan promo dan seperti apa konsepnya?“ aku diam menunggu Kiko menjawab “Bisa sebar Flyer di tempat wisata, festival musik dan café bro. Kita bisa melakukan bulan depan ketika Yosi sudah beradaptasi dengan lingkungan” aku menurut saja seperti bunglon. Zaka menolehku “Menurutmu promo seperti apa yang bagus?” “Mungkin konsisten posting di Sosial media dengan menawarkan diskon khusus” “Bagaimana kalau menjadi sponsor?” “Sponsor event bro?” “Berlebihan ya, mungkin mulai dengan membuat banner gratis, kita bisa cantumkan signature Chameleon” “Seperti diwarung dan kios” tambah Kiko.

“Memberikan diskon desain yang masuk dari klien dengan mencantumkan kontak Chameleon bagian dari sponsor bukan?” aku berpendapat “Itu lebih hemat, mungkin kamu bisa mempostingnya di Sosial media dengan mendiskon 15% setiap desain yang masuk” kata Zaka, Kiko menutup komentarnya “Baiklah kalau begitu, aku akan kembali membuat mock-up” dia menarik laptop kehadapannya. “Kamu sudah dapat partner kerja?” “Teman Kiko katanya ada yang mau join” Kiko menyela “Bro temanku tidak jadi, bebas kamu pilih sendiri yang menurutmu qualified” “Temanmu Yos?” “Belum ada”  

Setelah berjam–jam bergaul dengan laptop, kami menyempatkan makan dengan menunggu abang mie ayam datang. “Apakah kita akan bekerja dan istirahat semaunya?” aku bertanya ke Zaka yang masuk studio dengan membawa semangkok mie ayam “Sementara jam normal ya Nine To Five tapi tetap kondisional, Kiko pernah mengerjakan desain sampai pagi karena dateline” Kiko menambahi “Kalian tidak bisa menakar waktuku mengerjakan desain, misal nanti kalian mau istirahat dulu tidak apa–apa, aku akan tetap mengerjakan tugasku dan beristirahat sebisaku” “Siap Bro” kami membebaskan keloyalitasan Kiko dengan jadwalnya sendiri.

DIDEPAN STUDIO

Ovan menjemputku bersama Jeep warna hitam, aku turun dari lantai dua, menyapanya. Dia mengkodeku segera masuk kedalam mobil “Hei Van, mau kemana?” “Cari makan dulu” “Kamu apa kabar? Aku dengar berita tsunami Tohoku sangat dahsyat, syukurlah kamu sudah kembali pulang” “Iya, tidak apa–apa juga kalau aku ikut tergulung ombak” dia tertawa “Kamu kenapa? Jangan bilang begitu” aku tidak ingin menceritakan apapun tentang pertemuanku dengan Praja dan alasanku pulang, karena hubungan kami masih rumit, bahkan sampai detik ini aku tidak mendengar kabar darinya.

“Oh ya aku dengar kabar letusan gunung merapi akhir tahun” “Bencana di Indonesia tidak akan berakhir” jawab Ovan. Di tanggal 5 November 2010 gunung merapi Yogyakarta mengalami erupsi dan menewaskan ratusan orang termasuk juru kunci mbah Maridjan atau Ki Surakso Hargo akibat terjangan awan panas abu vulkanik dirumahnya, berita bencana ini telah menjadi sorotan media internasional, termasuk di Jepang pada waktu itu.

“Kenapa kamu canggung melihatku?” “Aku tidak terbiasa melihatmu dengan kumis dan jambang tipis seperti itu” aku menunjuk tampang Arabnya “Aku belum sempat bercukur, gaya rambutmu berbeda sekarang, lebih feminim” “Hmm ya” Kami melintasi jalan dan berhenti diujung taman Jagir, kebetulan ada sate Madura, kami parkir untuk makan.

“Kamu jadi tour guide sekarang?” “Sementara kerja freelance sambil main, kamu tidak ingin kerja di Malang? Supaya kita bisa kumpul lagi” “Justru sebenarnya aku ingin mengajakmu kerja denganku, tapi sepertinya pekerjaanmu lebih seru” “Aku menikmati pekerjaaku, lagi pula mobil abah jarang dipakai jadi bisa aku bawa kemana–mana” aku mengangguk, sambil melihat tukang sate sibuk mengipasi pembakaran satenya. Terakhir kami makan sate waktu membicarakan hantu di Rumah baca, ya Hasendo.

“Fuad dan Ojan masih di Coffee shop?” “Dua bulan yang lalu aku masih kesana menonton bola. Kamu tidak ingin kesana, besok kan libur” “Lain waktu saja, kasian kamu bolak-balik nanti. Kenapa kamu tidak jadi menikah?” “Kamu serius sekali menanggapi hal itu” “Siapa tahu memang kamu serius, tapi apa benar orang Arab selalu menikah dengan orang Arab?” “Kebanyakan memang begitu karena menjaga nasab keluarga, tidak ingin repot beradaptasi budaya jika hidup bersama dengan pasangan yang non-Arab” “Bahkan nenekku juga ingin aku menikah dengan sesama orang Jawa” Setidaknya menikah dengan yang sesama ras, etnis dan suku tidak akan terjadi Culture shock atau perbedaan lain yang membuat beda pandangan juga. Apalagi masing–masing tradisi dan budaya sangat kental, jadi untuk sebagian orang akan cukup sulit karena dibarengi dengan sikap konservatif.

“Aku pribadi suka dengan akulturasi budaya, dengan pernikahan yang berbeda etnis bisa memperkaya wawasan, pengalaman, memperbanyak dan mengikat saudara dari etnis lain” Ovan menolehku dengan tampang menyebalkan “Memangnya kamu mau kalau menikah dengan orang Arab?” “Aku pikir mereka tidak tertarik denganku” “Kami lebih suka perempuan dewasa, tidak random sepertimu” “Ah lagipula keturunan kalian masih banyak yang patriarki”

Tukang sate memberikan dua porsi sate ayam dan lontong kepada kami, sambil bercakap–cakap dengan teman yang sama–sama orang Madura. Aku dan Ovan saling pandang, percakapan dan logat mereka sangat unik, yang aku tahu hanya kalimat “Dhe’remma kabarre cong?” yang memang sering sekali diucapkan ketika bertemu temannya. Selesai makan, tukang sate itu pergi, kami bersantai menikmati malam “Misal kamu menikah dengan orang Madura, otomatis kamu akan belajar bahasa dan budaya mereka” “Aku tahu, hanya saja logat mereka terdengar lucu” “Begitupun bahasa Jawa akan lucu jika didengarkan etnis suku lain” aku jadi teringat bahasa dan logat Praja yang khas.

“Kamu ingat kita pernah bertemu di mimpi?” “Mimpi apa maksudmu?” “Bukan mimpi dewasa, tapi kita bertemu di Aokigahara” aku mencoba mengingat “Coba kamu praktek lucid dream, pasti ingat” “Apa dimimpi kamu masih menyebalkan?” “Kenapa bertanya seperti itu, padahal kamu selalu mengatakan jika merindukanku” seperti biasa Ovan masih sangat menyebalkan. “Akan kemana kita setelah ini?” “Lihat mukamu memerah, kamu malu telah merindukanku” Ovan tertawa “Siapa juga yang malu, aku akan berkeliling taman. Kamu ikut?” dia mengikutiku.

“Apa yang kamu cari? Disini tidak ada kunang–kunang?” “Mereka sudah tidak ada dimanapun. Kamu ingat tentang angka kematian?” “Tentu saja” “Aku pernah melihatnya” “Maksud kamu?” “Numeric yang acak dan membingungkan dihutan, dijalan dan dilangit” “Sebenarnya waktu itu aku menganalogikan kematian dengan angka, bukan yang seperti itu” “Jadi menurutmu aku hanya berhalusinasi?” “Sepertinya kamu butuh konseling kejiwaan” aku memukul pundaknya karena Ovan selalu meledekku.

Lihat selengkapnya