AKULTURA

Intan widya sari
Chapter #13

MEMBUAT JANJI TEMU

 

CHAPTER 13

MEMBUAT JANJI TEMU

Aku menuju daerah ekowisata pantai mangrove Wonorejo. Setengah jam menunggu, Ovan menyapaku dengan senyum tampannya, tenang, aku tidak akan pernah tergoda. Dia melontarkan pertanyaan tanpa basa-basi “Kenapa tidak mau aku jemput distudio? kamu akan mengakhiri hubungan kita?” aku mengangguk “Bahkan kita belum memulai dan setidaknya biarkan aku memesan minum dulu” dia memesan sari buah mangrove, sambil membaca tulisan yang tertera dibanner “Kandungan flavonoid buah mangrove mampu melawan radikal bebas dan bersifat sitotoksik dalam menangkal sel kanker. Aku membutuhkan minuman yang bisa melawan rasa kecewa” dia melucu untuk mencairkan suasana, aku tersenyum menghargai usahanya.

“Kamu dapat salam dari Umi” “Beliau bahkan tidak mengenalku” “Aku menceritakan siapa teman-temanku, karena memang beliau suka bertanya aku keluar dengan siapa” “Kamu juga mengatakan pernah bermalam di dalam mobil denganku?” Ovan tersenyum, aku sedikit kesal “Kesan pertama yang buruk” dia minum es sirupnya, menyiapkan diri mendengar cerita dariku, menyenderkan punggungnya dikursi café.

“Praja sudah kembali, dia menemuiku persis disaat kamu mengantarku pulang minggu kemarin” “Oh ya, akhirnya aku tahu namanya” “Apa? Namanya tidaklah penting bagimu” “Jadi apa yang penting?” aku menarik nafas, mementapkan hati “Aku akan mengakhiri pertemanan kita” “Kenapa?” “Karena tidak ada pertemanan diantara laki–laki dan perempuan” Ovan diam tidak berkomentar “Kenapa kamu diam?” “Kamu benar, kalian akan menikah?” “Awalnya aku tidak sengaja membawa foto kita ke Tokyo, kecurigaan itu berlanjut sampai kamu mengantarku kestudio, mungkin dia tidak akan kembali padaku” dia mencoba memahami kejadian.

“Kalian berdua spesial, aku tidak bisa berteman dan berkencan atau menjalin hubungan sekaligus, jadi saatnya mengakhiri semua” “Bukankah akan lebih baik memutuskan salah satu daripada tidak sama sekali?” “Aku mengenal kalian, sementara kita tidak akan bertemu untuk memperbaiki diri masing-masing sampai siap dalam” dia menungguku menyelesaikan percakapan. “Teman akan datang dan pergi” “Tapi ada juga yang bertahan” bantahnya “Dan kalaupun kamu menikah, kita tidak akan berteman lagi, semua hanya butuh waktu” “Aku masih banyak waktu”

“Kamu mau berkeliling hutan mangrove? Aku ingin mengakhiri pertemuan dengan perasaan menyenangkan” Ovan mengikutiku, kami menunggu perahu kayu yang menyebrangi sungai dan turun didermaga lalu berjalan menyusuri jogging track menghubungkan area pesisir laut yang satu ke area lainnya dalam pesona hutan mangrove yang berfungsi mencegah abrasi sekaligus mengikat karbondioksida. Selain itu banyak ragam burung yang terbang dan monyet ekor panjang bergelantungan menghiasi pohon.

Lelah berkeliling, kami berhenti disalah satu gazebo yang berdiri kokoh dipermukaan laut “Pasti akan gelap disini pada malam hari” “Mata akan beradaptasi dengan gelap, irish mata akan melebar, mengatur ukuran pupil untuk mengontrol cahaya yang masuk. Itu kenapa sebenarnya kita masih bisa melihat didalam gelap” “Jawaban yang filosofis”

“Kamu ingin segera menikah? Apa yang membuatmu buru–buru?” “Aku pikir saat itu Praja orang yang tepat, dia cukup matang, dewasa dan juga pintar sepertimu. Tapi entahlah, perasaan ini memuakkan dan aku tidak bisa lepas darinya” “Kamu harus kembali padanya. Lagi pula aku tidak cukup matang, mungkin aku akan siap sekitar tiga tahun lagi, itupun jika kita masih bisa sering bertemu” “Jadi menurutmu kemungkinan apa yang terjadi dalam rentang waktu tiga tahun itu?” Ovan mungkin akan memikirkan hal yang sama.

“Kita sudah dewasa, beberapa orang membutuhkan cuddling dan kamu tahu, ini normal. Aku tidak akan melakukannya tanpa ikatan, meskipun bukan karena alasan itu juga” “Aku mengerti, tidak ada yang menjamin apa yang kita perbuat selama tiga tahun itu” kami diam menikmati hembusan angin dari arah laut “Aku takut jika kematianlah yang ternyata mendahului takdirku, sedangkan aku telah melakukan banyak kesalahan” “Itu kenapa aku tidak berkencan dengan siapapun. Tapi Yos, sepertinya aku bisa membantumu kembali bersama Praja” “Tidak perlu, kita tunggu bagaimana semesta menunjukkan jalannya” angin laut membuat kami kewalahan menghalau hembusannya.

“Kita bisa masuk angin kalau lama–lama disini” “Kita tidak bisa berpisah seperti ini, kamu tetap berkirim kabar meskipun tidak bertemu denganku?” “Mungkin” kami menunggu perahu datang untuk membawa kembali ke tempat awal. “Aku akan merindukanmu” aku tersenyum, Ovan berusaha tidak menyebalkan “Kamu bisa berenang? Banyak buaya muara air asin dibawah perahu, aku akan menyuruh bapak itu menurunkanmu disini” reflek aku menendang kakinya.

AKTIVITAS KERJA DI BULAN JUNI

Seorang klien menunggu cetakan roll-up banner untuk kelengkapan pameran ditempat kerjanya. Aku melayani seperti klien pada umumnya, meskipun dia temanku. Sambil menunggu Kiko menyelesaikan tugasnya, klien meminta waktu berbincang denganku “Kenapa diam, aku bukan klien biasa”Sepertinya kamu kesini bukan untuk kepentingan banner tapi untuk menemuiku, kamu bisa mencetak di dekat tempat kerjamu” Mamat tidak terima dengan perlakuanku “Hei sombong sekali kau ya, kau kira kau siapa hah” dengan nada bicara persis dalam telenovela “Aku sudah bilang akan menemuimu nanti ketika aku selesai dengan …” “Dasar si paling drama” Sebenarnya aku bukan tipe orang seperti itu, aku hanya ingin menyendiri diwaktu libur kerja.

“Kalian bertengkar?” “Sedikit salah paham” “Praja 3 hari bersamaku bulan kemarin” “Dia menceritakan sesuatu tentangku?” “Justru karena tidak menceritakan apapun tentangmu, aku menyimpulkan jika kalian sedang bertengkar. Dia sedang mencari gelar S1 di Bhayangkara, melanjutkan studi sistem Hybrid learning mengambil kelas pekerja” “Oh ya?” “Harusnya kamu yang lebih tahu. Aku kira kalian akan segera menikah, bukankah kalian sudah tidur bersama di Tokyo?” aku memukul keras lengannya “Tidak bisa menutup mulutmu sebentar” dia mengaduh, terus mengelus lengannya.

“Jadi kamu temannya Praja?” Zaka menyapa, Mamat memperkenalkan dirinya dengan penuh percaya diri “Benar aku Mathew, kamu yang datang dari Tokyo itu kan?” “Apa sih” aku menegurnya “Kemarin Praja bilang sedang dirumah temannya yang dari Tokyo, pasti si Zaka ini?” “Betul sekali, dimana dia sekarang?” Mamat melirikku sambil tertawa, Zaka memaksa “Kasih taulah, Yosi gengsi mau menanyakan keberadaan kekasihnya” Mereka berdua seperti dayang–dayang yang sedang memojokkan Shinta.

“Dia sedang di daerah Ketintang, kadang juga pulang ke rumah Ampera” “Dulu kamu bilang rumahnya sudah dijual” Mamat tertawa “Maaf salah informasi, awalnya memang mau dijual” Zaka menyela “Berarti kita bisa main bersama?” “Sangat bisa” jawab Mamat antusias. Aku mengangkat kedua tanganku yang berarti tidak ikut, dibarengi dengan desain Kiko yang hampir selesai, dia menunjukkan kepada Mamat “Seperti ini?” “Boleh, warnanya diterangin sedikit ya” Kiko mengangguk.

Aku mengantar Mamat kedepan studio untuk kembali ke urusannya, dia berpamitan sambil menarik bawah baju yang aku pakai “Minta nomor Zaka dong?” “Ganjen sekali, katamu sudah ada kekasih baru” “Astaga aku bilang baru kan ditahun kemarin” “Ya kan kamu bisa cari lagi yang lebih cantik, masa mau main pedang sama Zaka” “Lain Yosi, kita mau janjian hang out sama Praja” “Awas kamu!” aku mengancamnya, Mamat membalas dengan mengacungkan jempolnya yang lentik. Kadang aku khawatir jika dia mempunyai kelainan biseksual.

Selesai bekerja, aku membaringkan tubuhku dan melihat handphone yang sepi pesan dari teman atau saudaraku, mungkin aku telah memutus hubungan dengan mereka semua. Jadi aku mencari kontak Noe ingin menanyakan kabar orang rumah, belum sempat memencet tombol panggil, dia sudah memanggil duluan. “Halo, Yosi iso muleh sak iki?” (Halo, Yosi bisa pulang sekarang) “Ono opo?” (Ada apa?) “Paklek sakit” (Paman sakit) aku langsung meloncat dari tempat tidur, segera berkemas dan mencari bus malam, diperjalanan aku memberitahu Zaka untuk izin beberapa hari, jantungku terus terpacu.

Sampai terminal Noe menjemputku dengan motornya, mengantarku ke Rumah sakit, aku tidak sempat mandi dan berbenah, katanya aku harus segera ke Ibnu Sina, bahkan aku tidak tahu sakit apa yang menjangkit tubuh bapak, setauku beliau tidak memiliki riwayat sakit apapun. Kami berlari keruang UGD, hanya ada orang tua Noe dan seorang perawat diruangan. Badanku gemetar, ranjang pasien sudah ditutup kain putih, aku menyadari apa yang terjadi meskipun mereka tidak mengatakan apapun. Aku sudah tidak mempunyai daya untuk berkata–kata, aku membuka kain itu, menemui badan ringkih yang dingin. Kenapa aku tidak bisa melihat beliau untuk yang terakhir kali? Rasa sesal membelenggu, sampai detik ini aku belum bisa membuatnya senang dan bangga. Parahnya aku juga tidak bisa menjaga beliau sampai akhir hidupnya “Sepurane Yosi ingkang katah lepate” (Maafkan Yosi yang banyak salahnya)

Aku terpaku, hanya mendengar percakapan antara Pakde dan dokter, beliau menjelaskan tentang kematian mendadak akibat gangguan jantung oleh Sindrom Brugada, pasien yang terlihat sehat bisa mempunyai kelainan genetik. Tidak ada gejala apapun tapi biasanya jantung berhenti mendadak atau disebut dengan Sudden cardiac death. Biasanya pasien yang merokok terlihat sehat meskipun sebenarnya pembuluh darah sudah rusak, Pakde meyakinkan bahwa bapak bukan perokok, tapi beliau bekerja di perusahaan tembakau dan sering ke pabrik rokok, meskipun itu bukan faktor utama.

Noe menguatkan, aku masih diam melihat proses para perawat menyiapkan ambulan dan membawa kami pulang. Kejadian ini sangat cepat, kata orang tua Noe, beliau mengeluh sakit dada sepulang kerja dan setelah dibawa ke Rumah sakit, nyawanya tidak tertolong hanya beberapa jam berselang, bahkan keluarga yang lain belum ada yang tahu. Aku dan orang tua Noe mengantar memasuki ambulan, Noe membawa motornya pulang. Dalam perjalan Pakde membahas tentang tradisi tahlilan untuk mengenang dan mendoakan almarhum, dalam adat Jawa kematian keluarga adalah hal yang menjadi perhatian. Seseorang yang baru saja mendapatkan kabar duka harus memikirkan tradisi tahlilan yang akan dilakukan hari pertama, ketiga, ketujuh, keempat puluh, keseratus dan keseribunya. Meskipun berbeda keyakinan agama namun tradisi Jawa tetap mengakar kuat dikeluarga kami.

Aku mengabari Zaka kedua kalinya, kali ini aku akan mengambil izin libur satu minggu lamanya, kabar yang kurang baik untuk partner kerjaku, apalagi aku baru bergabung dan beradaptasi dengan Chameleon. Sedangkan simbah meratapi kepergian anak bungsunya, beliau terus mengatakan perihal umur yang tidak bisa diprediksi “Kok ora aku wae sing wes tuek lan loro–loronen, sakno Yosi” (Kok bukan aku saja yang sudah tua dan sakit–sakitan, kasian Yosi) “Sampun takdire bapak kapundut tanpo sakit, mugi–mugi husnul khotimah ingkang dinten malem jumat niki” (Sudah takdirnya bapak meninggal tanpa merasakan sakit, semoga husnul khotimah di malam hari jumat ini) aku tidak ingin membuat simbah sedih, meskipun mataku sendiri telah bengkak.

Sarah juga ikut membantu menyiapkan acara tahlilan, banyak perubahan besar dalam dirinya, dia telah menjadi seorang muslimah yang taat dengan menggunakan kerudung kemanapun dia beraktivitas. Di masa ini memang terjadi gelombang hijab yang menggandrungi remaja milenial, meskipun sebelumnya hijab atau kerudung sudah masuk abad ke 17, tapi pemakaian yang masif terjadi beberapa tahun terakhir.

Sarah mendekatiku, tersenyum sambil membenarkan hijabnya “Koe wes wektune gawe jilbab, opo maneh paklek wes kapundut” (Kamu sudah saatnya memakai hijab, apalagi paman sudah meninggal) “Maksud mbak Sarah ben bapak ora keno azab kubur soale anake mbukak aurot?” (Maksud kak Sarah biar bapak terhindar dari azab kubur karena anaknya buka aurat?) “Koe mesti nganggep yen kabeh ajaran dogmane agomo” (Kamu pasti menganggap jika semua ajaran dogmanya agama) “Ojo salah nangkep” (Jangan salah menangkap persepsi) kami berdua bersender di kursi, mengamati orang-orang yang sibuk didapur, sedikit berdiskusi tentang keyakinan kami.

“Mbak putune simbah sing paling taat, rajin mangkat grejo lan paling teguh pendiriane. Opo sing gawe sampean ngrubah keyakinan? Bojone sampean?” (Kakak cucunya nenek yang paling taat dan rajin ke gereja, paling teguh pendiriannya. Apa yang membuat kamu berubah keyakinan? Suamimu?) “Wong yen soyo taat soyo nemu celah” (Orang kalau semakin taat semakin bertemu dengan celah) aku mendengar Sarah menjelaskan celahnya.“Aku dadi muslim ora mergo rabi karo bojoku, mergo awale penasaran karo uripe Yesus usia 12 nganti 29 taun sing ora jelas, padahal iku usiane wong produktif, opo maneh uripe mung nganti umur 33 tahun, kecepeten” (Aku jadi muslim bukan karena menikah dengan suamiku, karena awalnya penasaran dengan kehidupan Yesus di usia 12 sampai 29 tahun yang samar, padahal itu usia produktif, apalagi hidupnya hanya sampai usia 33 tahun, terlalu cepat)

“Ono sing ngomong missing years-e nang India, belajar agomo Buddha, malah usiane nganti 120 taun. Yen critone Tuhan sing gawe iseh menungso mbak tetep bakal nemu celah. Sampean yakin yen dadi muslim iso njamin ora nemu celah maneh? Mbak Sarah ora tau setuju Poligami” (Ada yang bilang missing years-nya di India, mempelajari agama Buddha, bahkan usianya sampai 120 tahun. Selama cerita tentang Tuhan yang membuat masih manusia kakak akan terus bertemu dengan celah. Kamu yakin setelah menjadi muslim menjamin tidak menemukan celah lagi? Kak Sarah tidak pernah setuju Poligami)

Sarah menghela nafas dan memantapkan hati “Ancen poligami menurutku dasare kemaruk, jare penduduk bumi akeh wedoke, asline imbang 1 banding 1, opo maneh nang Indonesia akeh lanange” (Memang poligami menurutku dasarnya serakah, katanya penduduk bumi banyak perempuannya, padahal imbang satu banding satu, bahkan di Indonesia banyak laki-lakinya) “Mbak bakal sering nemu celah, mengko sing mlebu neroko paling akeh wong wedoke” (Kakak akan sering bertemu dengan celah, nanti yang masuk neraka kebanyakan perempuannya) “Ora masuk akal, wong wedok akeh sing dadi korban kejahatan, iki ajarane feminis tho?” (Tidak masuk akal, perempuan banyak yang jadi korban kejahatan, ini ajarannya feminis ya?) aku menggeleng.

“Ojo kaget pisan yen mengko nemu aliran sing akeh maceme” (Jangan kaget juga kalau nanti bertemu aliran yang banyak macamnya) Sarah penasaran “Koe aliran sing ndi?” (Kamu aliran yang mana?) “Sejatine Tuhan namung siji, sifate sing universal, dadi jenenge akeh. Aku ora melok alirane sopo-sopo, fokus nang njerone ati. Agomo wes dadi alat, kok tukaran bedo agomo, wong bedo aliran ae paten-patenan” (Sejatinya Tuhan hanya satu, sifatnya yang universal, jadi penamaannya banyak. Aku tidak ikut alirannya siapa-siapa, hanya fokus pada kemurnian hati. Agama sudah menjadi alat, jangankan bertikai karena beda agama, beda aliran saja saling membunuh)

“Teros Atheis paling bener?” (Terus Atheis paling benar?) “Aku ora ngomongno ndi sing bener. Percuma ngolah-ngaleh agomo tapi sek nemu celah. Agomo jane ora keno dikritisi, mung iso diimani” (Aku tidak membicarakan mana yang benar. Percuma berganti-ganti agama tapi masih bertemu celah. Agama seharusnya tidak bisa dikritisi, hanya bisa diimani) “Koe biyen tau dukung aku pindah” (Kamu dulu pernah dukung aku pindah) “Aku ngekeki pendapat, aturanku luweh flexible, ojo ngomongno radikal, poligami, sak piturute” (Aku memberi pendapat, aturanku lebih flexible, jangan bicarakan radikal, poligami dan seterusnya)

“Nyapo?” (Kenapa?) “Nduweni Tuhan bedo karo nduweni agomo, aku percoyo ono Tuhan, tapi taatku ora koyok sing dipikirno mbak Sarah, dadi ojo ngongkon aku nggawe opo wae nganti aku pengen gawe” (Berketuhanan beda dengan beragama, aku percaya dengan adanya Tuhan, tapi cara taatku tidak seperti yang dipikirkan kak Sarah, jadi jangan menyuruhku memakai apapun sampai aku ingin pakai) “Dadi koe agnostik?” (Jadi kamu agnostik?) omong kosong yang seharusnya tidak kami bicarakan dikondisi seperti ini. Sebenarnya aku hanya ingin dia mengikuti keyakinannya tanpa terus mencari celah, karena menganut keyakinan apapun baik selama pengikutnya bermoral. Tapi pembicaraan ini sudah menjadikannya semakin bingung. Jadi aku membiarkan Sarah bergulat dengan pikirannya sendiri. Kami kembali ke rutinitas masing-masing.

Lihat selengkapnya