ALAMAT YANG SELALU PINDAH

brielle athalia
Chapter #1

#RAKA

Sinar matahari sore menembus celah-celah gang sempit saat ban sepeda Rian berhenti berdecit tepat di depan jalan masuk. Aku segera melompat turun dari boncengan besi yang selama ini menjadi penyelamatku untuk pergi dan pulang sekolah.

"Duluan, Yan! Makasih tebengannya!" seruku sambil membetulkan posisi kotak kue besar di pelukan. Isinya sudah setengah kosong, menyisakan beberapa potong jajan pasar yang gagal terjual hari ini.

Rian hanya melambaikan tangan sebelum kembali mengayuh sepedanya menjauh. Aku berbalik, lalu mendorong pelan pagar besi reyot yang berderit nyaring, seolah protes karena dipaksa bergerak.

Di hadapanku, berdiri tempat yang kami sebut rumah. Sebuah kontrakan petak berdinding papan kayu yang sudah kusam dan mulai lapuk di beberapa bagian. Rumah ini berdiri berhimpitan di dalam gang yang lebarnya tak sampai dua meter, membuat cahaya matahari sore enggan mampir lama-lama. Saat pintu kayu kutolak, aroma lembap langsung menyengat hidung. Alas rumah kami hanyalah lantai semen kasar tanpa ubin yang terasa dingin di telapak kaki. Di atas, langit-langitnya langsung memamerkan lembaran seng yang mulai berkarat. Di salah satu sudut ruang tamu, sebuah ember plastik hitam sudah berjaga-jaga, siap menampung tetesan air jika awan mendung di luar sana mulai pecah menjadi hujan.

Sambil melepas sepatu dan menyusunnya di rak kayu ringkih buatan Ayah, aku bergegas melangkah masuk. Kotak kue di pelukanku langsung kuletakkan di atas satu-satunya meja di ruangan itu—meja serbaguna yang merangkap sebagai tempat makan, area menerima tamu, sekaligus pembatas ruang tidur kami.

Pandanganku kemudian tertuju pada setumpuk pakaian kotor yang menggunung di atas kursi kayu yang sudah reyot. Aku menghela napas pendek. Pasti itu baju-baju milik tetangga yang harus Ibu cuci malam ini demi menyambung hidup kami.

Belum sempat aku mengganti seragam sekolah, gorden kumal yang membatasi dapur dan ruang tengah tiba-tiba tersingkap. Wajah polos Dinda, adikku yang masih kelas enam SD, menyembul dari sana dengan mata berbinar.

"Eh, Kak Raka udah pulang!" serunya tertahan, Pandangan Dinda langsung tertuju pada wadah di atas meja. "Eh, Kak, kuenya habis?"

"Masih sisa lima, Dek," jawabku sambil tersenyum tipis, mencoba menyembunyikan rasa lelah. "Ibu mana?"

"Ibu lagi di rumah tetangga, Kak. Lagi menyetrika baju-baju yang dicuci kemarin. Kan setrika kita rusak dan belum bisa beli lagi," sahut Dinda lirih, membuat ruangan yang sempit itu mendadak terasa makin sunyi.

Begitu selesai berganti pakaian, aku mendapati tumpukan baju kotor di atas kursi sudah lenyap. Dari arah belakang, terdengar kecipak air. Dinda rupanya sudah membawa ember itu ke sumur. Akhir-akhir ini, adik kecilku itu memang keras kepala ingin membantu Ibu. Pulang sekolah, ia langsung mengambil alih tugas mencuci baju tetangga agar Ibu bisa fokus menyetrika.

Perutku tiba-tiba berbunyi nyaring, protes meminta haknya setelah seharian diperas tenaga. Aku menatap meja makan yang melompong, lalu berjalan ke arah dapur. Dua gelas air putih kureguk cepat-cepat demi mengusir rasa perih yang mulai menyerang lambung. Sisa lIma potong kue jualan tadi langsung kuambil dan kukunyah cepat sebagai pengganjal.

Lihat selengkapnya