Ucapan Dinda tentang biaya ujiannya masih terus terngiang-ngiang di kepalaku. Malam ini, aku sengaja terjaga, menunggu sampai suami dan anak-anakku benar-benar terlelap. Begitu suasana rumah dirasa sudah sunyi, aku melangkah pelan ke area dapur yang remang. Tanganku bergerak merogoh bagian terdalam lemari, mengambil sebuah kotak kaleng usang tempatku menyembunyikan sisa uang belanja.
Sambil menghela napas berat, aku mulai menghitung lembaran uang di dalam kaleng itu. Jantungku berdenyut agak nyeri melihat jumlahnya yang sangat sedikit. Hasil memeras keringat mencuci dan menyetrika harian milik tetangga hanya dihargai lima puluh ribu rupiah per hari, itu pun sudah langsung terpotong untuk membeli beras dan lauk seadanya agar anak-anak tidak kelaparan. Untunglah, upah Mas Joko hari ini lumayan ada tiga ratus ribu rupiah. Setelah dipotong belanja bahan makanan untuk stok beberapa hari ke depan, sisa uang Mas Joko yang bisa kusimpan hanya dua ratus ribu rupiah.
Pikiranku mendadak buntu saat teringat wajah ketus Pak haji Muhidin, pemilik kontrakan kami. Kemarin sore beliau sempat datang dan mengingatkan dengan tegas bahwa uang sewa sudah jatuh tempo lusa. Biaya kontrakan petak ini tiga ratus ribu rupiah per bulan. Sudah dua tahun kami menempati rumah papan ini, dan selama dua tahun itu pula kami selalu mengusahakan bayar tepat waktu, tak pernah sekalipun menunggak. Namun, semenjak Mas Joko terpaksa pindah kerja ke bengkel las yang baru sebulan lalu, penghasilan kami merosot tajam. Uang di dalam kaleng ini masih sangat kurang, bahkan belum cukup untuk membayar sewa tempat bernaung, apalagi untuk biaya ujian Dinda. Aku benar-benar harus bagaimana?
Menjelang pagi, setelah seluruh urusan rumah beres, anak-anak sudah berangkat ke sekolah, dan Mas Joko pun telah mengayuh sepeda tuanya menuju tempat kerja, aku bergegas ke belakang. Kupandangi tumpukan baju tetangga yang jemurannya sempat basah kuyup akibat guyuran hujan deras semalam. Dengan sisa tenaga yang ada, aku mulai memerasnya kembali satu per satu, berharap embusan angin beberapa jam ke depan bisa membantu mengeringkannya sebelum matahari benar-benar naik.
Baru saja aku hendak meluruskan pinggang yang terasa kaku, suara ketukan keras di pintu depan tiba-tiba terdengar, memecah kesunyian gang. Jantungku seketika berdegup kencang. Tanpa perlu mengintip lewat celah gorden, aku sudah teramat tahu siapa yang berdiri di balik pintu kayu itu: Pak Haji Muhidin.
"Maaf, Pak Haji, saya benar-benar belum ada uangnya sekarang," ucapku lirih, menundukkan kepala sedalam-dalamnya.
"Kalau begitu, kamu dan keluargamu harus angkat kaki dari sini!" sahut Pak Haji Muhidin tanpa belas kasihan.
"Tolong, Pak Haji, beri kami sedikit waktu lagi. Kebutuhan kami sedang banyak-banyaknya sekarang, bahkan untuk makan saja kami masih kesulitan, apalagi buat bayar sewa..."
"Kalau begitu, suruh suamimu kerja lebih keras lagi! Jangan banyak alasan!" potongnya ketus.
Air mataku runtuh seketika. Dengan perasaan malu yang teramat sangat karena sadar suara bising ini mulai memancing tatapan para tetangga dari balik jendela mereka, aku terpaksa mengatupkan kedua tangan di dada sambil terus memohon. "Iya, Pak Haji. Saya dan suami saya pasti akan bekerja lebih keras lagi. Tapi kami mohon dengan sangat, beri kami waktu satu bulan saja untuk mengumpulkan uangnya."
Pak Haji Muhidin mendengus, menatapku sinis dari atas ke bawah. "Baik. Dalam sebulan aku akan datang lagi ke sini. Kalau uangnya masih belum ada, tidak usah banyak bicara, kalian pergi saja dari rumah ini!"
Dada ini rasanya sesak bukan main. Kami sudah dua tahun tinggal di sini dan tidak pernah sekalipun menunggak pembayaran, tapi mengapa saat kami benar-benar jatuh seperti ini, tidak ada sedikit pun toleransi yang tersisa?