ALAMAT YANG SELALU PINDAH

brielle athalia
Chapter #2

ATAP YANG BOCOR

Hujan turun sejak siang.

Awalnya hanya rintik-rintik kecil yang membasahi halaman sempit di depan kontrakan. Namun menjelang sore, langit berubah semakin gelap. Awan hitam bergumpal di atas permukiman padat itu seperti membawa seluruh kesedihan dunia.

Tak lama kemudian, hujan turun deras.

Air menghantam atap seng tua yang sudah berkarat selama bertahun-tahun.

Brak.

Brak.

Brak.

Suara tetesan hujan yang memukul seng memenuhi seluruh ruangan.

Bagi sebagian orang, suara hujan mungkin terdengar menenangkan.

Namun bagi keluarga Raka Pratama, suara itu selalu menghadirkan kecemasan.

Karena setiap hujan turun, mereka tahu apa yang akan terjadi.

Atap akan bocor.

Dan benar saja.

Tetesan pertama jatuh tepat di dekat pintu.

Plok.

Kemudian satu lagi di samping lemari plastik.

Lalu satu lagi di dekat kasur.

Dalam hitungan menit, air mulai menetes dari berbagai sudut ruangan.

“Dinda, ambil baskom!”

Suara Ibu terdengar dari dapur.

Dinda yang sedang mengerjakan tugas sekolah langsung beranjak.

Ia mengambil baskom plastik berwarna biru yang biasa digunakan untuk mencuci pakaian.

Dengan cekatan ia meletakkannya tepat di bawah titik kebocoran terbesar.

Plok.

Plok.

Plok.

Air mulai memenuhi dasar baskom.

“Kak, yang dekat lemari juga bocor!”

teriaknya.

Raka yang sedang memperbaiki resleting tasnya segera berdiri.

Ia mengambil ember bekas cat yang sudah dicuci bersih lalu menaruhnya di sudut ruangan.

Tak lama kemudian suara air menetes memenuhi seluruh rumah.

Plok.

Plok.

Plok.

Suara itu seperti musik yang tidak pernah mereka minta.

Musik yang selalu hadir setiap musim hujan.

Rumah petak yang mereka tempati sebenarnya hanya terdiri dari satu ruang utama, dapur kecil, dan kamar mandi sempit di belakang.

Luasnya tidak lebih dari tiga kali empat meter.

Namun karena hanya itulah yang mampu mereka sewa, keluarga itu berusaha bertahan.

Raka memandang sekeliling ruangan.

Dinding kayu mulai lapuk.

Cat yang dulu berwarna hijau muda kini mengelupas di berbagai bagian.

Lantai semen terlihat retak.

Sementara atap seng di atas kepala mereka tampak semakin rapuh setiap tahunnya.

Meski demikian, tempat itu tetap mereka sebut rumah.

Setidaknya untuk sementara.

Sampai suatu hari mereka harus pindah lagi.

Seperti yang sudah sering terjadi.

“Aku capek.”

Suara Dinda membuat Raka menoleh.

Adiknya duduk bersila di lantai.

Lihat selengkapnya