Pagi datang tanpa membawa perubahan berarti.
Raka terbangun ketika suara ayam dari rumah tetangga mulai terdengar bersahutan. Udara masih terasa dingin akibat hujan semalam. Di sudut ruangan, beberapa baskom yang digunakan menampung air bocor masih terisi setengah penuh.
Ia bangkit perlahan agar tidak membangunkan Dinda yang masih tertidur.
Di dapur kecil, Ibu sudah lebih dulu bangun.
Seperti biasa.
Wanita itu sedang menjerang air menggunakan kompor gas yang apinya semakin kecil karena isi tabung hampir habis.
“Bangun pagi sekali, Bu.”
Ibu tersenyum.
“Kalau Ibu bangun siang, siapa yang masak?”
Raka ikut tersenyum tipis.
Meskipun hidup mereka sedang sulit, Ibunya selalu berusaha membuat suasana rumah tetap hangat.
“Ayah sudah berangkat?”
Ibu mengangguk.
“Subuh tadi.”
“Kemana?”
“Mencari lowongan kerja lagi.”
Raka menunduk.
Sudah hampir tiga bulan Ayah melakukan hal yang sama.
Pergi pagi-pagi.
Pulang menjelang malam.
Membawa harapan yang setiap hari semakin tipis.
Sekitar pukul sembilan pagi.
Suara motor berhenti di depan kontrakan.
Awalnya Raka tidak terlalu memperhatikan.
Namun ketika mendengar seseorang memanggil nama Ayah dengan nada tegas, ia langsung menoleh ke arah jendela.
Seorang pria berjaket hitam berdiri di depan rumah.
Wajahnya terlihat serius.
Di tangannya terdapat sebuah map tebal.
Pria itu sempat melihat ke dalam rumah.
Tatapan mereka beradu sesaat.
Entah mengapa, dada Raka langsung terasa tidak nyaman.
“Siapa itu?” tanya Dinda yang baru bangun.
Raka menggeleng.
“Entahlah.”
Pria tersebut menunggu beberapa menit.
Ketika tidak menemukan Ayah, ia menyerahkan sebuah amplop kepada Ibu.
“Kalau Pak Budi pulang, tolong berikan ini.”
Ibu menerima amplop itu dengan tangan sedikit gemetar.
Setelah pria itu pergi, suasana rumah berubah sunyi.
Tidak ada yang langsung membuka amplop tersebut.
Seolah mereka semua tahu bahwa kabar di dalamnya tidak akan menyenangkan.
Ayah pulang menjelang sore.
Langkahnya tampak lebih berat dibanding biasanya.
Keringat membasahi kemejanya.
Sepatu yang dikenakannya penuh debu.
Begitu masuk ke rumah, Ibu langsung menyerahkan amplop tadi.
Wajah Ayah berubah seketika.
Raka yang memperhatikan dari kejauhan dapat melihat perubahan itu dengan jelas.
Seolah seluruh darah di wajah Ayah mendadak menghilang.
Ayah membuka amplop tersebut perlahan.
Tangannya bergetar.
Ia membaca isinya beberapa saat.
Lalu duduk tanpa berkata apa-apa.