ALAMAT YANG SELALU PINDAH

brielle athalia
Chapter #4

SEPIRING NASI TERAKHIR

Pagi itu, Sari terbangun lebih awal dari biasanya. Udara masih dingin, dan suara azan Subuh baru saja selesai berkumandang dari masjid di ujung gang. Seperti rutinitas setiap hari, ia langsung menuju dapur kecil yang menyatu dengan ruang utama kontrakan mereka. Dapur itu sederhana, hanya berisi rak kayu tua, kompor gas satu tungku, dan beberapa peralatan masak yang sudah digunakan bertahun-tahun.

Sari membuka wadah beras yang berada di pojok rak. Tangannya terhenti sesaat ketika melihat isinya. Hampir kosong. Ia mengaduk dasar wadah dengan sendok plastik, berharap masih ada lebih banyak beras yang tersisa. Namun harapannya sia-sia. Hanya segenggam kecil beras yang cukup untuk sekali masak.

Ia menarik napas panjang dan menutup wadah itu perlahan. Pandangannya kemudian beralih ke rak bahan makanan. Tidak ada mie instan. Tidak ada telur. Tidak ada minyak goreng yang cukup untuk memasak beberapa hari ke depan. Yang tersisa hanyalah sedikit garam, beberapa siung bawang merah, dan sebungkus kecil penyedap rasa.

Untuk beberapa saat, Sari berdiri diam. Ia sudah berkali-kali menghadapi masa sulit bersama keluarganya, tetapi setiap kali melihat dapur yang hampir kosong, perasaan cemas itu selalu datang kembali. Sebagai seorang ibu, tidak ada yang lebih menyakitkan daripada memikirkan bagaimana menyediakan makanan untuk keluarganya ketika uang di dompet hampir habis.

Ia membuka dompet lusuh yang disimpan di dalam lemari plastik. Di dalamnya hanya terdapat dua lembar uang dua ribuan dan beberapa keping koin. Jumlah itu bahkan tidak cukup untuk membeli kebutuhan pokok sehari.

Sari memejamkan mata. Ia berusaha menenangkan diri agar tidak larut dalam kesedihan. Ia tahu bahwa jika dirinya menyerah, suasana rumah akan menjadi semakin berat. Karena itu, ia memilih menguatkan diri, meskipun hatinya sedang dipenuhi kekhawatiran.

Ketika Raka bangun dan berjalan menuju dapur, ia mendapati ibunya sedang duduk termenung di depan meja kecil.

"Ibu belum masak?" tanyanya.

Sari tersenyum tipis. "Sebentar lagi."

Raka tidak langsung menjawab. Ia memperhatikan wajah ibunya yang terlihat lebih lelah dibanding biasanya. Garis-garis halus di sekitar mata wanita itu tampak semakin jelas. Meski masih berusaha tersenyum, Raka tahu bahwa ibunya sedang memikirkan sesuatu.

"Semuanya baik-baik saja, Bu?" tanyanya hati-hati.

"Baik-baik saja," jawab Sari cepat.

Namun Raka tahu bahwa jawaban itu tidak sepenuhnya benar.

Menjelang siang, ketika anggota keluarga lainnya sedang beraktivitas, Sari mulai membersihkan lemari tua yang berada di dekat tempat tidur. Ia membuka satu per satu laci yang sudah lama tidak disentuh. Di bagian paling bawah, tangannya menyentuh sebuah kotak kecil berwarna merah yang sedikit berdebu.

Ia mengenali kotak itu seketika.

Perlahan, ia membukanya.

Di dalamnya terdapat sebuah cincin emas tipis.

Cincin itu adalah perhiasan terakhir yang masih ia miliki. Dulu, ketika kondisi ekonomi keluarga mereka masih lebih baik, ia memiliki beberapa perhiasan lain. Namun satu per satu telah dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup, membayar biaya sekolah anak-anak, atau menutupi kekurangan saat keadaan mendesak.

Lihat selengkapnya