ALAMAT YANG SELALU PINDAH

brielle athalia
Chapter #6

SURAT PEMECATAN

Empat hari. Itulah waktu yang terus berputar di dalam kepala Dinda sejak ia mengetahui batas akhir pembayaran biaya ujian. Setiap pagi ia berangkat ke sekolah dengan harapan akan ada kabar baik ketika pulang nanti. Namun hingga hari ketiga berlalu, keadaan di rumah masih tetap sama. Tidak ada pekerjaan baru untuk Ayah, tidak ada tambahan penghasilan yang berarti, dan tidak ada tanda-tanda bahwa masalah yang mereka hadapi akan segera berakhir.

Sementara itu, Budi Pratama—ayah mereka—terus berusaha mencari pekerjaan ke berbagai tempat. Setiap pagi ia berangkat sebelum matahari terbit dan pulang ketika langit mulai gelap. Ia mendatangi pabrik-pabrik, gudang, toko bangunan, hingga perusahaan jasa yang pernah menjadi rekan kerja lamanya. Berkas lamaran yang dibawanya semakin menipis, tetapi jawaban yang diterimanya selalu sama.

"Maaf, saat ini kami belum membutuhkan karyawan."

Kalimat itu begitu sering ia dengar hingga terasa seperti bagian dari kehidupannya sehari-hari.

Siang itu, matahari bersinar terik ketika Budi duduk di sebuah halte kecil di pinggir jalan. Kemeja yang dikenakannya telah basah oleh keringat. Di tangannya terdapat map cokelat berisi dokumen lamaran kerja yang sudah mulai kusut. Ia memandangi kendaraan yang lalu lalang tanpa benar-benar melihatnya. Kepalanya dipenuhi berbagai pikiran yang saling bertabrakan.

Ia memikirkan uang sewa kontrakan yang belum dibayar. Ia memikirkan biaya ujian Dinda yang masih tertunggak. Ia memikirkan utang yang setiap bulan semakin bertambah karena bunga dan denda keterlambatan. Namun yang paling menyakitkan adalah memikirkan keluarganya yang terus berusaha tersenyum meskipun hidup mereka semakin sulit.

Budi selalu percaya bahwa selama seseorang mau bekerja keras, ia akan menemukan jalan keluar. Keyakinan itu yang selama ini membuatnya bertahan. Akan tetapi, setelah berbulan-bulan mencari pekerjaan tanpa hasil, keyakinan tersebut mulai terkikis sedikit demi sedikit.

Ketika ponselnya bergetar, ia segera mengambilnya. Nama mantan atasannya muncul di layar. Jantungnya langsung berdegup lebih cepat. Beberapa minggu sebelumnya, ia sempat mengajukan permohonan untuk kembali bekerja di perusahaan lama tempatnya bekerja selama hampir lima belas tahun. Meski peluangnya kecil, ia tetap berharap ada kesempatan kedua.

Dengan tangan sedikit gemetar, ia menerima panggilan itu.

"Halo, Pak Arman."

"Halo, Pak Budi. Maaf mengganggu."

"Tidak apa-apa, Pak."

Beberapa detik berikutnya terasa sangat panjang.

"Saya menelepon untuk menyampaikan hasil keputusan manajemen."

Budi menegakkan punggungnya. Harapan yang selama ini ia simpan kembali muncul meski hanya sedikit.

"Bagaimana, Pak?"

Suara di seberang sana terdengar berat.

"Maaf, Pak Budi. Perusahaan tidak dapat menerima kembali karyawan yang sebelumnya terkena pengurangan tenaga kerja."

Kalimat itu terdengar sederhana.

Namun bagi Budi, rasanya seperti dunia yang runtuh dalam sekejap.

Lihat selengkapnya