ALAMAT YANG SELALU PINDAH

brielle athalia
Chapter #7

UTANG YANG MENGGUNUNG

Sejak kabar penolakan dari perusahaan lamanya, Budi berusaha menjalani hari-harinya seperti biasa. Ia tetap bangun sebelum matahari terbit, tetap berangkat mencari pekerjaan, dan tetap berusaha menunjukkan wajah tegar di hadapan keluarganya. Namun jauh di dalam hati, ia tahu bahwa keadaan mereka sedang berada di titik yang semakin mengkhawatirkan.

Jika sebelumnya ia masih memiliki harapan untuk kembali bekerja di tempat lama, kini harapan itu telah benar-benar tertutup. Yang tersisa hanyalah berbagai tagihan yang terus berdatangan tanpa mengenal belas kasihan.

Pagi itu suasana rumah masih sepi ketika suara deru sepeda motor berhenti di depan kontrakan. Sari yang sedang menyapu lantai langsung menghentikan pekerjaannya. Entah mengapa, beberapa bulan terakhir setiap kali ada orang asing datang ke rumah mereka, perasaan tidak nyaman selalu muncul dalam hatinya.

Ia mengintip dari balik jendela.

Dua orang pria berdiri di depan pagar sederhana yang terbuat dari kawat. Salah seorang di antaranya memegang map hitam, sementara yang lain tampak sibuk memeriksa sesuatu di telepon genggamnya.

"Permisi, Pak Budi ada di rumah?" tanya salah seorang dari mereka.

Sari menelan ludah sebelum menjawab.

"Beliau belum pulang."

Pria itu mengangguk pelan.

"Kami dari pihak penagihan. Tolong sampaikan kepada Pak Budi agar segera menghubungi nomor yang tertera di surat ini."

Sari menerima amplop yang diberikan kepadanya dengan tangan sedikit gemetar. Setelah kedua pria itu pergi, ia menutup pintu perlahan lalu duduk di kursi plastik yang berada di ruang tengah. Perasaannya tidak tenang.

Beberapa bulan terakhir, surat-surat serupa sudah beberapa kali datang. Awalnya hanya satu atau dua lembar. Namun semakin lama jumlahnya semakin banyak. Sebagian berasal dari pinjaman bank, sebagian lagi dari lembaga pembiayaan tempat Budi pernah meminjam uang ketika keadaan ekonomi keluarga mulai memburuk.

Saat itu Budi tidak memiliki banyak pilihan. Penghasilannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan membayar biaya pendidikan anak-anak. Ia terpaksa mengambil pinjaman dengan harapan dapat melunasinya ketika kondisi keuangan kembali membaik. Sayangnya, keadaan justru berjalan sebaliknya.

Kini utang tersebut tumbuh seperti bayangan yang terus mengikuti ke mana pun mereka pergi.

Menjelang sore, Budi akhirnya pulang. Wajahnya terlihat lelah setelah seharian berkeliling mencari pekerjaan yang belum tentu ada. Begitu masuk ke dalam rumah, ia langsung mengetahui bahwa sesuatu telah terjadi.

Sari menyerahkan amplop yang diterimanya pagi tadi tanpa banyak bicara.

Budi membukanya perlahan.

Ia membaca isinya dengan wajah datar, tetapi Raka yang memperhatikannya dari sudut ruangan dapat melihat perubahan kecil pada sorot matanya.

Pria itu menghela napas panjang lalu meletakkan surat tersebut di atas meja.

"Mereka datang lagi?" tanyanya.

Sari mengangguk.

"Dua orang."

Untuk beberapa saat tidak ada yang berbicara.

Suasana rumah terasa semakin sesak, seolah dinding-dinding sempit kontrakan itu ikut merasakan beban yang sedang mereka tanggung.

"Ayah, sebenarnya utang kita berapa?" tanya Raka hati-hati.

Pertanyaan itu membuat Budi terdiam.

Selama ini ia selalu berusaha melindungi anak-anaknya dari persoalan orang dewasa. Namun semakin lama, semakin sulit baginya menyembunyikan kenyataan.

"Lebih banyak daripada yang seharusnya," jawabnya pelan.

Lihat selengkapnya