ALAMAT YANG SELALU PINDAH

brielle athalia
Chapter #8

ANCAMAN PEMILIK KONTRAKAN

Pagi itu suasana kontrakan terasa lebih sunyi dari biasanya. Hujan yang semalaman turun meninggalkan genangan kecil di depan rumah. Udara masih lembap, dan beberapa bagian lantai tampak basah akibat rembesan air yang masuk melalui celah-celah dinding. Meski demikian, kehidupan harus tetap berjalan seperti biasa.

Sari sedang menyapu lantai ketika pandangannya tertuju pada kalender yang tergantung di dinding. Ia menghitung tanggal dengan hati-hati, lalu menarik napas panjang. Sudah hampir dua bulan mereka menunggak pembayaran sewa kontrakan.

Selama ini pemilik kontrakan masih memberi kelonggaran. Namun Sari tahu bahwa kesabaran seseorang pasti memiliki batas. Cepat atau lambat, masalah itu akan kembali datang menghampiri mereka.

Perasaan tidak tenang itu ternyata bukan sekadar firasat.

Menjelang siang, terdengar suara ketukan di pintu depan.

Tok.

Tok.

Tok.

Ketukan itu terdengar cukup keras hingga membuat Dinda yang sedang belajar langsung menoleh. Sari menghentikan pekerjaannya dan berjalan menuju pintu.

Ketika pintu dibuka, berdirilah seorang pria paruh baya dengan wajah serius. Ia adalah Pak Hadi, pemilik kontrakan yang mereka tempati selama hampir satu tahun terakhir.

"Assalamu'alaikum," sapanya singkat.

"Wa'alaikumussalam, Pak Hadi. Silakan masuk."

Pak Hadi menggeleng pelan.

"Saya tidak lama."

Nada suaranya membuat Sari langsung memahami tujuan kedatangannya.

Untuk sesaat suasana menjadi canggung. Angin siang yang bertiup pelan terasa tidak mampu mengurangi ketegangan yang mulai muncul.

"Saya sebenarnya sudah beberapa kali memberi waktu tambahan," kata Pak Hadi dengan nada hati-hati. "Tapi sampai sekarang pembayaran sewanya belum juga ada."

Sari menundukkan kepala.

"Saya minta maaf, Pak."

Pak Hadi menghela napas.

"Saya mengerti keadaan keluarga Ibu sedang sulit. Saya juga tidak ingin memberatkan. Tapi saya punya kewajiban yang harus saya jalankan."

Kalimat itu diucapkan tanpa kemarahan. Justru itulah yang membuat hati Sari semakin terasa berat. Ia tahu Pak Hadi bukan orang yang kejam. Selama ini pria itu cukup sabar menghadapi keterlambatan pembayaran yang mereka alami.

"Suami saya masih berusaha mencari pekerjaan, Pak."

"Saya paham."

"Sekarang kami sedang berusaha mengumpulkan uang."

Pak Hadi terdiam beberapa saat sebelum kembali berbicara.

"Saya bisa memberi waktu sedikit lagi. Tapi saya harap ada kepastian."

Sari mengangguk perlahan.

"Terima kasih, Pak."

Meski demikian, setelah Pak Hadi pergi, rasa cemas yang sebelumnya hanya samar kini berubah menjadi kenyataan yang jelas terlihat di depan mata.

Ketika Budi pulang sore harinya, Sari langsung menceritakan kedatangan pemilik kontrakan tersebut.

Budi mendengarkan tanpa menyela.

Wajahnya tampak semakin muram setelah mendengar seluruh cerita.

"Aku sudah menduga ini akan terjadi," katanya pelan.

Lihat selengkapnya