Hari yang selama ini berusaha mereka hindari akhirnya tiba juga. Pagi itu suasana kontrakan terasa lebih muram dari biasanya. Langit masih dipenuhi awan kelabu sisa hujan semalam, sementara udara lembap membuat ruangan sempit yang mereka tempati terasa semakin pengap. Sari sedang menyiapkan sarapan sederhana ketika suara sepeda motor berhenti tepat di depan rumah. Suara tersebut sebenarnya tidak berbeda dengan hari-hari lain, tetapi entah mengapa kali ini membuat jantungnya berdegup lebih cepat.
Perasaan tidak nyaman yang selama beberapa minggu terakhir terus menghantuinya mendadak kembali muncul. Dengan langkah pelan ia mendekati jendela dan mengintip ke luar. Di depan pagar berdiri Pak Hadi, pemilik kontrakan yang mereka tempati. Pria paruh baya itu tampak ditemani seseorang yang tidak dikenalnya. Wajahnya terlihat serius dan tidak menunjukkan senyum ramah seperti biasanya.
Sari menarik napas panjang sebelum membuka pintu.
"Assalamu'alaikum, Pak."
"Wa'alaikumussalam."
Nada suara Pak Hadi terdengar datar. Tidak kasar, tetapi cukup untuk membuat Sari menyadari bahwa kedatangannya kali ini membawa kabar yang tidak menyenangkan.
Setelah berbasa-basi beberapa saat, Pak Hadi langsung menyampaikan maksud kedatangannya. Ia menjelaskan bahwa tunggakan sewa rumah sudah berjalan hampir tiga bulan dan dirinya tidak bisa terus memberikan kelonggaran. Selama ini ia memang berusaha memahami keadaan keluarga Budi, tetapi pada akhirnya ia juga memiliki kewajiban dan kebutuhan yang harus dipenuhi.
Sari hanya mampu menundukkan kepala sambil menggenggam ujung bajunya erat-erat. Tidak ada alasan yang bisa ia sampaikan. Semua penjelasan sudah pernah diberikan sebelumnya. Mereka memang sedang kesulitan. Budi masih belum mendapatkan pekerjaan tetap, sementara kebutuhan hidup sehari-hari terus berjalan tanpa bisa ditunda.