Perpindahan itu kembali terjadi dengan cara yang sama seperti sebelumnya. Tidak ada perayaan, tidak ada ucapan selamat datang, dan tidak ada perasaan antusias seperti yang biasanya menyertai kepindahan ke tempat baru. Yang ada hanyalah beberapa kardus bekas, tas-tas lusuh yang diisi pakaian, serta wajah-wajah lelah yang berusaha menerima kenyataan.
Pagi itu, sebuah mobil bak terbuka yang disewa dengan biaya murah berhenti di depan kontrakan lama mereka. Barang-barang yang tidak seberapa banyak itu diangkat satu per satu. Kasur gulung, lemari plastik, rak piring sederhana, beberapa peralatan dapur, serta tumpukan buku milik Dinda menjadi saksi betapa sederhana kehidupan yang mereka jalani.
Raka membantu mengangkat kardus terakhir ketika pandangannya menyapu ruangan yang kini kosong. Untuk beberapa saat ia hanya berdiri di ambang pintu, memandangi rumah yang selama hampir satu tahun menjadi tempat mereka berteduh. Rumah itu memang jauh dari kata layak. Atapnya bocor, dindingnya lapuk, dan ruangannya terlalu sempit. Namun seperti tempat-tempat sebelumnya, rumah itu tetap meninggalkan jejak kenangan yang sulit dihapus begitu saja.
"Raka, ayo berangkat," panggil Budi dari luar.
Raka mengangguk lalu menutup pintu untuk terakhir kalinya. Suara kunci yang berputar di lubang gembok terdengar seperti akhir dari sebuah babak kehidupan yang kembali gagal mereka pertahankan.
Perjalanan menuju kontrakan baru memakan waktu hampir tiga puluh menit. Sepanjang jalan tidak banyak percakapan yang terjadi. Dinda duduk diam sambil memeluk tas sekolahnya. Sari sesekali menatap keluar jendela dengan pikiran yang entah berada di mana. Sementara Budi tampak sibuk memikirkan berbagai hal yang belum sempat ia ungkapkan kepada keluarganya.
Kontrakan baru itu dipilih bukan karena mereka menyukainya, melainkan karena hanya itu yang mampu mereka bayar. Setelah berhari-hari mencari, Budi menyadari bahwa pilihan mereka sangat terbatas. Harga sewa rumah terus meningkat, sedangkan kondisi keuangan mereka justru semakin memburuk. Pada akhirnya, ia terpaksa menerima sebuah rumah petak kecil di ujung gang sempit yang jarang dilalui kendaraan.
Ketika kendaraan yang mereka tumpangi berhenti, Dinda menjadi orang pertama yang melihat bangunan tersebut. Wajahnya langsung berubah.
"Itu rumahnya?" tanyanya pelan.
Tidak ada yang segera menjawab.
Di hadapan mereka berdiri sebuah rumah sederhana yang tampak jauh lebih tua daripada kontrakan sebelumnya. Dinding bagian depannya terbuat dari papan kayu yang mulai menghitam dimakan usia. Cat yang pernah melapisinya hampir seluruhnya mengelupas. Atap seng terlihat miring di beberapa bagian, sementara halaman depannya hanya berupa tanah yang dipenuhi rumput liar.
Budi menarik napas panjang sebelum turun dari kendaraan.
"Iya. Untuk sementara kita tinggal di sini."
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi mengandung begitu banyak rasa bersalah yang berusaha ia sembunyikan.
Mereka mulai menurunkan barang-barang. Semakin lama berada di sana, semakin jelas berbagai kekurangan rumah tersebut. Ukurannya bahkan lebih kecil dibanding kontrakan sebelumnya. Jendelanya hanya dua buah dan keduanya sulit dibuka karena engsel yang berkarat. Lantainya sebagian masih berupa semen kasar yang retak di beberapa tempat. Kamar mandi terletak di luar bangunan utama dan harus digunakan bersama dua keluarga lain yang tinggal di sekitar rumah tersebut.
Dinda berdiri di tengah ruangan sambil memandangi sekeliling. Ia tidak mengatakan apa-apa, tetapi ekspresinya cukup menjelaskan apa yang dirasakannya.
Raka berjalan mendekatinya.