ALAMAT YANG SELALU PINDAH

brielle athalia
Chapter #11

LANGKAH PERTAMA UNTUK BERUBAH

Hari-hari pertama di kontrakan baru tidak mudah dilalui oleh keluarga Pratama. Rumah yang mereka tempati memang memberikan tempat berteduh, tetapi tidak mampu menghadirkan rasa nyaman seperti yang mereka harapkan. Bangunannya sudah tua, dinding kayunya mulai lapuk di beberapa bagian, dan atap seng yang berkarat sering mengeluarkan suara berisik ketika diterpa angin. Pada malam hari, hawa dingin masuk melalui celah-celah papan yang tidak rapat, membuat mereka harus tidur berdekatan agar tetap merasa hangat. Namun di tengah segala kekurangan itu, mereka berusaha menjalani kehidupan seperti biasa.

Sari kembali menerima pekerjaan mencuci pakaian milik beberapa tetangga. Upah yang diterimanya memang tidak seberapa, tetapi cukup membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Setiap pagi ia bangun lebih awal untuk menyelesaikan pekerjaan rumah sebelum mulai mencuci. Tangannya yang dulu halus kini terlihat kasar dan kemerahan akibat terlalu sering bersentuhan dengan deterjen dan air. Meski demikian, ia tidak pernah mengeluh di hadapan anak-anaknya. Ia selalu berusaha menunjukkan senyum, seolah semuanya baik-baik saja.

Sementara itu, Budi masih terus mencari pekerjaan. Hampir setiap hari ia keluar rumah dengan membawa map berisi dokumen lamaran yang mulai kusut karena terlalu sering dibawa ke sana kemari. Ia mendatangi berbagai tempat, mulai dari toko bangunan, gudang distribusi, hingga perusahaan-perusahaan kecil yang mungkin membutuhkan tenaga kerja tambahan. Sayangnya, hasil yang diperoleh selalu sama. Beberapa tempat menolak secara halus, sementara yang lain bahkan tidak memberikan kesempatan untuk wawancara. Penolakan demi penolakan perlahan mengikis kepercayaan dirinya, meskipun ia berusaha menyembunyikan hal itu dari keluarganya.

Raka memperhatikan semua yang terjadi dengan perasaan yang semakin tidak tenang. Sejak mereka pindah ke kontrakan baru, ia semakin sering memikirkan masa depan keluarganya. Bayangan tentang kardus-kardus yang harus kembali dikemas dan rumah yang harus ditinggalkan terus berputar di dalam kepalanya. Ia mulai menyadari bahwa kehidupan mereka tidak akan berubah jika hanya menunggu keadaan membaik dengan sendirinya.

Suatu pagi, ketika sedang duduk di depan rumah, Raka memperhatikan aktivitas warga sekitar. Beberapa orang berangkat bekerja dengan tergesa-gesa, sementara pedagang mulai membuka lapak mereka di sepanjang jalan. Di seberang gang, ia melihat seorang pemuda yang usianya tidak jauh berbeda dengannya sedang membantu menurunkan barang dari sebuah truk pengangkut. Keringat membasahi bajunya, tetapi wajahnya terlihat penuh semangat.

Pemandangan sederhana itu menimbulkan sebuah pemikiran yang terus mengganggunya sepanjang hari.

Jika orang lain bisa bekerja untuk membantu keluarganya, mengapa dirinya tidak?

Ia memang belum memiliki pengalaman kerja. Ia juga tidak mempunyai keterampilan khusus yang dapat dibanggakan. Namun setidaknya ia masih memiliki tenaga, kemauan, dan tekad untuk berusaha. Semakin lama memikirkannya, semakin kuat keinginannya untuk ikut membantu meringankan beban keluarga.

Malam harinya, ketika mereka berkumpul untuk makan malam sederhana, Raka akhirnya mengutarakan apa yang selama ini dipendamnya.

"Ayah, aku ingin mencari pekerjaan."

Ucapan itu membuat suasana meja makan mendadak hening. Budi yang sedang menyendok nasi menghentikan gerakannya. Sari menatap putranya dengan ekspresi terkejut, sementara Dinda langsung mengalihkan pandangan dari piringnya.

Lihat selengkapnya