Pagi itu, Raka terbangun lebih awal daripada biasanya. Bahkan sebelum suara azan Subuh terdengar dari musala kecil di ujung gang, matanya sudah terbuka. Ia duduk di tepi kasur tipis yang dibaginya dengan Ayah, lalu memandangi ruangan sempit yang masih gelap. Di sudut rumah, Ibunya masih tertidur setelah semalaman menyelesaikan cucian milik tetangga. Dinda juga masih terlelap sambil memeluk buku pelajaran yang semalam digunakannya untuk belajar.
Untuk beberapa saat, Raka hanya duduk diam. Perasaannya bercampur aduk antara gugup, bersemangat, dan khawatir. Hari itu adalah hari pertamanya bekerja di warung makan milik Pak Joko. Meskipun pekerjaan tersebut hanya bersifat percobaan, ia menganggapnya sebagai kesempatan yang sangat berharga. Setelah sekian lama hanya menyaksikan orang tuanya berjuang menghadapi kesulitan hidup, akhirnya ia memiliki kesempatan untuk ikut membantu.
Setelah menunaikan salat Subuh, Raka segera bersiap. Ia mengenakan kemeja paling rapi yang dimilikinya meskipun warnanya sudah sedikit pudar karena terlalu sering dicuci. Sebelum berangkat, ia membantu Ibunya menimba air dari sumur umum yang berada tidak jauh dari rumah. Sari yang melihat putranya tampak lebih bersemangat dari biasanya hanya tersenyum kecil.
"Hati-hati di jalan, Nak," ucapnya sambil merapikan kerah baju Raka.
Raka mengangguk.
"Iya, Bu."
Sari memandangi wajah putranya beberapa saat. Dalam hati, ia merasa bangga sekaligus terharu. Anak yang dulu selalu berlari-lari di gang sambil bermain layang-layang kini mulai memasuki dunia kerja. Keadaan memang memaksanya tumbuh lebih cepat, tetapi Sari percaya bahwa pengalaman itu akan membentuknya menjadi pribadi yang kuat.
Warung makan Pak Joko terletak di pinggir jalan yang cukup ramai. Ketika Raka tiba, beberapa karyawan sudah mulai bekerja. Ada yang menata meja, ada yang membersihkan lantai, dan ada pula yang membantu menyiapkan bahan masakan di dapur belakang. Aroma bawang goreng dan rempah-rempah yang sedang dimasak memenuhi udara, membuat suasana warung terasa hangat meskipun pagi masih sangat muda.
Pak Joko menyambut kedatangannya dengan senyum ramah.
"Kamu datang tepat waktu."
Raka mengangguk sopan.
"Saya tidak ingin terlambat, Pak."
"Itu bagus. Orang yang menghargai waktu biasanya lebih mudah dipercaya."
Kalimat sederhana itu langsung tertanam di benak Raka.
Pekerjaan pertamanya dimulai dengan membersihkan meja dan menyapu area warung. Meskipun terlihat sederhana, pekerjaan tersebut tidak semudah yang dibayangkannya. Dalam waktu kurang dari satu jam, punggungnya mulai terasa pegal. Namun ia tetap bekerja dengan sungguh-sungguh. Setiap kali merasa lelah, ia teringat wajah Ayah yang setiap hari berkeliling mencari pekerjaan tanpa pernah mengeluh di hadapan keluarga.
Menjelang siang, jumlah pelanggan semakin banyak. Warung yang semula tenang berubah menjadi ramai. Raka harus bergerak cepat mengantarkan pesanan, membersihkan meja yang kosong, serta membantu mencuci piring yang terus menumpuk. Keringat mengalir deras membasahi bajunya, tetapi ia tidak berhenti bekerja.
Beberapa kali ia melakukan kesalahan kecil. Pernah ia salah mengantarkan pesanan ke meja pelanggan lain. Pernah pula ia hampir menjatuhkan gelas karena terlalu terburu-buru. Namun setiap kali itu terjadi, Pak Joko tidak memarahinya. Sebaliknya, pria tersebut memberikan arahan dengan sabar.
"Kalau bekerja, jangan hanya cepat. Kamu juga harus teliti," nasihatnya.