ALAMAT YANG SELALU PINDAH

brielle athalia
Chapter #13

UPAH PERTAMA

Minggu pertama bekerja di warung makan milik Pak Joko menjadi pengalaman yang tidak pernah dilupakan oleh Raka. Setiap hari ia berangkat sejak pagi dan pulang ketika langit mulai gelap. Tubuhnya sering terasa lelah, telapak tangannya mulai kasar, dan kakinya pegal karena harus berdiri selama berjam-jam. Namun di balik semua itu, ada kepuasan yang sulit dijelaskan. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa benar-benar ikut berjuang bersama keluarganya.

Pekerjaan di warung ternyata tidak semudah yang dibayangkannya. Selain mengantarkan pesanan dan membersihkan meja, ia juga harus membantu mencuci piring, menyiapkan bahan makanan, serta memastikan warung tetap bersih meskipun pelanggan datang silih berganti. Beberapa kali ia melakukan kesalahan kecil yang membuatnya merasa malu. Pernah suatu hari ia salah menghitung pesanan sehingga pelanggan harus menunggu lebih lama. Pada kesempatan lain, ia menjatuhkan sendok hingga menimbulkan suara keras yang membuat seluruh pengunjung menoleh ke arahnya.

Namun setiap kali melakukan kesalahan, Pak Joko tidak pernah memarahinya di depan orang lain. Pria itu selalu memberikan nasihat dengan tenang dan mengajarinya cara bekerja yang lebih baik. Sikap tersebut membuat Raka semakin menghormatinya.

"Semua orang pernah melakukan kesalahan," kata Pak Joko suatu sore. "Yang penting bukan seberapa sering kamu jatuh, tetapi seberapa cepat kamu belajar untuk bangkit."

Kalimat itu terus teringat dalam pikiran Raka. Ia mulai memahami bahwa bekerja bukan hanya soal mendapatkan uang, tetapi juga tentang belajar menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab.

Sementara itu, keadaan di rumah masih belum banyak berubah. Sari tetap menerima pekerjaan mencuci pakaian dari tetangga sekitar. Setiap pagi ia mengangkat ember-ember besar berisi cucian yang beratnya hampir melebihi tenaganya sendiri. Meski tubuhnya sering terasa sakit, ia tetap bekerja karena tidak ingin menambah beban pikiran suaminya.

Budi juga belum mendapatkan pekerjaan tetap. Sesekali ia memperoleh penghasilan dari membantu mengangkat barang di pasar atau menjadi buruh harian ketika ada proyek kecil di sekitar kota. Namun pekerjaan tersebut tidak selalu tersedia. Ada hari-hari ketika ia pulang membawa sedikit uang, tetapi ada pula hari ketika ia kembali ke rumah dengan tangan kosong.

Meski begitu, suasana keluarga perlahan mulai berubah. Mereka tidak lagi menghabiskan waktu untuk meratapi kesulitan yang datang silih berganti. Sebaliknya, mereka mulai saling menguatkan dan berbagi harapan. Kehadiran penghasilan tambahan dari pekerjaan Raka memang belum mampu mengubah keadaan secara drastis, tetapi setidaknya memberikan secercah cahaya di tengah masa-masa yang sulit.

Suatu sore, tepat seminggu setelah Raka mulai bekerja, Pak Joko memanggilnya ke meja kasir sebelum warung tutup.

"Kamu sudah bekerja dengan baik selama seminggu ini," katanya sambil membuka laci penyimpanan uang.

Raka berdiri dengan perasaan sedikit gugup. Ia tidak mengetahui apa yang akan dikatakan oleh atasannya.

Pak Joko kemudian mengambil sebuah amplop kecil berwarna cokelat dan menyerahkannya kepadanya.

"Ini upahmu."

Raka menatap amplop tersebut selama beberapa detik. Tangannya terasa kaku ketika menerimanya. Meskipun sebelumnya ia pernah diberi uang harian, kali ini terasa berbeda. Ini adalah upah pertama yang benar-benar ia peroleh setelah bekerja selama satu minggu penuh.

"Terima kasih, Pak," ucapnya dengan suara pelan.

Pak Joko tersenyum.

"Kamu pantas mendapatkannya. Terus pertahankan semangatmu."

Lihat selengkapnya