Sejak menerima upah pertamanya, semangat Raka untuk bekerja semakin besar. Ia mulai menjalani hari-harinya dengan ritme yang berbeda. Pagi hari digunakan untuk membantu pekerjaan rumah dan menemani Ibunya menyelesaikan berbagai keperluan keluarga, sedangkan siang hingga malam dihabiskan di warung makan milik Pak Joko. Meskipun tubuhnya sering terasa lelah, ia tidak pernah mengeluh. Setiap kali rasa capek mulai menguasai dirinya, ia teringat wajah Ayah dan Ibunya yang selama bertahun-tahun memikul beban hidup yang jauh lebih berat.
Perubahan kecil yang terjadi dalam keluarga mereka perlahan mulai terasa. Penghasilan dari pekerjaan Raka memang belum besar, tetapi cukup membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Setidaknya mereka tidak lagi terlalu sering kebingungan ketika harus membeli beras atau kebutuhan dapur lainnya. Bahkan sesekali Sari masih bisa menyisihkan sedikit uang untuk ditabung, meskipun jumlahnya sangat kecil.
Suatu sore, ketika sedang menghitung pengeluaran rumah tangga, Sari memperhatikan sebuah kaleng bekas biskuit yang terletak di atas lemari plastik. Kaleng itu sudah lama berada di rumah mereka dan biasanya digunakan untuk menyimpan berbagai benda yang tidak terpakai. Entah mengapa, hari itu ia mengambil kaleng tersebut, membersihkannya, lalu meletakkannya kembali di atas meja.
Ketika Dinda melihatnya, ia bertanya dengan penasaran.
"Ibu mau pakai kaleng itu untuk apa?"
Sari tersenyum kecil.
"Untuk menabung."
Dinda tampak terkejut.
"Menabung?"
"Iya. Tidak peduli berapa jumlahnya, kita harus mulai belajar menyisihkan uang."
Malam itu, ketika seluruh anggota keluarga berkumpul, Sari menunjukkan kaleng tersebut kepada mereka.
"Mulai sekarang, setiap kali kita punya uang lebih, kita masukkan ke sini."
Budi memandangi kaleng itu beberapa saat sebelum tersenyum tipis.
"Memangnya kita mau menabung untuk apa?"
Pertanyaan itu membuat suasana menjadi hening.
Sari menatap suaminya lalu menjawab dengan suara pelan.
"Untuk masa depan."
Tidak ada yang langsung berbicara.
Namun dalam hati masing-masing, mereka memahami maksud dari kalimat sederhana itu.
Selama bertahun-tahun mereka hidup berpindah-pindah kontrakan. Setiap kali merasa mulai nyaman di suatu tempat, mereka harus pergi lagi karena berbagai alasan. Terkadang karena sewa yang tidak mampu dibayar, terkadang karena keadaan yang memaksa mereka mencari tempat yang lebih murah.
Mungkin untuk pertama kalinya, mereka mulai memikirkan kemungkinan untuk mengakhiri semua itu.
Malam tersebut menjadi awal dari kebiasaan baru dalam keluarga mereka.
Setiap kali memperoleh uang lebih, sekecil apa pun jumlahnya, mereka memasukkannya ke dalam kaleng tabungan. Kadang hanya beberapa lembar uang ribuan. Kadang hanya uang kembalian dari belanja. Namun bagi mereka, nilai sebenarnya bukan terletak pada jumlah uang yang disimpan, melainkan pada harapan yang menyertainya.
Hari-hari berikutnya berlalu dengan cukup baik. Raka semakin mahir menjalankan pekerjaannya di warung. Ia sudah hafal kebiasaan pelanggan tetap dan mulai mampu bekerja lebih cepat tanpa melakukan banyak kesalahan. Pak Joko yang memperhatikan perkembangan tersebut merasa puas.
"Kamu belajar dengan cepat," katanya suatu hari.