Alas Kelam

Langit Berawan
Chapter #1

BAB 1: TERBANGUN DARI NERAKA

Jeritan itu tidak pernah benar-benar lolos dari tenggorokanku. Aku hanya tersedak oleh udaraku sendiri, sebuah lolongan senyap yang tertahan di pangkal lidah ketika kelopak mataku dipaksa terbuka lebar. Kesadaran menyentakku kembali ke atas kasur busa yang tipis ini, namun tubuhku menolak percaya bahwa aku telah aman. Saraf-sarafku masih mengirimkan sinyal rasa sakit yang teramat nyata, seolah-olah bisa beracun yang menyembur dari moncong ular kobra raksasa itu benar-benar baru saja melumerkan kulit wajahku hingga ke tulang rahang. Aku menyentuh pipiku dengan jemari yang gemetar hebat. Basah. Cairan itu hangat, dan untuk beberapa detik yang mengerikan, aku sempat mengira itu adalah lelehan dagingku sendiri atau rembesan nanah akibat udara Alas Kelam yang membakar seribu tujuh ratus dua puluh satu kali lebih panas dari bumi. Namun, ketika jemariku mencium bau asin yang tidak asing, aku tahu itu hanyalah air mata yang keluar bersama peluh dingin.

Aku menatap langit-langit kamar yang gelap gulita. Hanya ada seberkas cahaya remang dari lampu jalan yang menembus celah jendela. Aku berusaha mengatur napas yang naik turun seperti tempo pompa rusak, menghirup udara malam dalam-dalam untuk mengusir bau busuk sungai darah dan nanah yang rasanya masih menyangkut di dinding kerongkonganku. Rasa nyeri di dadaku belum juga hilang. Di dalam mimpi yang baru saja mengoyak tidurku, seekor ular sanca berkepala kobra dengan ukuran dua puluh satu kali tubuhku telah melilitku hingga seluruh rusukku patah berderak. Suara retakan itu, bunyi jepitan daging yang digilas, bahkan sensasi gurih krispi saat tubuh manusia dikunyah oleh sepasang kalajengking raksasa, semuanya masih bergema dengan konstan di dalam kepalaku. Ini bukan sekadar bunga tidur. Aku tahu perbedaan antara mimpi akibat kelelahan dan sebuah nubuatan kutukan yang dihantamkan langsung ke pusat waras iku. Siksaan di Alas Kelam itu terlalu matematis, terlalu detail untuk sebuah ketidaksengajaan bawah sadar.

Aku melirik jam dinding digital kecil di atas meja. Angka merah di sana menunjukkan pukul satu pagi. Di luar sana, bulan November sedang menunjukkan watak aslinya. Hujan baru saja reda, meninggalkan sisa-sisa hawa lembap yang menusuk pori-pori. Angin Majalengka yang biasanya terkenal kering dan menderu kencang melewati celah bukit kini mulai mereda, menyisakan embun yang tebal dan dingin yang perlahan menempel di kaca jendela. Kontras yang luar biasa ini membuat tubuhku menggigil seketika; kulitku masih terasa membara akibat sisa panggang api di Alas Kelam, namun lingkungan sekitarku justru membeku oleh dinginnya malam.

Perlahan, dengan sisa tenaga yang seolah habis terkuras untuk menahan rasa sakit imajiner, aku menurunkan kakiku ke lantai semen yang dingin. Rasa dingin itu sedikit membantuku menginjak bumi realitas. Aku membutuhkan air. Tenggorokanku sekering padang pasir yang kulihat dalam siksaan tadi. Dengan langkah yang kuseret pelan agar tidak menimbulkan suara, aku membuka pintu kamar yang berderit halus.

Langkahku langsung terhenti begitu kakiku melewati ambang pintu ruang tamu. Pemandangan di depanku adalah sebuah ironi yang nyata. Di atas lantai yang dilapisi tikar plastik dan beberapa lembar kasur palembang yang dijajarkan, seluruh anggota keluargaku tidur berdesakan seperti korban pengungsian di kamp darurat. Ada ibuku yang meringkuk memeluk guling lusuh, adik perempuannya yang mendengkur halus, bibiku yang tertidur dengan posisi telentang penuh kepasrahan, hingga keponakanku yang masih kecil yang kakinya melintang di atas perut ibunya. Mereka semua berada di sana, mencari perlindungan dalam kedekatan fisik yang dipaksakan.

Sudah lima hari semenjak ayahku meninggal dunia, dan sudah lima hari pula ritual tidur bersama ini digelar di ruang tamu. Ini adalah sebuah tradisi tak tertulis yang sangat khas dalam silsilah keluarga besarku. Sebuah aturan turun-temurun yang otomatis aktif setiap kali ada kematian yang menjemput salah satu pilar keluarga. Aku masih ingat betul ketika kakekku wafat sepuluh tahun lalu, dan ketika pamanku menyusul beberapa tahun setelahnya; ruang tamu ini akan berubah fungsi menjadi aula pengungsian selama tujuh hari berturut-turut. Logikanya sederhana namun sarat mistis: mereka percaya bahwa roh orang yang baru meninggal belum benar-benar pergi meninggalkan rumah sebelum hari ketujuh. Roh itu masih bergentayangan di sudut-sudut sunyi, bergerak di antara koridor, atau sesekali berdiri di depan pintu kamar karena rasa rindu yang belum tuntas atau keinginan purba untuk kembali hidup bersama mereka yang bernyawa.

Ketakutan itulah yang mendorong mereka menggelar kasur di ruang tamu, saling menempelkan punggung, membiarkan televisi menyala tanpa suara hanya untuk mengusir sunyi. Bagi anggota keluarga perempuan, toilet yang terletak jauh di bagian belakang rumah—terisolasi oleh halaman kecil dan berbau lembap—adalah tempat yang haram dikunjungi sendirian setelah tengah malam. Mereka takut jika saat membuka pintu, sesosok bayangan yang tidak asing sedang berdiri di sana dengan tatapan kosong. Maka dari itu, ruang tamu menjadi benteng pertahanan terakhir. Semasa aku masih kecil, momen seperti ini justru menjadi sesuatu yang kutunggu dengan perasaan hangat yang aneh. Di tengah kedukaan, keluarga kami akan berkumpul, menggelar tikar, dan bercerita ngalor-ngidul tentang kebaikan almarhum. Mereka akan berceloteh tak tentu arah, menyelipkan candaan kecil untuk mengusir sedih, sebelum akhirnya para perempuan akan menitikkan air mata ketika mengingat momen-momen mengharukan. Aku yang kecil selalu larut dalam kehangatan kolektif itu, merasa aman karena tahu semua orang yang kucintai berada dalam satu ruangan.

Lihat selengkapnya