Langkah kakiku yang terseret di atas lantai semen dingin membawaku makin dekat ke area dapur. Kamar mandi dan dapur rumah kami terletak di bagian paling belakang, sebuah area yang dipisahkan oleh sekat tembok tebal dari ruang tengah tempat keluargaku tidur bertumpuk. Makin jauh aku melangkah meninggalkan ruang tamu, makin pekat pula kegelapan yang menyelimuti udara. Di rumah tua ini, area belakang selalu menjadi tempat yang paling dihindari jika malam sudah melewati pukul dua belas. udaranya berbeda, seolah-olah ada penurunan suhu yang tidak wajar yang sengaja mengendap di sana, mengisolasi dapur dari kehangatan bagian rumah yang lain. Ditambah lagi dengan rintik sisa hujan November yang masih menetes pelan dari talang air di luar, menciptakan ketukan ritmis yang konstan di atas tanah basah.
Aku baru saja mengulurkan tangan ke atas meja kayu, berniat meletakkan kembali gelas kaca kosong yang baru saja kugunakan untuk meneguk air putih, ketika indra penciumanku mendadak lumpuh. Sebuah hantaman aroma yang teramat pekat, tebal, dan berlendir mendadak memenuhi rongga hidungku tanpa aba-aba. Udara yang kuhirup seketika berubah menjadi racun yang menyumbat tenggorokan.
Itu adalah bau busuk nanah yang bercampur dengan uap darah hangat yang baru keluar dari robekan daging.
Tubuhku menegang seketika di tempatku berdiri. Gelas di tanganku hampir saja terlepas jika aku tidak segera mempererat cengkeramanku. Jantungku berdetak dengan cepat,, menghantam rongga dadaku seperti godam. Bau ini bukan bau bangkai tikus yang biasa membusuk di atas plafon. Aku tahu persis jenis busuk ini. Ini adalah aroma eksklusif yang mengalir di sepanjang sungai darah dan nanah di Alas Kelam, bau yang beberapa menit lalu membuatku muntah-muntah hebat di dalam mimpi burukku. Bau dari kulit-kulit manusia yang melepuh karena hawa panggang api, yang cairannya meleleh dan menggenang menjadi satu di atas tanah gembur neraka.
Bagaimana mungkin bau dari dimensi terkutuk itu bisa menembus dinding kamarku dan mengendap di dapur ini. Apakah kewarasanku benar-benar sudah retak total hingga indra penciumanku mulai memproyeksikan trauma mimpi ke dunia nyata. Sambil menahan amukan mual yang mendesak di pangkal kerongkongan, aku menutup mulut dan hidungku menggunakan punggung tangan. Mataku yang mulai terbiasa dengan remang kegelapan bergerak liar, menyisir setiap sudut dapur yang sempit. Rasa takut yang awalnya melumpuhkan perlahan berubah menjadi rasa penasaran yang liar dan menuntut jawaban.
Jika mimpi itu adalah sebuah nubuatan tentang dosa ayahku, maka bau busuk ini adalah bukti fisik bahwa neraka yang menjemputnya sedang bocor ke rumah ini.
Aku menurunkan pandanganku, menatap ruang kosong di kolong meja makan kayu yang terletak di tengah dapur. Di sana kegelapan tampak lebih solid, seolah-olah ada sesuatu yang sengaja bersembunyi di balik kaki-kaki meja yang mulai lapuk dimakan usia. Dengan gerakan perlahan yang penuh kehati-hatian, aku menurunkan tubuhku hingga berlutut di atas lantai semen. Telapak tanganku menyentuh permukaan lantai yang dingin dan lembap, sementara mataku menyipit, berusaha menembus kepekatan di bawah sana.
Apakah ada sesuatu yang tertinggal di bawah sana. Sesuatu yang membusuk, atau mungkin rembesan zat cair yang tidak sengaja keluar dari celah lantai tanah di sudut fondasi rumah. Aku memajukan wajahku beberapa senti ke dalam kolong meja, menghirup udara di bawah sana dengan sengaja meski perutku bergolak hebat. Bau busuk itu terasa makin menyengat di titik ini, begitu hangat dan anyir, seolah-olah ada seonggok daging manusia yang baru saja dikuliti dan diletakkan tepat di depan wajahku. Namun, mataku tidak menangkap apa pun selain tumpukan kardus kosong dan beberapa botol kecap bekas yang berdebu. Kosong. Tidak ada bangkai, tidak ada genangan cairan misterius.