Malam berikutnya datang dengan udara yang jauh lebih menindih. Sejak matahari tenggelam di balik perbukitan Majalengka, semesta seolah sengaja bersekongkol untuk menciptakan panggung teror yang sempurna. Embun bulan November turun dengan intensitas yang tidak wajar, bergulung-gulung tebal serupa asap putih yang menyapu permukaan tanah dan menelan pekarangan rumah kami dalam sekejap. Udara di dalam kamar terasa begitu menggigit, jenis dingin yang tidak hanya berhenti di permukaan kulit, melainkan merayap masuk ke dalam sela-sela sendi dan membekukan sumsum tulang. Aku duduk di tepi kasur, menatap nanar ke arah daun pintu yang tertutup rapat. Kamar ini terasa seperti peti mati yang sengaja kuisi sendiri, sebuah ruang isolasi yang kupilih demi menghindari kepalsuan yang dipelihara oleh keluargaku di ruang tengah.
Sudah malam keenam. Artinya, sisa satu malam lagi sebelum ritual tidur bersama itu berakhir dan roh yang mereka takuti dianggap telah pergi selamanya ke alam sana. Namun, ketakutanku tidak sesederhana ketakutan mereka. Mereka hanya takut pada bayangan abstrak, pada mitos rindu seorang almarhum yang ingin menjenguk rumahnya. Sementara aku, aku ketakutan pada kepastian bahwa apa yang mengintai di luar sana adalah perwujudan dari dosa-dosa besar yang teramat nyata. Sisa bau busuk dari malam kemarin seolah masih tertinggal di ujung lidahku, membuat setiap helaan napasku terasa berat dan memicu rasa mual yang konstan.
Pukul dua pagi. Sunyi di dalam rumah ini begitu absolut, jenis kesunyian yang justru membuat setiap bunyi kecil terdengar berkali-kali lipat lebih nyaring. Dari balik dinding, aku bisa mendengar lamat-lamat suara napas berat keluargaku yang mendengkur halus di ruang tamu. Mereka tidur dalam ketidaktahuan yang damai, berlindung di balik asumsi bahwa ayah mereka adalah orang suci yang sedang beristirahat dengan tenang di taman surga. Kebebalan kolektif itu mendadak membuatku muak, namun rasa muak itu segera tersapu oleh sensasi aneh yang mendadak merayap di tengkukku. Bulu kudukku berdiri serempak. Ada perubahan tekanan udara yang drastis, seolah-olah sesuatu yang bervolume besar baru saja membelah kabut di luar dan menempelkan dirinya pada dinding rumah.
Didorong oleh rasa penasaran yang morbid dan sisa-sisa logikaku yang menolak untuk menyerah pada ketakutan, aku berdiri dari tempat tidur. Langkah kakiku berjingkat tanpa suara, menembus kegelapan kamarku sendiri menuju pintu yang menghubungkan langsung ke koridor samping ruang tamu. Aku membukanya sedikit, hanya menyisakan celah beberapa sentimeter agar mataku bisa mengintip ke arah ruang tamu yang remang-remang. Televisi di sudut ruangan masih menyala tanpa suara, memancarkan pendaran cahaya biru yang berkedip-kedip, memantulkan siluet tumpukan tubuh ibu, adik, dan bibiku yang mendengkur dalam damai.
Pandanganku perlahan beralih menuju jendela kaca besar yang menghadap langsung ke halaman depan. Karena perbedaan suhu yang ekstrem antara dinginnya embun November di luar dan hangatnya napas manusia di dalam ruangan, permukaan kaca itu tertutup oleh lapisan kabut putih yang tebal. Permukaan kaca itu buram, menutupi pandangan ke arah pohon mangga di pekarangan.
Namun, kabut di permukaan kaca itu tidak sepenuhnya merata. Tepat di bagian tengah jendela, ada sebuah distorsi visual. Sebuah siluet tinggi besar mendadak muncul dari balik kepekatan embun, berdiri mematung tepat di seberang kaca.
Jantungku berhenti berdetak selama satu detak penuh. Seluruh otot di tubuhku mengencang hingga terasa kaku bagai batu. Siluet itu memiliki postur yang teramat tidak asing, bentuk bahu yang tegap, tinggi badan yang mendominasi, dan lekuk kepala yang selalu kukenal sejak aku kecil. Itu adalah postur tubuh ayahku. Pria yang lima hari lalu kulihat diturunkan ke dalam liang kubur dengan kain kafan putih yang mengikat erat seluruh tubuhnya. Namun, sosok yang berdiri di balik jendela itu tidak sedang memakai kain kafan. Ia mengenakan siluet pakaian longgar, persis seperti baju koko yang sering ia gunakan saat hendak memimpin doa di masjid desa.