Pagi hari setelah malam horor di balik jendela itu tidak membawa kelegaan sedikit pun bagi jiwaku. Alih-alih mengusir sisa-sisa teror, matahari yang terbit di balik kabut tebal Majalengka justru menelanjangi kepalsuan yang makin menggila di dalam rumah ini. Hari keenam sejak kematian ayah dimulai dengan kedatangan gelombang manusia yang tidak biasa. Kerabat dekat dari luar kampung, paman, bibi dari garis keturunan ayah, hingga beberapa sepupu jauh mendadak datang membawa tas-tas kain besar dan menggelar tikar tambahan di ruang tamu. Rumah kami yang semula sudah terasa sempit kini menjelma menjadi sebuah bangsal pengungsian yang sesak, pengap, dan dipenuhi aura kecemasan yang pekat.
Mereka semua mengaku datang untuk menemani ibu dan ikut mendoakan almarhum di malam-malam terakhir ritual tujuh hari. Namun, aku bisa melihat kilat ketakutan yang primitif di sudut mata mereka yang lelah. Isu tentang desisan aneh di sekitar pekarangan rumah pada malam sebelumnya rupanya telah menyebar dari mulut ke mulut bagai api yang membakar semak kering. Mitos bahwa roh seorang tokoh besar yang baru wafat akan menunjukkan eksistensinya dengan cara yang kuat telah membuat nyali mereka ciut. Mereka ketakutan jika harus melewatkan malam sendirian di rumah masing-masing, sehingga mereka memilih untuk mengungsi ke sini, menyatukan ketakutan mereka dalam satu ruangan komunal, berlindung di balik dinding rumah yang mereka anggap suci karena pernah dihuni oleh seorang pemuka agama.
Aku hanya bisa berdiri di ambang koridor dapur, memandangi kerumunan manusia yang saling berbisik itu dengan pandangan dingin. Ruang tamu kini benar-benar mampat. Bau minyak kayu putih, aroma kopi hitam yang diseduh berulang kali untuk mengusir kantuk, berbaur menjadi satu dengan aroma keringat dari tubuh-tubuh yang saling berhimpitan. Di tengah-tengah kerumunan itu, ibuku duduk bersimpuh dengan mata yang bengkak dan merah karena terlalu banyak menangis. Tangan tuanya terus-menerus memutar butiran tasbih kayu, sementara mulutnya tiada henti melontarkan ratapan yang sarat akan puji-pujian untuk mendiang suaminya.
Ibu bercerita kepada setiap kerabat yang baru datang tentang betapa mulianya hidup yang dijalani ayah. Ia menceritakan kembali bagaimana ayah selalu bangun sepertiga malam untuk bersujud, bagaimana tutur katanya tidak pernah sekalipun melukai hati tetangga, dan bagaimana seluruh sisa umurnya dihabiskan untuk memikirkan kemaslahatan umat di desa ini. Di mata ibu, dan di mata semua orang yang manggut-manggut penuh takzim di ruangan itu, ayah bukan sekadar manusia biasa yang berpulang. Beliau adalah wali suci desa, seorang lelaki tanpa noda yang jalannya menuju surga telah dihampari oleh permadani kemuliaan.
Mendengar setiap bait pujian yang keluar dari mulut ibu, perutku rasanya diaduk-aduk oleh rasa mual yang hebat. Aku ingin berteriak di depan wajah mereka semua. Aku ingin mencengkeram bahu ibu dan memaksanya melihat lendir busuk serta wajah melumer yang semalam menempel di kaca jendela ruang tamu ini. Orang suci macam apa yang penampakannya menyerupai pesakitan neraka. Wali macam apa yang datang kembali ke rumahnya dengan membawa suara desisan ular yang mengancam kewarasan anak kandungnya sendiri.
Namun, aku hanya bisa terdiam, membisu bagai patung di sudut ruangan yang gelap. Lidahku terasa kelu, terkunci oleh beban rahasia yang teramat besar dan mengerikan. Aku tahu, jika aku mengucapkan satu patah kata saja tentang apa yang kulihat di Alas Kelam atau tentang sosok hancur di balik jendela semalam, mereka tidak akan memercayaiku. Mereka hanya akan menganggapku sebagai anak durhaka yang sedang kehilangan akal sehat karena depresi pascakematian orang tua. Standar kesempurnaan ayah yang terlalu tinggi telah membuat semua orang buta, termasuk keluargaku sendiri. Mereka telah memilih untuk menyembah ilusi, dan ilusi itu kini sedang menuntut tumbal dari balik liang kubur.