Alas Kelam

Langit Berawan
Chapter #5

BAB 5: AIR YANG BERUBAH MERAH

Malam ketujuh tiba membawa kepungan udara yang seolah hendak meremukkan dinding-dinding rumah tua ini. Ketegangan kolektif di ruang tengah telah mencapai puncaknya, di mana puluhan kerabat kini duduk berimpitan bagai kawanan ternak yang mengendus keberadaan predator di luar kandang. Di dalam kamarku yang gelap, aku bisa merasakan denyut ketakutan mereka menembus sekat-sekat kayu, berpadu dengan gema lantunan selawat yang dibaca secara repetitif, cepat, dan bergetar. Mereka sedang mengepung ketakutan mereka sendiri dengan kalimat-kalimat suci, berharap benteng gaib itu cukup kokoh untuk menahan roh ayahku yang menurut mitos akan melakukan salam perpisahan terakhir malam ini. Namun bagiku, kepalsuan di ruang tengah itu jauh lebih meneror ketimbang sunyi. Aku tidak bisa terus meringkuk di sudut kasur membiarkan kepalaku pecah oleh benturan audio selawat dari depan dan gema jeritan minta tolong ayahku yang terus berputar di dalam ingatan bawah sadarku.

Pukul sebelas malam lewat sedikit. Tubuhku terasa sangat lengket oleh peluh dingin yang keluar sejak sore, dan kepalaku berdenyut kencang akibat dehidrasi serta tekanan mental yang konstan. Aku membutuhkan kesegaran fisik untuk sekadar mempertahankan sisa-sisa kewarasanku yang kian menipis. Pikiranku mendadak menuntut sebuah ritual pembersihan yang sederhana; aku ingin mengambil air wudu. Mungkin dengan membasuh wajah, tangan, dan kepalaku menggunakan air dingin, pusaran ilusi yang merubung otakku sejak malam pertama kematian ayah bisa sedikit terurai. Aku ingin memercayai bahwa logika reasiku masih berfungsi, bahwa aku belum sepenuhnya gila.

Aku membuka pintu kamar, melangkah keluar menembus koridor samping yang remang-remang. Aku sengaja mengambil rute memutar, menghindari ruang tamu agar tidak perlu berhadapan dengan tatapan-tatapan menghakimi dari para paman yang masih terjaga memegangi buku yasin. Langkah kakiku membawaku makin jauh ke belakang, menuju bilik kamar mandi yang letaknya terisolasi di sudut paling belakang rumah, tepat di samping dapur tua yang semalam mengeluarkan aroma pembusukan Alas Kelam.

Bilik kamar mandi itu adalah ruang persegi kecil berdinding semen telanjang tanpa cat, yang permukaannya telah menghitam oleh lumut dan kelembapan bertahun-tahun. Sebuah lampu pijar kuning temaram bergantung lesu di langit-langit, bergoyang pelan ditiup angin malam yang masuk melalui celah lubang angin di bagian atas dinding. Di dalam ruangan sempit itu, hawa dingin November terasa berkali-kali lipat lebih menggigit, berpadu dengan aroma sabun batangan yang murah dan bau apak semen basah. Di tengah ruangan, sebuah bak mandi semen berukuran sedang terisi penuh oleh air yang tampak tenang, memantulkan pendaran cahaya kuning di permukaannya.

Aku melangkah mendekati keran besi yang tertanam di dinding tepat di atas bak mandi. Tanganku yang masih sedikit gemetar terjulur ke depan, memutar tuas keran itu ke arah kiri. Bunyi derit besi berkarat terdengar parau, disusul oleh suara desisan udara dari dalam pipa sebelum akhirnya air mulai memancar keluar.

Pada detik pertama, air yang keluar tampak normal. Jernih, dingin, dan memantulkan cahaya lampu dengan sempurna. Aku menyatukan kedua telapak tanganku di bawah pancuran, menampung air dingin itu dengan maksud untuk membasuh wajahku terlebih dahulu. Namun, sebelum air itu sempat menyentuh permukaan kulit mukaku, aliran air dari mulut keran mendadak tersendat. Bunyi batuk yang berat terdengar dari dalam pipa semen, seolah-olah ada sesuatu yang menyumbat jalurnya.

Lalu, cairan itu berubah.

Lihat selengkapnya