Pukul dua pagi di malam ketujuh. Angka digital di jam dinding kamarku tampak menyala merah, sewarna dengan bayangan air keran yang beberapa jam lalu melumuri jemariku di kamar mandi belakang. Hawa dingin bulan November di luar rumah seolah-olah telah membeku, menciptakan keheningan yang teramat pekat hingga detak jarum jam terdengar seperti ketukan palu hakim yang sedang menghitung sisa waktu kewarasanku. Di ruang tamu, lantunan doa dan yasinan yang sejak sore menggema dari mulut para kerabat kini telah surut, digantikan oleh kesunyian yang melelahkan. Tubuh-tubuh manusia yang berdesakan di atas tikar plastik itu telah bertumbangan satu per satu, menyerah pada kantuk dan kelelahan setelah berhari-hari memelihara sandiwara kedukaan. Mereka tidur dalam posisi saling berhimpitan, mencari rasa aman semu dari kedekatan fisik, tanpa menyadari bahwa benteng spiritual yang mereka agung-agungkan sebenarnya tidak pernah ada.
Aku melangkah keluar dari kamarku dengan sangat perlahan, berjingkat di antara remang cahaya biru televisi yang masih menyala tanpa suara di sudut ruangan. Niatku awalnya hanya ingin memastikan bahwa malam terakhir ini akan berlalu tanpa ada penampakan wajah meleleh lagi di balik kaca jendela. Namun, begitu kakiku menginjak karpet tipis di dekat tumpukan kasur, sebuah suara menghentikan gerakan tubuhku seketika.
Itu adalah suara igauan yang lirih, parau, dan datang dari arah tengah ruangan tempat ibuku berbaring.
Aku menundukkan kepala, menatap sosok ibu yang meringkuk di atas kasur palembang. Tubuh tuanya yang biasa tampak tegap kini terlihat sangat ringkih di bawah pendaran cahaya televisi yang berkedip-kedip. Napasnya naik turun dengan tempo yang sangat cepat dan tidak beraturan, seolah-olah ia sedang berlari maraton di dalam tidurnya. Kedua tangannya yang kurus mendadak terangkat ke atas, bergerak dengan sentakan-sentakan kaku yang tidak wajar menuju ke arah lehernya sendiri.
Sebelum aku sempat mencerna apa yang terjadi, jemari ibu mulai mencakar kulit lehernya dengan brutal. Kuku-kukunya yang pendek menggores permukaan kulit yang keriput, meninggalkan jalur-jalur merah yang langsung mengeluarkan rembesan darah segar dalam hitungan detik. Ia mencakar dirinya sendiri dengan kekuatan yang sangat besar, seolah-olah ada sesuatu yang sedang melilit lehernya dan ia sedang berusaha keras untuk melepaskan diri dari cekikan tak kasat mata itu. Bersamaan dengan gerakan mencakar yang histeris itu, dari balik bibirnya yang kering dan pecah-pecah, mengalir untaian kalimat yang digumamkan secara berulang-ulang dengan nada datar yang teramat dingin.
Ularnya datang menjemput. Ularnya datang menjemput. Ularnya datang menjemput.
Suara ibu tidak lagi terdengar seperti suaranya yang biasa. Nada bicaranya bergetar dengan suarai yang sangat rendah, sebuah desisan halus yang menyelinap di antara sela-sela giginya yang merapat. Mendengar kalimat itu, seluruh darah di dalam tubuhku rasanya mendadak membeku. Kata "ular" seketika mengaktifkan kembali seluruh rekaman memori mengerikan tentang Alas Kelam di dalam otakku. Ular sanca berkepala kobra berukuran dua puluh satu kali lipat tubuh manusia yang melilit ayahku hingga hancur. Makhluk yang semalam meletupkan suara desisan di balik jendela ruang tamu ini.