Kegelapan yang mengendap setelah tawa makhluk di dalam tubuh ibuku mereda terasa berkali-kali lipat lebih padat dari sebelumnya. Aku masih meringkuk di atas karpet, memeluk kepalaku sendiri di tengah-tengah kebebalan massal yang perlahan-lahan mulai terusik oleh ketegangan udara yang kian memuncak. Waktu seolah berjalan merangkak, mendekati titik paling krusial di sepertiga malam terakhir pada penghujung malam ketujuh. Lantunan selawat dan doa yang sempat terhenti kini tidak lagi sanggup dimulai kembali; lidah paman-pamanku seolah telah mendadak kelu, membeku oleh rasa ngeri spekulatif yang tidak sanggup mereka nalar dengan logika awam. Mereka mulai menyadari adanya ketidakberesan pada raga ibu yang kini terduduk kaku dengan leher berdarah, namun sebelum ada satu pun orang yang sempat melontarkan pertanyaan atau menyalakan lampu utama yang sengaja dimatikan demi kekhusyukan, semesta di luar rumah memutuskan untuk meruntuhkan seluruh sisa benteng pertahanan kami.
Tanpa ada tanda-tanda rintik hujan pendahulu, angin Majalengka mendadak bangkit dari tidur musim gugurnya dengan amukan yang teramat destruktif.
Itu bukan lagi sekadar angin malam biasa yang berdesir melewati celah perbukitan sekitarnya. Suaranya menderu-deru di angkasa serupa lolongan ribuan serigala kelaparan yang sedang berlari menuruni lereng gunung. Dari dalam rumah, kami bisa mendengar bagaimana angin itu menghantam atap seng dengan daya gedor yang luar biasa, menciptakan bunyi berderak yang bising seolah-olah seluruh kerangka atap kayu rumah tua ini hendak dicabut paksa dari kedudukannya. Pepohonan mangga di pekarangan depan bergoyang hebat, ranting-rantingnya mencakar dinding luar rumah dengan tempo yang acak dan panik, memicu ilusi visual seakan ada puluhan tangan tak kasat mata yang sedang mencoba mendobrak masuk secara paksa.
Hantaman puncaknya terjadi dalam satu hentakan kolosal yang mengguncang fondasi rumah. Pintu depan ruang tamu yang terbuat dari kayu tebal dan telah dikunci selotnya dari dalam, mendadak dihantam oleh tekanan udara yang teramat masif. Bunyi braaakkk yang memekakkan telinga bergema saat engsel besi pintu itu menyerah kalah, patah berkeping-keping hingga daun pintu terlempar terbuka paksa ke arah dalam, menghantam dinding pembatas dengan keras.
Bersamaan dengan jebolnya pintu utama, badai angin dingin dan embun November yang pekat langsung merangsek masuk, memenuhi seluruh volume ruang tamu dalam sekejap mata. Angin itu bergerak seperti pusaran tak kasat mata yang dingin, mengitari ruangan dengan kecepatan tinggi. Efeknya instan dan mematikan. Seluruh lilin-lilin besar yang dinyalakan di sudut ruangan serta beberapa lampu minyak yang sengaja dipasang sebagai penerangan cadangan mati serentak dalam satu detik yang sama. Rumah kami seketika jatuh ke dalam pelukan kegelapan yang absolut, jenis kegelapan yang begitu pekat hingga membuat jarak pandang antara telapak tangan dan wajah sendiri menjadi nol.
Dalam ruang hampa cahaya itulah, teror yang sesungguhnya yang selama ini bersembunyi di Alas Kelam meluap sepenuhnya ke dunia nyata.
Di tengah-tengah keheningan mencekam setelah deru angin mereda di dalam ruangan, sebuah bunyi mendadak terdengar dari arah tengah ruang tamu, tepat di area kosong di antara tumpukan kasur tempat keluarga kami tidur berdesakan.