Kepanikan di dalam ruang tamu yang mampat ini menjelma menjadi sebentuk kekacauan yang bising dan tak teratur. Paman-pamanku, dengan napas yang memburu dan sumpah serapah yang tertahan di balik gigi, masih sibuk menggedor-gedor pinggiran kusen pintu yang jebol. Mereka mencoba menahan daun pintu itu dengan tumpukan lemari pajangan kecil dan palang kayu seadanya, berharap badai angin Majalengka yang masih menderu di luar pekarangan tidak merangsek masuk untuk kedua kalinya. Namun, semua kesibukan fisik itu terasa sangat berjarak dan hampa di mataku. Sorotan-sorotan lampu senter dari ponsel para kerabat bergerak liar, memotong kepekatan udara bagai bilah-bilah pedang putih yang cemas, menciptakan distorsi bayangan manusia yang berkejaran di langit-langit semen. Rumah ini tidak lagi terasa seperti tempat tinggal; ia telah bermutasi menjadi sebuah ruang tunggu pengeksekusian yang pengap.
Tanganku yang sedari tadi bersandar di saku celana jeans lusuh perlahan terjulur keluar. Aku merasakan jemariku menyentuh permukaan silinder logam dingin dari senter baterai besar milik almarhum ayah yang sempat kuambil dari meja dapur sore tadi. Dengan satu sentakan ibu jari yang gemetar, aku mendorong sakelar plastiknya ke depan. Seberkas cahaya putih yang tajam dan pekat melesat keluar, membelah kabut embun tipis yang masih mengambang di sudut-sudut ruangan yang tidak terjangkau oleh kerumunan manusia.
Aku tidak mengarahkan cahaya itu ke arah pintu yang jebol, tidak pula ke arah kerumunan saudaraku yang masih saling berbisik histeris memegangi buku doa mereka. Instingku, atau mungkin sisa-sisa kewarasanku yang telah terkontaminasi oleh kemunculan Alas Kelam, menuntun lenganku untuk bergerak secara mandiri. Aku mengayunkan moncong senter itu perlahan, menggeser sorotannya menyusuri dinding ruang tamu sebelah barat—sebuah permukaan tembok putih yang luas, tempat foto keluarga kami yang berbingkai kayu besar tergantung dengan posisi yang sedikit miring akibat guncangan angin tadi.
Pada detik pertama cahaya senterku menghantam permukaan tembok, bulu kuduk di sekujur tubuhku berdiri tegak dengan rasa ngeri yang membuat seluruh persendianku mendadak mati rasa.
Di sana, tepat di bawah bayangan bingkai foto ayah yang tampak sunyi, ada sebuah anomali visual yang teramat solid. Cahaya senterku tidak memantulkan bayangan perabotan rumah atau siluet tubuh manusia yang sedang bergerak di ruang tamu. Tembok putih itu telah menjelma menjadi layar siluet dari sebuah panggung penyiksaan yang teramat keji.
Aku melihat bayangan dua sosok makhluk berukuran tinggi besar sedang berdiri dengan angkuh. Bentuk tubuh mereka sangat distorsi dan mengerikan; bagian kepalanya menyerupai campuran ikan hiu dengan sisik-sisik menonjol yang tampak jelas kelokannya, memiliki kumis-kumis panjang yang menjuntai layaknya ikan lele, serta sirip-sirip lebar di bagian punggung yang bergerak-gerak statis serupa jilatan api. Dua makhluk berkepala ikan raksasa itu berdiri di atas sepasang kaki yang terlihat sangat kecil dan kurus, menciptakan kontras proporsi yang menjijikkan di atas permukaan semen. Mereka adalah dua algojo yang sama dengan yang kulihat pada malam pertama di lapangan luas Alas Kelam. Makhluk yang berdiri angkuh di depan mataku saat aku pertama kali membuka mata di dalam neraka impian itu.