Ketika matahari pagi hari kedelapan akhirnya terbit di ufuk timur Majalengka, kehangatannya tidak sedikit pun sanggup mengikis hawa dingin yang telah membatu di dalam dadaku. Sinar fajar yang pucat menembus sisa-sisa kabut November yang perlahan mulai terangkat dari permukaan tanah, menelanjangi sisa kekacauan malam terakhir di rumah kami. Pintu depan yang jebol semalam telah dipasangi balok kayu melintang sebagai penahan darurat, sementara para kerabat yang kelelahan tampak tertidur dalam posisi tak beraturan di ruang tamu, bagai prajurit yang kalah perang melawan teror tak kasat mata. Namun, ketenangan semu pascabadaiah itu tidak bertahan lama. Tepat saat jam dinding berdentang menunjukkan pukul enam pagi, sebuah kegaduhan baru pecah dari arah pekarangan depan, memutus sunyi dengan jeritan-jeritan kaget dari beberapa tetangga yang hendak pergi ke ladang.
Aku menegakkan tubuhku yang kaku setelah semalaman meringkuk di sudut kamar, melangkah dengan sisa-sisa tenaga menuju pintu depan. Begitu aku melompati balok kayu palang pintu dan menjejakkan kaki di teras, pemandangan yang tersaji di bawah siraman cahaya pagi langsung membuat lambungku bergolak hebat.
Halaman rumah kami yang biasanya tertutup rumput teki hijau kini telah menjelma menjadi sebuah hamparan hitam yang menjijikkan.
Ratusan, atau mungkin ribuan, bangkai kalajengking hitam berukuran raksasa—masing-masing sebesar telapak tangan orang dewasa—tergeletak berserakan memenuhi setiap jengkal tanah gembur di pekarangan. Serangga-serangga purba itu mati dalam berbagai posisi yang distorsi; sebagian besar dengan ekor bersengat yang melungker kaku ke atas, sementara kaki-kaki legam mereka mencengkeram udara kosong dalam sisa-sisa penderitaan sebelum ajal. Bau anyir yang pekat berpadu dengan aroma belerang dan tanah basah menguap dari tumpukan bangkai itu, menciptakan udara pengap yang langsung menyumbat rongga dadaku. Beberapa ekor kalajengking bahkan tampak masih mengeluarkan cairan kental berwarna merah kehitaman dari sela-sela karapas mereka yang pecah, merembes ke dalam tanah halaman rumah seolah-olah tanah ini baru saja menelan sisa-sisa muntahan dari perut bumi.
Dalam hitungan jam, halaman rumah kami berubah menjadi pusat tontonan. Penduduk desa Majalengka berbondong-bondong datang, berkerumun di balik pagar bambu yang membatasi pekarangan. Mereka berdiri mematung dengan mata terbelalak, saling berbisik dengan nada suara yang bergetar antara ngeri dan geram.
Aku berdiri di undakan teras, melipat kedua tanganku di depan dada sambil mendengarkan komentar-komentar yang saling bersahutan di antara kerumunan itu. Di barisan paling depan, seorang tetua kampung yang dihormati tampak menggeleng-gelengkan kepalanya dengan raut wajah penuh keprihatinan yang mendalam. Ia menyentuh pundak salah satu pamanku sambil berucap dengan nada suara yang sengaja dikeraskan agar didengar oleh semua orang, mengatakan bahwa ini tidak salah lagi adalah kiriman sihir hitam tingkat tinggi. Ini adalah santet dari orang-orang jahat yang iri dan dengki terhadap kesucian serta kemuliaan almarhum ayahku semasa hidup. Mereka mengira ada dukun dari luar daerah yang sengaja mengirimkan sekawanan hewan terkutuk ini untuk merusak nama baik keluarga seorang pemuka agama yang baru saja berpulang ke rahmatullah.