Hari-hari setelah ritual tujuh hari kematian itu berlalu bagai lembaran kain kafan yang kusam. Penduduk desa Majalengka perlahan-lahan kembali ke rutinitas mereka, mengubur ribuan bangkai kalajengking hitam di pekarangan rumahku dalam sebuah upacara pembakaran massal yang mereka sebut sebagai ritual tolak bala. Mereka kembali ke sawah, kembali ke pasar, dan kembali memuja nama almarhum ayahku sebagai wali suci yang berhasil melewati ujian sihir hitam. Kehidupan di luar sana tampak normal, namun di dalam kepalaku, waktu telah mandek sejak malam terakhir itu. Aku berjalan di antara mereka sebagai sebuah cangkang kosong, seorang pria yang kewarasannya telah disita sepenuhnya oleh Alas Kelam. Setiap sudut rumah, setiap jengkal tanah gembur di halaman, seolah-olah masih memancarkan bau amis darah dan lendir hangat yang tidak kasat mata oleh indra orang lain.
Pukul dua siang, seminggu setelah ritual itu selesai. Matahari November menggantung terik di atas langit, memancarkan hawa panas yang menyengat permukaan aspal jalanan kampung yang sepi. Aku terpaksa berjalan keluar rumah untuk membeli beberapa kebutuhan dapur yang diminta oleh ibu. Tubuhku bergerak secara mekanis, melangkah menyusuri jalan setapak yang membelah deretan pohon bambu. Lingkungan sekitar begitu sunyi, hanya diinterupsi oleh suara tonggeret yang bersahutan di sela-sela daun, menciptakan tempo yang monoton yang justru membuat rasa pening di pelipisku kian berdenyut keras.
Langkah kakiku melambat ketika aku mulai mendekati bangunan masjid desa—sebuah struktur bangunan beton megah dengan kubah hijau yang berdiri kokoh di ujung persimpangan jalan. Masjid ini adalah panggung utama kejayaan ayahku semasa hidup. Di sinilah ia menanamkan pengaruhnya, melempar tutur kata penyejuk yang membius ribuan jamaah, dan membangun tembok delusi kesempurnaannya yang mustahil kulampaui. Biasanya, pada jam-jam seperti ini, masjid akan berada dalam keadaan kosong dan terkunci, menyisakan ruang luas yang sejuk dan sunyi di dalamnya.
Namun, begitu jarakku hanya tersisa beberapa meter dari pintu gerbang samping masjid, sebuah gelombang suara mendadak memotong sunyinya siang.
Aku menghentikan langkahku seketika di atas tanah berdebu. Telingaku menegang, menangkap sebuah resonansi audio yang teramat tidak asing yang keluar dari pengeras suara menara masjid yang bergema parau.
Itu adalah suara ayahku.
Suara itu terdengar begitu solid, jernih, dan berwibawa, persis seperti rekaman khotbah-khotbah jumatnya yang biasa membuat para tetua kampung menitikkan air mata takzim. Nada bicaranya tertata dengan sangat rapi, mengalun penuh kharisma yang mendominasi udara siang yang terik. Dari posisiku berdiri, aku bisa mendengar setiap artikulasi kalimat ceramahnya yang sedang membahas tentang konsep keikhlasan, tentang bagaimana seorang hamba harus menjaga kesucian dirinya dari segala bentuk noda duniawi agar bisa memesan tempat terbaik di dalam surga.
Mendengar bait-bait kalimat yang suci itu keluar dari vokal seorang pria yang kukenang sebagai pesakitan neraka, seluruh otot di tubuhku mendadak mengencang kaku. Rasa mual yang teramat sangat kembali merubung pangkal kerongkonganku. Itu adalah suara dari pria yang sama yang kuharap telah musnah dari dunia ini. Mengapa pengeras suara masjid ini memutar kembali ceramah lawasnya di siang bolong seperti ini. Apakah paman-pamanku yang sengaja memutarnya melalui pemutar kaset di ruang takmir demi mengenang jasanya.