Hawa panas yang menyengat dari dalam pori-pori kulitku bukan berasal dari terik matahari Majalengka yang membakar aspal siang itu. Rasa membara itu datang dari dalam, merayap dari sela-sela pembuluh darah, dan berpusat di sepanjang lengan kiriku seolah-olah ada bara api tak kasat mata yang sengaja ditempelkan di sana. Aku melangkah tergesa-gesa memasuki kamar, menutup pintunya dengan sentakan pelan, lalu segera mengunci selot besinya dua kali. Kamar ini kembali menjadi sangkar isolasi, satu-satunya tempat di mana aku bisa menelanjangi ketakutanku tanpa perlu memakai topeng kewarasan di depan ibu dan adikku.
Aku menyandarkan punggungku pada daun pintu kayu, menarik napas dalam-dalam untuk meredakan denyut pening di pelipis yang kian merajam otak. Perlahan, dengan tangan kanan yang gemetar hebat, aku menggulung lengan kemeja kain panjang yang kupakai ke atas.
Detik itu juga, seluruh pasokan udara di dalam paru-paruku seolah terhenti.
Kulit lengan kiriku, mulai dari pergelangan tangan hingga mendekati siku, telah bermutasi menjadi sebuah pemandangan yang teramat biadab. Permukaan kulit yang semula mulus kini dipenuhi oleh puluhan bintil dan gelembung besar yang melepuh, membengkak, dan terisi oleh cairan kental berwarna kuning kehijauan. Beberapa gelembung yang berukuran paling besar tampak sudah pecah, merembeskan cairan nanah berlendir yang bercampur dengan guratan darah tipis yang mulai mengering. Jaringan daging di sekitarnya berubah warna menjadi merah meradang, membengkak kaku seolah-olah baru saja disiram oleh minyak mendidih atau semburan bisa racun yang korosif.
Bersamaan dengan runtuhnya pertahanan penglihatanku, sebuah aroma yang teramat kukenal langsung menguar pekat memenuhi ruang kamar yang sempit. Itu adalah aroma pembusukan organik yang bercampur dengan uap anyir nanah hangat—bau yang sama dengan yang kuhirup saat melintasi sungai penderitaan di Alas Kelam. Bau ini adalah bau yang beberapa hari lalu membuatku muntah-muntah di dapur, dan malam kemarin merembes dari mulut keran kamar mandi. Kebusukan itu kini tidak lagi sekadar menempel di udara atau berwujud dalam bentuk bayangan di dinding; ia telah berhasil menembus batasan ragaku, memakan dagingku sendiri dari dalam sebagai bentuk klaim fisik yang nyata.