Alas Kelam

Langit Berawan
Chapter #12

BAB 12: PERINGATAN DARI TETUA DESA

Rencana membongkar liang lahat yang sudah kupahat rapat-rapat di dalam kepala sejak sore itu terpaksa tertahan. Tepat ketika semburat merah matahari November tenggelam sepenuhnya di balik bayangan perbukitan Majalengka, sebuah ketukan perlahan terdengar dari arah pintu dapur belakang. Ketukan itu tidak ritmis, melainkan berupa tiga kali pukulan pendek yang ragu-ragu, seolah-olah siapa pun yang berdiri di luar sana sedang mati-matian menyembunyikan keberadaannya dari pendengaran orang-orang di ruang depan. Aku yang sedang mengancingkan manset kemeja panjang untuk menutupi balutan kain kassa di lengan kiriku segera berjingkat tanpa suara, melangkah melewati meja makan kayu tua, lalu membuka selot pintu kayu dapur dengan perlahan.

Sesosok tubuh ringkih yang dibalut kain sarung tenun lusuh dan ikat kepala khas Sunda tampak berdiri mematung di balik bayangan pohon mangga pekarangan belakang.

Itu adalah Aki Sobar.

Jantungku berdegup dengan debaran yang tidak beraturan saat mengenali wajah keriput pria tua tersebut. Aki Sobar adalah tetua adat sekaligus juru kunci makam tua Majalengka yang paling dihormati oleh seluruh generasi di desa ini. Pria yang usianya dispekulasikan telah melewati angka sembilan puluh tahun itu sangat jarang keluar dari gubuknya setelah magrib, apalagi mendatangi rumah penduduk secara sembunyi-sembunyi melalui pintu belakang yang sunyi. Sepasang mata tuanya yang mulai memutih oleh katarak tampak bergerak liar, menyisir kegelapan halaman sebelum akhirnya terkunci lurus pada sepasang mataku dengan pancaran kecemasan yang teramat pekat.

Aki Sobar tidak melangkah masuk ke dalam dapur. Ia hanya memajukan tubuhnya yang membungkuk beberapa senti melewati ambang pintu, mencengkeram lengan kanan kemejaku dengan jarinya yang kurus dan sedingin es, lalu mulai membisikkan kalimat dengan nada suara yang sangat lirih, hampir menyerupai desis angin malam yang menyelinap di antara sela-sela rumpun bambu.

Jajang, dengarkan aki baik-baik. Jangan potong kalimat aki sebelum selesai, karena aki tidak punya banyak waktu sebelum mereka menyadari keberadaan aki di sini.

Suara Aki Sobar bergetar dengan getaran suara yang aneh, sebuah getaran parau yang langsung mengirimkan sinyal ngeri ke sepanjang tulang belakangku. Aku hanya bisa menganggukkan kepala kaku, memaku posisiku di tempat berdiri sambil menahan napas. Bau tanah basah dan sisa kemenyan samar menguar dari pakaian tua sang juru kunci, berbaur dengan sisa aroma busuk nanah yang masih merembes pelan dari balik balutan kassa di lengan kiriku yang tersembunyi.

Lihat selengkapnya