Alas Kelam

Langit Berawan
Chapter #13

BAB 13: ILUSI SUNGAI DARAH

Malam jumat merangkak naik dengan keheningan yang teramat mencekam, menyebarkan aroma tanah basah pascahujan November yang menguap lambat di sepanjang jalanan Majalengka. Aku melangkah keluar dari pekarangan rumah melalui pintu dapur belakang, memanggul sebilah cangkul besi tua di atas pundak kananku yang terasa kaku. Kemeja panjang sengaja kukancingkan rapat-rapat hingga ke batas pergelangan tangan, membungkus rahasia borok melepuh di lengan kiriku yang malam ini denyut nyerinya kian mengganas, seolah ikut menghitung ritme detak jantungku yang berpacu panik. Rencanaku untuk mendatangi pemakaman desa dan membongkar liang lahat sang penipu sudah bulat; tidak ada lagi ruang untuk negosiasi atau pelarian pasif di dalam kamar yang gelap.

Namun, untuk mencapai area pemakaman yang terletak di perbatasan bukit, aku harus berjalan menyusuri jalan setapak yang membentang tepat di sepanjang pinggiran sungai desa—sebuah aliran air alami yang biasanya menjadi urat nadi kehidupan bagi pertanian warga Majalengka.

Pukul sebelas malam lewat sedikit. Udara malam terasa begitu dingin, menggigit pori-pori kulit wajahku dengan embun tipis yang menggantung rendah di atas permukaan tanah. Suara gemercik air sungai yang menghantam bebatuan cadas lamat-lamat mulai terdengar, berpadu dengan gesekan daun bambu yang saling bersinggungan ditiup angin, menciptakan simfoni sunyi yang justru kian menekan mental pribadiku. Aku mempercepat langkah kaki, menyeret sandal jepitku di atas tanah berbatu, berusaha keras mengabaikan bisikan-bisikan aneh yang rasanya mulai menempel di tengkukku sejak aku melompati pagar belakang rumah.

Begitu sepasang kakiku tiba di jembatan beton kecil yang melintasi aliran sungai, indra penciumanku mendadak disergap oleh seonggok aroma yang teramat busuk dan memuakkan.

Itu bukan bau lumpur sungai atau aroma apak air sawah yang biasa. Dalam satu kedipan mata, bau amis darah segar bercampur uap hangat nanah busuk langsung meledak memenuhi seluruh rongga hidungku tanpa aba-aba. Udara di sekitarku mendadak berubah menjadi sangat pengap, tebal, dan lengket, meniru persis atmosfer jahanam yang kurasakan saat melintasi koridor penyiksaan di Alas Kelam dalam mimpiku pada malam pertama.

Aku menghentikan langkah kaki di tengah jembatan, mencengkeram pegangan besi yang berkarat dengan tangan kanan yang bergetar hebat. Mataku dipaksa untuk menatap lurus ke arah bawah, ke arah aliran air sungai yang membentang luas di bawah pendaran cahaya rembulan yang temaram.

Dan di sanalah, seluruh benteng logikaku yang tersisa hancur menjadi serpihan tak berarti.

Lihat selengkapnya