Alas Kelam

Langit Berawan
Chapter #14

BAB 14: JERITAN DI JAM SATU PAGI

Jalur pendakian malam menuju pemakaman desa terpaksa kuurungkan di tengah jalan, terputus oleh sepotong firasat buruk yang mendadak menghantam dadaku seperti hantaman palu besi. Rasa nyeri di lengan kiriku, yang terbungkus rapi di balik kain kassa dan kemeja merah marun, tiba-tiba berdenyut dengan getaran yang sangat tidak wajar; gelembung-gelembung melepuh di sana terasa bagai mendidih, meletupkan rasa terbakar yang teramat hebat hingga memaksa sepasang kakiku berbalik arah secara mandiri. Ada insting aneh yang berbisik di dalam kepalaku bahwa pusat gempa teror malam jumat ini bukanlah berada di bukit makam yang sunyi, melainkan telah bergeser kembali, merayap pulang menembus tanah pondasi dan mengunci rumah yang baru saja kutinggalkan. Aku berlari memotong jalan setapak, mengabaikan cangkul besi yang terlepas dan terlempar ke dalam semak bambu, membiarkan sandal jepitku putus saat aku melompati pagar dapur belakang dengan napas yang memburu liar penuh kepanikan.

Aku berhasil menyelinap masuk kembali ke dalam kamarku lewat jendela samping yang sengaja tak kukunci rapat, tepat ketika jam dinding digital kecil di atas meja menyalakan angka merahnya yang membara.

Pukul satu pagi.

Detik yang sama ketika rentetan angka merah itu mengunci waktu, sebuah keheningan yang teramat pekat mendadak melumpuhkan seluruh suasana di dalam rumah tua ini. Desau angin Majalengka yang tadinya menderu di luar jendela seketika padam, menyisakan ruang hampa udara yang dingin, pengap, dan sarat akan muatan bau anyir yang menindih pori-pori kulit. Saraf-saraf di sekujur tubuhku menegang kaku, bersiap menghadapi wujud kebiadaban penglihatan atau pendengaran berikutnya yang akan dilepaskan oleh Alas Kelam. Dan dari balik sekat tembok kamar yang membatasi ruang tengah, keheningan mutlak itu pecah berantakan oleh sebuah hantaman getaran langsung yang luar biasa besar.

BUMMM... BUMMM... BUMMM...

Itu bukan suara ketukan pintu depan, bukan pula bunyi tikus yang berlarian di atas plafon kayu. Suara itu meledak tepat dari arah bawah lantai ubin ruang tamu, sebuah hantaman benda padat berkekuatan maha besar yang menghantam permukaan semen pondasi dari arah dalam perut bumi. Getarannya begitu kuat hingga getaran langsung itu merayap naik menembus kaki-kaki kasur, menggoyang bingkai foto keluarga di dinding, dan membuat ubin-ubin keramik di bawah kakiku terasa bergetar hebat seolah-olah ada gempa tektonik kecil yang sedang berpusat tepat di bawah rumah kami.

Lihat selengkapnya