Ketika jeritan panik keluargaku dan gema suara lindasan batu raksasa dari bawah ubin lantai ruang tamu perlahan mulai mereda seiring merambatnya waktu menuju pukul tiga pagi, rumah tua ini kembali dijatuhkan ke dalam kesunyian yang mencekam. Ibu dan adik perempuanku akhirnya tertidur karena kelelahan mental yang luar biasa, meringkuk dengan tubuh yang masih gemetar di atas sisa-sisa kasur palembang yang acak-acakan. Paman-pamanku juga telah memadamkan senter mereka, bersandar pada dinding semen dengan napas yang berat, pasrah pada ketidakberdayaan logika mereka yang mampat. Namun bagiku, Jajang Rusdiana, meredanya suara siksaan itu justru menjadi sebuah jeda takdir yang menuntut aksi nyata. Rasa terbakar yang kian mengganas di sepanjang balutan kain kassa lengan kiriku memberikan sebuah kepastian mutlak; rahasia busuk milik ayahku harus segera kubongkar dari dalam rumah ini sebelum seluruh daging di tubuhku melepuh menjadi nanah abadi.
Didorong oleh keberanian yang dingin, aku melangkah berjingkat meninggalkan lorong tengah, bergerak menuju kamar pribadi almarhum ayah yang terletak di sudut depan bangunan. Kamar itu telah dikunci mati sejak hari pertama jasadnya diturunkan ke dalam liang lahat, dianggap suci dan haram dimasuki oleh ibu karena mereka percaya roh ayah sering menetap di sana untuk beristirahat.
Aku mengeluarkan seutas kawat besi tipis yang sempat kuambil dari kotak perkakas dapur sore tadi. Dengan jari tangan kanan yang gemetar namun penuh determinasi, aku memasukkan ujung kawat itu ke dalam lubang selot pintu kayu yang kuno. Bunyi klik kecil terdengar parau setelah beberapa kali putaran paksa, disusul oleh berderitnya engsel pintu yang terbuka perlahan, mengizinkanku untuk menembus masuk ke dalam ruang privasi sang penipu ulung.
Hawa di dalam kamar ayah terasa sangat pengap, dingin, dan dipenuhi oleh aroma minyak kesturi yang pekat, sebuah wewangian maskulin yang selama berpuluh-puluh tahun berhasil membius hidung penduduk desa Majalengka agar percaya pada kesuciannya. Cahaya rembulan November yang menembus celah gorden jendela memantulkan bayangan sebuah lemari kayu jati besar berkunci yang berdiri angkuh di sudut ruangan. Lemari itu adalah area yang paling sakral; semasa hidupnya, ayah melarang keras siapa pun, termasuk ibu, untuk mendekati atau membuka pintu lemari tersebut.
Menggunakan kawat besi yang sama, aku menghabiskan waktu belasan menit dalam kegelapan untuk merusak sistem kunci lemari jati itu. Ketika pintu kayu tebal itu akhirnya terbuka dengan derit panjang yang menyayat sunyi, sorotan mata tuaku langsung mengunci pada sebuah objek yang terletak di rak paling bawah, tersembunyi di balik tumpukan kain sarung tenun dan jajaran kitab-kitab agama kuno.
Itu adalah sebuah kotak kayu jati tua berukuran sedang dengan ukiran sulur tanaman yang rumit di sepanjang permukaannya.
Aku mengangkat kotak kayu itu keluar dengan kedua tanganku, meraba permukaannya yang berdebu tebal sewarna es krim cokelat tua. Tanpa menunggu lama, aku membuka selot kuningan kotak tersebut. Di dalam rongga kotak yang berlapis kain beludru hitam yang telah lapuk dimakan usia, bersemayam sebuah objek tunggal yang seketika membuat seluruh pasokan udara di dalam paru-paruku seolah terhenti.
Sebuah topeng kayu.