Langkah kakiku yang hendak melompati ambang pintu dapur belakang terhenti seketika, tertahan oleh sebuah interupsi yang sama sekali tidak masuk ke dalam kalkulasi rencanaku malam ini. Aku baru saja membungkus topeng kayu berdarah itu dengan selembar kain mori bekas dan menyelipkannya erat-erat di balik sabuk celana jins lusuhku, bersiap menerobos sisa malam jumat yang kian mendingin. Namun, sebelum jariku sempat menyentuh gagang cangkul besi yang kembali kuambil dari pekarangan, sesosok bayangan manusia melangkah tergesa-gesa dari arah lorong samping ruang tamu, memotong jalanku dengan langkah yang goyah dan napas yang memburu parau.
Itu adalah Paman tumpuan keluarga kami, adik kandung persis di bawah almarhum ayahku.
Aku terpaku di tempatku berdiri, menatap figur pria paruh baya yang biasanya selalu tampil tenang, rasional, dan paling keras menyuarakan puji-pujian tentang kesucian ayah di depan para tetangga Majalengka. Namun, malam ini, wibawa yang biasa ia pamerkan telah runtuh total, menguap tanpa bekas di bawah siraman pendar lampu minyak dapur yang temaram. Wajah Paman tampak pucat pasi, sewarna dengan lembaran kain kafan kusam yang seminggu lalu membungkus jasad kakaknya. Sepasang matanya yang cekung dikelilingi kantung mata hitam yang tebal, memancarkan kilat ketakutan primitif yang begitu mampat hingga membuat rahangnya bergetar kaku saat menatap sepasang mataku.
Ia tidak mengucapkan salam. Paman langsung mencengkeram kedua bahuku dengan sepasang telapak tangannya yang terasa sangat dingin, sedingin es kutub yang membekukan aliran darahku. Gerakannya begitu mendesak, menyeret tubuhku perlahan mundur ke sudut teras belakang yang gelap, jauh dari jangkauan pendengaran ibu dan adikku yang masih terlelap di ruang tengah.
Jajang, mamang tidak bisa menahannya lagi. Mamang harus mengatakannya kepadamu sekarang juga sebelum kepalaku benar-benar pecah oleh kegilaan ini.
Suara Paman meluncur sebagai sebuah bisikan yang teramat lirih, parau, dan bergetar dengan getaran yang sangat rendah, hampir menyerupai desisan ular yang selama berhari-hari merajam pusat saraf pendengaranku. Aku hanya bisa membisu, memaku posisiku di atas lantai semen yang lembap sambil mengeratkan cengkeraman tangan kananku pada kemeja merah marun, menyembunyikan denyut nyeri berbau nanah dari luka melepuh di lengan kiriku. pikiran di dalam batinku mendadak bergolak hebat; sebuah kesadaran baru mulai merayap naik, memberi tahu jiwaku bahwa tabir kepalsuan yang dibangun ayahku kini tidak hanya sedang meremukkan kewarasanku seorang.