Rencana perjalananku menuju bukit pemakaman desa kembali dipukul mundur oleh sebuah pembalikan realitas yang teramat ekstrem dan di luar jangkauan nalar sehat manusia. Aku baru saja melangkah beberapa meter melewati batas pagar bambu pekarangan belakang ketika sebuah keanehan cuaca menghantam seluruh permukaan kulit ariku. Di luar sana, di bawah langit Majalengka yang pekat tanpa bintang, cuaca mendadak berubah menjadi sangat gersang, kering, dan memancarkan hawa panas yang menyengat seolah-olah matahari siang bolong sengaja dipindahkan tepat di atas ubun-ubun kepala. Namun, begitu sepasang kakiku terpaksa melangkah mundur kembali dan melewati ambang pintu dapur, suhu di dalam interior rumah tua ini justru merosot tajam, anjlok drastis dalam hitungan detik hingga mencapai titik yang membekukan seluruh sumsum tulang belakangku.
Kontras suhu yang biadab ini menciptakan kabut uap putih yang tebal dari setiap helahan napas yang keluar dari mulutku. Di dalam rumah, hawa dingin menggigit bagai es yang mengkristal di atas permukaan ubin, sementara dari celah lubang angin di bagian atas dinding semen, hawa panas pekarangan luar tampak bergolak serupa distorsi udara di atas aspal yang terbakar. Rumah kami telah diisolasi sepenuhnya dari hukum semesta alam; ia telah diubah menjadi sebuah sangkar inkubasi yang siap menampung eksekusi akhir dari Alas Kelam. Rasa membara di sepanjang balutan kain kassa lengan kiriku kian berdenyut liar, meletupkan rasa nyeri yang berpadu dengan kebasnya saraf-saraf tangan akibat suhu yang kian membeku.
Aku melangkah dengan tubuh menggigil kaku menuju ruang tengah, tempat seluruh anggota keluargaku kini telah terjaga serempak akibat perubahan iklim yang teramat meneror ini. Di bawah pendaran cahaya biru televisi yang berkedip-kedip nirdari, kepanikan massal telah mencapai tingkat tertinggi dari ekspresi ketakutan primitif manusia. Paman yang baru saja masuk dari pintu belakang langsung menjatuhkan raga tuanya bersimpuh di tengah ruangan, bergabung dengan kerumunan ibu, adik perempuan, bibi, dan para sepupu jauh yang malam itu telah kehilangan seluruh sisa harga diri mereka sebagai makhluk bernyawa.
Mereka semua berkumpul mampat di pusat ruang tamu, saling menempelkan punggung dan memeluk lutut erat-erat di atas tikar plastik yang kini telah dilapisi oleh lapisan embun es tipis yang licin. Tangisan histeris para perempuan terdengar parau dan melengking sumbang, berbaur dengan isak tangis anak-anak kecil yang ketakutan melihat uap putih keluar dari hidung mereka sendiri di dalam rumah yang tertutup rapat. Tangan-tangan mereka yang gemetar hebat tampak mencengkeram kain sajadah panjang dan buku-buku yasin berwajah hijau dengan cengkeraman yang teramat erat, seolah-olah jalinan benang kain dan lembaran kertas doa itu adalah satu-satunya pelampung terakhir yang bisa menyelamatkan nyawa mereka dari kepungan air bah jahanam.
Namun, doa-doa yang keluar dari bibir ibu yang kering pecah-pecah tidak lagi terdengar sebagai bait permohonan yang agung; untaian kalimat suci itu meluncur cepat, repetitif (berulang), dan bergetar parau, bertransformasi menjadi sebuah mantra ketakutan yang bebal di tengah-tengah hantaman suara baru yang mulai merayap dari balik dinding kayu rumah kami.